ISIS menciptakan fitnah di kota Karmah Irak, berusaha memonopoli serta mengembargo bahan bakar dan makanan

11

(Arrahmah.com) – Setelah pasukan suku-suku revolusioner bersama kelompok-kelompok pejuang lainnya dan yang paling mencolok adalah Jaisy Mujahidin membebaskan kota Karmah, pasukan rezim Al-Maliki mulai memutus jembatan dan jalur penyeberangan di sungai Tigris yang merupakan satu-satunya jalan keluar dari kota Karmah, tujuan mereka adalah menghentikan pergerakan para revolusioner yang terus merayap menuju ibukota Baghdad, dan mengisolasi kota Karmah dari wilayah-wilayah yang telah dibebaskan lainnya yang berada di seberang sungai Tigris.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa sampai saat ini kota Karmah merupakan salah satu kota kabupaten terbesar di Irak. Di dalamnya terdapat lahan pertanian yang terbentang luas dan diliputi oleh sungai-sungai yang membelah wilayah ini. Sungai terbesar dan terluas di dalamnya adalah sungai pecahan tigris, sungai tersebut membelah wilayah Karmah menjadi dua bagian, yang memanjang dari barat ke timur, sungai ini terletak di sebelah selatan kantor kejaksaan Karmah.

Pasukan Shafawi (rezim Al-Maliki) meledakkan jembatan Raud dan Syihah yang merupakan jalur transportasi dan makanan serta bahan bakar, sehingga tersisa dua jembatan yaitu Nazhim 28 dan Mamsuk dan kini dikuasai oleh satu brigade pasukan gerak cepat dan dibantu oleh pasukan milisi pro rezim dengan jumlah yang besar, begitu juga jembatan Nazim 2 yang terletak di selatan kota Fallujah dan jembatan Mamsuk, keduanya kini dikuasai oleh pasukan musuh.

Pada awalnya para penduduk masih dapat bepergian keluar dari kota Karmah dengan menggunakan perahu, yaitu hanya untuk menyeberangi sungai saja. Namun setelah wilayah ini dibebaskan dari tangan pasukan rezim secara penuh, beberapa orang anggota Jamaah Daulah [Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Irak and Sham (ISIS)] mulai memasuki wilayah ini dan ketika itu jumlahnya sangat sedikit, mereka belum tampil di medan peperangan Karmah, dan interaksi mereka dengan para penduduk dibangun atas dasar bahwa mereka masih merupakan kelompok yang lemah yang membutuhkan kepercayaan dari para penduduk, bahkan ada seseorang dari mereka berkata ketika itu: “Apakah kalian ingin menahan hasil jihad kalian dari membagikannya bersama kami?” Perkataan ini dikatakan oleh seorang anggota mereka di daerah Shabihat, Karmah.

Seiring berjalannya waktu, mereka mulai memasukkan pasukan mereka dengan jumlah yang besar ke dalam kota Karmah karena memanfaatkan kondisinya yang telah aman dari pasukan Al-Maliki. Ketika itu, kelompok-kelompok perlawanan diantaranya yang terdepan adalah Jaisy Mujahidin –mereka adalah kelompok dengan kekuatan terbesar – tengah fokus berkonsentrasi dalam berjaga-jaga di perbatasan dan menghadang serangan musuh secara kontinyu, karena pasukan rezim Al-Maliki pada saat itu berusaha untuk merebut kembali kawasan-kawasan satelit ibukota Baghdad yang memiliki kekayaan alam berlimpah.

Tak sampai satu minggu, musuh melancarkan serangan besar-besaran serentak di tiga wilayah sekaligus, maka suku-suku revolusioner Irak kelompok-kelompok perlawanan lainnya menghadang serangan mereka dan mempersembahkan deretan syuhada yang menuliskan pertempuran yang tak akan kita lupakan tersebut dengan darah mereka. Salah satu pertempuran besar yang menjadi penentu adalah pertempuran yang pecah di wilayah Albu Ubaid antara Jaisy Mujahidin dengan Brigade milisi pro Maliki pimpinan Anwar Kareema. Saking dahsyatnya pertempuran ini, bahkan sampai terjadi kontak senjata secara langsung dengan menggunakan pedang dan senjata tajam lainnya, hingga banyak dari komandan Jaisy Mujahidin yang terbunuh sebagai syuhada [In Syaa Allah] diantaranya adalah Abu Ayyub Al-Maslahi, Sufyan, Aus, Abu Zainab Al-Lahibi dan masih banyak lagi anggota Jaisy Mujahidin lainnya.

