Brunei memberikan generator listrik bagi Muallaf Tutong

25

BANDAR SERI BEGAWAN (Arrahmah.com) – Empat keluarga Muslim baru menerima hadiah generator baru dari Pusat Dakwah Islam Brunei, Sabtu (17/5/2014).

Keluarga tersebut tinggal di desa-desa terpencil di Tutong yang tidak memiliki akses listrik.

Sumbangan bertujuan untuk meringankan kondisi hidup mereka untuk bulan puasa Ramadhan mendatang.

Asisten Direktur Pusat Dakwah Islam Abd Aziz Hj Abd Kahar mengatakan generator adalah solusi lebih cepat dan hemat biaya daripada memasang kabel listrik.

“Akan membutuhkan lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan instalasi kabel. Itu akan membuat mereka menunggu lebih lama, tapi kami ingin cepat memasok mereka dengan listrik,” tambahnya.

Dia menyarankan penerima untuk menggunakan generator diesel berbahan bakar secara bijaksana agar menekan biaya bahan bakar.

“Tergantung pada penggunaan, dari $10 diesel dapat menghasilkan listrik selama seminggu,” katanya.

Penerima, Nur Salamah Abdullah Puteh mengatakan dia telah hidup tanpa listrik di rumahnya di Kg Rambai sejak tahun 2009. Ia memeluk Islam pada bulan September tahun lalu.

“Saya tinggal dengan adik dari 2007 sampai 2009 setelah almarhum suami saya meninggal pada tahun 2007,” kata petenis berusia 55 tahun itu.

“Karena ada cukup ruang di rumah kakak saya, tadinya putri bungsu saya dan saya harus tinggal di sebuah rumah kecil di Kg Rambai.”

Wanita Dusun lainnya mengatakan ia tinggal bersama almarhum suaminya di Kg Baru, Seria selama sekitar 30 tahun tanpa listrik.

“Putri saya, suami dan cucu saya telah hidup dengan saya tanpa listrik karena kita dipaksa keluar dari rumah kakak saya,” kata Nur Salamah.

Unit Konversi dan Bimbingan menegaskan pada pekan lalu bahwa rumah mereka betul tidak memiliki listrik.

Penerima lain, Nur Rahmuna Abdullah tinggal bersama suaminya di Kg Kebia. Ia menjadi muallaf pada tahun 2001. Dua dari empat anaknya seorang anak perempuan (29) yang bekerja di Jerudong dan anaknya yang belum bekerja (18), juga tinggal bersama mereka.

“Saya dan suami saya tinggal di sebuah gubuk kecil di Kg Kebia tanpa listrik sejak 2011,” kata perempuan Dusun yang lahir pada tahun 1957 itu.

Dia mengatakan pondok itu berdiri pada sebidang tanah atas nama ayahnya.

Sebelum 2011, dia dan suaminya tinggal bersama sepupunya di Kg Batang Mitus. Mereka harus pindah saat anak-anak sepupunya pindah kembali ke rumah.

Sebanyak 213 orang memeluk Islam sejak Januari tahun ini menurut Pusat Dakwah Islam. Tahun lalu 538 orang yang masuk Islam, meningkat dari 469 orang pada tahun 2012.

Mayoritas mualaf Muslim Iban dan Dusun mengalami peningkatan yang stabil. Mereka berasal dari masyarakat Filipina di Brunei. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.