Seorang pendeta bersekongkol dengan tiga orang kristen di Nigeria menyerang gereja dengan menyamar sebagai Boko Haram

34

LAGOS (Arrahmah.com) – Muslim Nigeria telah meminta kepada pihak berwenang untuk menangkap dan mengadili seorang pendeta di barat daya negara bagian Osun yang diduga bersekongkol dengan tiga orang Kristen lainnya dengan menyamar sebagai Boko Haram dan menyerang gerejanya sendiri.

Di negara yang telah dirobek oleh ketegangan agama, beberapa serangan yang terjadi selama ini dituduhkan kepada Boko Haram yang mengaku menculik lebih dari 200 anak perempuan baru-baru ini saat mereka berada di sekolah di daerah Chibok negara bagian Borno.

Namun, banyak jari yang menuding bahwa ada sekelompok orang luar yang melakukan serangan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Boko Haram untuk membakar sentimen anti-Muslim di negara Afrika barat.

Tuduhan ini diperkuat oleh bukti setelah tiga orang pria, yang diidentifikasi sebagai Emmanuel Atanda, Peter Oyedepo dan Ogunniyi Babatope, ditangkap 18 Mei lalu oleh pemuda di komunitas itu di wilayah pemerintah lokal Osun.

Ketiganya, menurut saksi mata, telah melemparkan petasan ke dalam gereja pada Ahad (25/5), melukai beberapa anggota jemaat yang berusaha berlari menyelamatkan diri.

Ketiganya telah menyerbu gereja sambil meneriakkan “Allahu Akbar(Allah Maha Besar) dan mengenakan sorban dan lambang yang membuat anggota masyarakat mengira bahwa Boko Haram telah membuat serangan ke wilayah tersebut.

Semua orang takut karena orang-orang ini muncul dengan cara yang sama [seperti Boko Haram] dalam hal pakaian dan tindakannya,” Philip Idoma, seorang pekerja di sebuah peternakan Agatu di komunitas itu mengatakan kepada OnIslam.net.

“Setidaknya tujuh orang terluka. Mereka melemparkan petasan ke dalam gereja ketika layanan sedang berlangsung. Semua orang berlari untuk menyelamatkan diri, tetapi berkat pertolongan Allah mereka dapat ditangkap oleh para pemuda.”

Kami terkejut saat menemukan bahwa mereka adalah anggota gereja. Ini sangat disayangkan karena saya tidak tahu agenda mereka.

Menurut MPAC, Pastor Olatoke merupakan pimpinan lokal dari Christian Association of Nigeria (CAN), kelompok yang sangat berpengaruh bagi orang Kristen di seluruh Nigeria.

MPAC mengatakan bahwa selama diintrogasi oleh para pemuda dari komunitas itu, tiga pria itu mengaku bahwa mereka adalah anggota Gereja Baptis Ikonifin dan serangan itu sudah direncanakan bersama pendeta mereka.”

Saat dinterogasi, pendeta mengaku mensponsori serangan itu tetapi ia menyatakan bahwa itu hanya sebuah drama. Ini tidak logis dan harus dilihat sebagai upaya terencana untuk menimbulkan kekacauan di negara bagian Osun,” kata Kamor.

Marah dengan kejadian itu, MPAC telah meminta kepada pihak keamanan untuk menyelidiki serangan yang ditujukan untuk memicu ketegangan antara kedua komunitas agama di wilayah itu.

Oleh karena ada motif kriminal yang jelas di balik insiden ini dan hasutan dari para aktor untuk melakukan penyerangan sebagai balasan dan kebencian terhadap komunitas Muslim di negara bagian Osun dan sekitarnya, kami mendesak kepada pihak keamanan untuk membantu lembaga penegak hukum lokal dan negara bagian dalam melakukan penyelidikan dan mengajukan tuntutan terhadap mereka,” kata kelompok itu.

Direktur Muslim Rights Concern (MURIC), Prof Ishaq Akintola, sepakat dengan MPAC, dan ia mempertanyakan tentang tidak adanya penyelidikan polisi terhadap kejadian ini.

Akintola mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dilihat oleh OnIslam.net bahwa insiden gereja Ikonifin itu menggambarkan upaya putus asa” mereka untuk menghubungkan Muslim dan Islam dengan “terorisme”.

Di Nigeria, Muslim dan Kristen membentuk 55 dan 40 persen dari 140 juta penduduk negara itu, mereka sebagian besar hidup berdampingan secara damai.

Tapi ketegangan etnis dan agama telah menggelegak selama bertahun-tahun, didorong oleh kebencian antara kelompok penduduk asli, sebagian besar Kristen atau animis, yang berlomba-lomba untuk menguasai lahan pertanian yang subur dengan para migran dan pendatang Muslim dari utara yang berbahasa Hausa.

Juru bicara polisi di negara bagian Osun, Folashade Odoro, tidak menjawab sekian banyak panggilan telepon dan juga SMS yang mempertanyakan insiden tersebut.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.