Tiga syarat bergabung dengan parlemen menurut Syekh Abdullah Azzam

Prof. Dr. Muhammad Natsir Rohimahulloh
74

JAKARTA (Arrahmah.com) – Salah seorang ideolog dan pemerhati gerakan jihad Islam ustadz Abu Rusydan memaparkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang Muslim yang ingin bergabung di Dewan Perwakilan Rakyat atau parlemen. Dirinya mengutip syarat yang dikemukakan oleh Syekh Abdullah Azzam rahimahullah , sebagaimana dilansir dari Kiblat.net. Selasa (8/3/2014).

“Kalau Ustadz Abdullah Azzam rahimahullah mensyaratkan untuk bergabung di dalam parlemen dengan tiga syarat. Satu, dengan niat untuk menentang qonun wad’i, undang-undang bikinan manusia. Adakah hari ini kira-kira? Kemudian yang kedua, yaitu hendaklah dengan niat untuk melindungi dan menolong dakwah Islamiyyah. Kemudian yang ketiga, dia tidak boleh menyetujui atau membubuhkan tanda tangan untuk satu undang-undang atau tatanan yang menyimpang dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adakah hari ini?”

Untuk kasus Indonesia, ustadz Abu Rusydan lantas mencontohkan sososk Perdana Menteri Muhammad Natsir yang istoqomah di jalan dakwah Islam saat memperjuangkannya pada tatanan negara.

“Politisi yang paling sukses sepanjang sejarah Indonesia itu Dr. Muhammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah. Beliau sudah sampai kepada jadi perdana menteri. Orang-orang disekitarnya ada Pak Saf, ada Dr. Sukiman, macam-macam yang berkualitas baik. Kita tahu sendiri Pak Natsir tidak memerlukan dunia ketika memperjuangkan itu. Dunia itu disuguhkan di hadapan mereka, di hadapan Pak Natsir, Pak Sukiman, Pak Saf, tapi mereka menghindari dunia itu. Ya, itu fakta sampai hari ini anak turunnya Pak Natsir juga bukan orang-orang yang kaya.Kita masih punya file-nya, bagaimana debat sengit Pak Natsir dengan Sukarno di konstituante tentang dasar negara. Pak Natsir menyodorkan dengan logika yang bagus sekali, bahwa Islam yang bisa menyelamatkan bangsa Indonesia. Adakah politisi hari ini yang sekaliber beliau ya? Menurut saya tidak ada. Hari ini yang dikejar dua, al maal wa syarof, harta dan kehormatan.

Padahal, ayyuhal ikhwah, Rasul SAW sudah bersabda di dalam satu hadits, silahkan nanti dicek di Shahih Al Jami’ As Shaghir.

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ، وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ “

Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Dua srigala lapar yang dilepaskan pada sekawanan kambing itu tidak lebih merusak daripada ambisi seseorang kepada harta dan kemuliaan sehingga merusak agamanya.” (HR. Ahmad no. 15784 dan 15794, At-Tirmidzi no. 2376, An-Nasai dalam As-Sunan al-Kubra no. 11796, Ad-Darimi no. 2772, Ibnu Hibban no. 3228, Ibnu Abi Syaibah no. 34380, Al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah no. 4054, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, 19/96 no. 189. Hadits shahih)

Jadi kerusakan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang rakus terhadap harta dan kehormatan terhadap dien, terhadap agamanya, itu jauh lebih besar dari pada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala yang kelaparan yang dibiarkan hidup di tengah-tengah kambing.

Kita bisa bayangkan, serigala itu kalau sudah kelaparan ya, kita pernah waktu kita di Afghanistan itu kita pernah punya bangkai kambing. Bangkai, karena sakit kemudian kita kubur. Kita gali sudah di dalam tanah yang agak dalam, kemudian kita kubur. Itu malamnya sudah digali oleh kawanan serigala lapar. Jadi sudah kita kubur, ya digali.

Apalagi sekarang dunia dan kemuliaan itu ditawarkan di nampan emas, ya ditawarkan di nampan emas. Saya membayangkan kalau politisi hari ini menerima tawaran dunia seperti Pak Natsir Allah yarham, saya bayangkan rumit lagi kehidupan ini.”

Akhirnya Ustadz Abu Rusydan menyerukan agar para tokoh Islam penganjur demokrasi agar segera bertaubat kepada Allah Ta’ala.

“Jadi sebaiknya para tokoh Islam, yang menganjurkan siapapun untuk terlibat pada kegiatan demokrasi itu sebaiknya istighfar, bertaubat dan jangan lagi mengulangi perbuatannya. Itu nasihat yang paling baik,” serunya.

“Tapi sekali lagi, kita tidak mengkafirkan kecuali nanti setelah melalui suatu penyelidikan ya. Penyidikan dan penyelidikan yang baik,” terang ustadz.

(azm/kiblat.net/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.