Serangan bom dan pisau mengguncang stasiun kereta api di Xinjiang

Keamanan ditingkatkan setelah terjadi ledakan di stasiun kereta api di Urumqi. (Foto : AP)
2

URUMQI (Arrahmah.com) – Serangan bom dan pisau terjadi di sebuah stasiun kereta api di wilayah Xinjiang, Cina barat, menewaskan tiga orang dan melukai 79 lainnya, ujar laporan media lokal.

Para penyerang menggunakan bahan peledak dan pisau dalam melancarkan aksinya di stasiun kereta api di selatan Urumqi pada Rabu (30/4/2014), lapor BBC.

Belum jelas siapa yang berada di balik serangan, namun pemerintah Cina mengatakannya sebagai serangan “teroris” (baca : dilakukan oleh Muslim).

Presiden Cina, Xi Jinping yang baru saja mengunjungi wilayah itu telah bersumpah akan meningkatkan upaya “anti-terorisme” di sana.

Presiden Xi mendesak dilakukannya tindakan tegas setelah insiden tersebut, ujar laporan Xinhua.

Memverifikasi laporan dari wilayah tersebut sangat sulit dilakukan, karena arus informasi dari Xinjiang dikontrol ketat oleh otoritas musyrik Cina.

“Sekitar pukul 19.10 pada 30 April, sebuah ledakan terjadi di pintu keluar penumpang di Stasiun Selatan Urumqi ketika kereta K453 dari Chengdu menuju Urumqitiba di stasiun, menyebabkan korban,” ujar portal berita pemerintah daerah Xinjiang.

Foto di media sosial yang tidak bisa diverifikasi secara independen, telah muncul dan memperlihatkan koper dan puing-puing berserakan di jalan setelah ledakan, lansir BBC.

Bagaimanapun, beberapa posting dan foto terkait dengan ledakan telah dihapus dengan cepat dari Sina Weibo, microblog terbesar di cina.

Stasiun tersebut ditutup setelah insiden dan layanan ditangguhkan namun beberapa jam kemudian dibuka kembali.

Luo Fuyong, juru bicara otoritas daerah kepada Reuters mengatakan bahwa situasi “telah terkendali”.

“Yang terluka telah menerima perawatan medis,” ujarnya.

Xinjiang telah menyaksikan ketegangan etnis yang serius dalam beberapa tahun terakhir. Muslim Uighur yang menjadi minoritas dan berjumlah sekitar sembilan juta jiwa, telah lama mengeluhkan penindasan di bawah pemerintah Cina, namun Beijing menyangkal hal tersebut. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.