Namun pada saat yang sama, orang-orang Jamaah Daulah justru asyik mengumpulkan kekuatan mereka dan mencari basis di wilayah Qadha’ Karmah dan menempatkan peleton mereka di titik yang mengelilingi wilayah tersebut, karena di dalamnya terdapat pasukan mereka dengan jumlah yang besar. Ini merupakan kelalaian kami para suku-suku revolusioner dan kelompok-kelompok perlawanan yang membiarkan mereka mengatur pasukannya di wilayah Qadha’.

Akhir-akhir ini mereka membuat masalah, Al Maslahi – termasuk orang jahat yang berada di Daulah – menurunkan pasukannya selama beberapa minggu dan menguasai jembatan Jaisy Mujahidin yang menjadi milik umum tersebut, kemudian mereka mulai melarang warga untuk melintasinya dengan alasan bahwa ini adalah jembatan khusus untuk para anggota Daulah. Mereka tidak memperbolehkan kelompok-kelompok lain dan para warga untuk menggunakannya. Pernah suatu hari beberapa orang dari Jaisy Mujahidin terkaget-kaget karena ketika mereka hendak melintasi jembatan seperti biasa, dan ketika itu mereka tengah membawa persenjataan yang akan digunakan oleh mujahidin dalam pertempuran melawan pasukan syi’ah, mereka dicegat oleh pasukan Jamaah Daulah dan dilarang untuk melintasinya dengan alasan bahwa jembatan ini adalah milik Daulah.

Maka dengan tujuan menghindari terjadinya fitnah, Jaisy Mujahidin pun membangun sebuah jembatan yang diberi nama jembatan Jaisy Mujahidin dan menempatkan beberapa pasukan untuk menjaga keamanannya. Maka warga pun mulai sering melintasinya baik untuk jalur transportasi seperti biasa maupun sebagai jalur untuk memasok bahan-bahan kebutuhan pokok, bensin dan gas untuk memenuhi permintaan pasar di Qadha’. Akhirnya jembatan ini menjadi satu-satunya penopang geliat ekonomi warga Qadha’.

Namun sudah sebulan terakhir, Al-Maslahi menurunkan pasukannya berseberangan dengan sisi jembatan yang dijaga oleh pasukan Jaisy Mujahidin, mereka melarang para warga untuk memasukkan bensin dan gas ke dalam Qadha’ dan mengatakan kepada setiap orang, “Barangsiapa yang membutuhkan bensin dan gas, maka mereka harus membelinya dari toko-toko milik Daulah yang dapat dijumpai di dalam wilayah Qadha’.”

Akhirnya wargapun melaporkannya kepada pasukan Jaisy Mujahidn yang bertugas menjaga jembatan Jaisy Mujahidin, maka pasukan penjaga jembatan meyakinkan warga bahwa mereka (pasukan Jamaah Daulah) hanya ingin membantu para warga Qadha’ dan mencoba meringankan beban mereka, kemudian pasukan penjaga jembatan tadi berkata kepada para warga: “Kalian harus terus memasok setiap kebutuhan pokok yang dapat meringankan beban warga Qadha’ dan juga harus membantu pendistribusiannya kepada setiap warga yang membutuhkannya dengan membebankan harga yang ringan.”

Namun pagi tadi (Jum’at, 9/5/2014) tiba-tiba pasukan Al-Maslahi mendatangi jembatan Jaisy Mujahidin dan melarang setiap warga yang ingin memasok bensin dan gas berapapun banyaknya. Akan tetapi mereka gagal untuk melarang warga, dan merasa putus asa. Lalu mereka mendatangi pasukan Jaisy Mujahidin yang menjaga jembatan dan meminta agar tidak memperkenankan setiap warga untuk memasok bensin dan gas ke dalam wilayah Qadha’. Maka pasukan Jaisy Mujahidin menanyakan alasannya dan mereka menjawab, “Ini adalah perintah langsung dari Abu Ts*** , penanggung jawab militer Daulah”. Lalu mulailah terjadi perdebatan, Jaisy Mujahidin berdalih bahwa jembatan ini terbuka untuk umum dan siapapun orangnya, mereka tidak memiliki hak untuk melarang warga untuk memasukkan kebutuhan pokok mereka ke dalam wilayah Qadha’.

Kemudian mereka semua berkata: “Kalau begitu kami akan mencegah masuknya bensin dan gas melalui jembatan ini dengan cara kekerasan”, sambil mengarahkan senjata mereka kepada para pasukan Jaisy Mujahidin penjaga jembatan. Kemudian mereka melanjutkan, “Siapa saja yang ingin makan, minum dan membeli bahan bakar, maka mereka harus pergi menuju toko milik Daulah di Karmah dan membeli dari sana.”

Maka saat itu juga kepala penjaga jembatan Jaisy Mujahidin menghubungi pimpinan Jaisy Mujahidin di Qadha’ yang langsung mengirimkan pasukan penjaga tambahan, namun setelah tinggal berjarak 2 KM menuju jembatan, Al-Maslahi bersama pasukannya memilih meninggalkan jembatan setelah diberitahu oleh pos pemeriksaan Daulah yang dilewati oleh pasukan Jaisy Mujahidin. Setelah itu pimpinan Jamaah Daulah mulai memasang kawat berduri dan pembatas di sebuah ruas jalan di depan kantor polisi Karmah yang lama yang kini menjadi pos pemeriksaan mereka. Mereka juga mendatangkan pasukannya dari wilayah Sijr dan menempatkan mereka di atas bangunan-bangunan di area itu sebagai penembak jitu dengan tujuan melancarkan penyergapan terhadap konvoi pasukan bantuan Jaisy Mujahidin.

Akan tetapi warga tidak tinggal diam, mereka melaporkan kepada pasukan Jaisy Mujahidin bahwa pasukan Jamaah Daulah tengah mengatur penyergapan untuk mereka, maka konvoi pasukan Jaisy Mujahidin memilih berhenti di wilayah Albu Khalifah dan menyiapkan posisi untuk bertahan dari serangan Jamaah Daulah. Bentrokan senjata hampir saja pecah, jika para tetua suku di Karmah tidak turun ke jalan dan menenangkan suasana dan membuka jalan.

Maka bagi siapa saja yang memiliki akal dan menggunakan kecerdasannya pastilah ia bertanya pada dirinya sendiri: “Apa untungnya Jamaah Daulah menghalangi masuknya bahan makanan dan bahan bakar ke dalam wilayah yang tengah dikepung oleh musuh? Apa yang kurang dari pengorbanan para warga? Mereka telah dievakuasi dari kampung halamannya karena selalu dijadikan target serangan militer pasukan Al-Maliki, mereka telah mengungsi ke dalam area kantor kejaksaan dan masih terus dibayangi dengan kematian setiap saat, mereka juga terus bersiaga karena dibayangi dengan bom-bom barel yang setiap saat dijatuhkan oleh pesawat tempur dan meriam-meriam musuh yang setiap saat bisa saja mengenai mereka. Setiap orang dapat menyaksikan berapa banyak bom yang telah dijatuhkan oleh pasukan syi’ah Al-Maliki di seluruh kota Karmah baik ia orang pelosok ataupun orang kota. Maka apa keuntungannya bagi orang-orang yang menahan masuknya bahan makanan dan bahan bakar kepada kaum muslimin yang terkepung tersebut?”

Diterjemahkan oleh :

MUQAWAMAH MEDIA TEAM

@ansaransar20 أبو الخطيب

تنظيم_الدولة_يخلق_فتنة_في_الكرمة #

تنظيم_الدولة_يمنع_إدخال_الوقود_والطعام_إلى_الكرمة #

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.