Pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir menyebut Sisi seorang "tiran"

7

KAIRO (Arrahmah.com) – Pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin Mesir menuduh Abdul Fattah al-Sisi, mantan panglima militer yang mencalonkan sebagai presiden berikutnya negara itu, sebagai seorang tiran dan diperkirakan dia akan gagal untuk mempertahankan kekuasaannya, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Berbicara pada Selasa (1/4) dari kurungan dalam ruang sidang di mana dia menghadapi persidangan atas tuduhan menghasut kekerasan, pemimpin spritual Ikhwanul Muslimin Muhammad Badie juga menepis tuduhan pemerintah yang didukung militer bahwa kelompok tersebut terlibat dalam terorisme.

“Orang-orang tidak akan menerima tentara yang tiran,” kata Badie mengacu pada Sisi, yang mengundurkan diri dari militer pada Rabu (26/3) dalam rangka untuk mengikuti pemilihan presiden pada 26-27 Mei.

Sisi tlkah menggulingkan mantan Presiden Muhammad Mursi, yang dipilih secara bebas pada tahun 2012 setelah protes massal terhadap pemerintahannya.

Penggulingannya diikuti oleh salah satu penumpasan keamanan terbesar terhadap Ikhwanul Muslimin dalam sejarah 86 tahunnya. Ratusan pendukungnya terbunuh di sebuah kamp protes pro-Mursi Agustus lalu dan ribuan lainnya termasuk Mursi ditangkap.

Badie dan banyak pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya telah diadili atas beberapa kasus, melumpuhkan gerakan Islam mainstream yang memenangkan hampir setiap pemilihan sejak pemberontakan yang menggulingkan presiden otokratik dan mantan jenderal militer Husni Mubarak pada tahun 2011.

Badie, (70), dan 50 lainnya diadili pada Selasa (1/4) sehubungan dengan kekerasan yang terjadi ketika pasukan keamanan membubarkan kamp protes pendukung Mursi di Kairo Agustus lalu.

Para terdakwa yang menentang seluruh proses peradilan yang dianggap tidak adil dan bermuatan politik tersebut, menyanyikan lagu kebangsaan Mesir, melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan membuat gerakan empat jari yang merupakan simbol perlawanan Ikhwanul Muslimin terhadap represi negara.

Para pengacara pembela mengundurkan diri dari sidang setelah hakim menolak salah satu permintaan mereka.

“Kelompok ini selama lebih dari 85 tahun tidak pernah terlibat dalam terorisme dan tidak pernah menyerahkan diri kepada terorisme apapun, bahkan jika itu dipraktekkan oleh negara,” kata Badie yang saat itu mengenakan baju putih longgar seperti jubah.

“Mereka (pemerintah saat ini) yang teroris! Sisi ini adalah orang yang memproduksi terorisme.”

Ikhwanul Muslimin menuduh negara Mesir telah mempraktekan “terorisme” dengan mengumpulkan ribuan orang dan terlibat dalam apa yang kelompok hak asasi manusia sebut sebagai pelanggaran.

“Mereka (pemerintah) adalah orang-orang yang membunuh rakyat Mesir,” kata Badie.

Hanya 33 dari 51 terdakwa yang muncul di pengadilan pada Selasa, sementara 18 orang lainnya diadili secara in absentia.

Bentrokan meletus di pengadilan setelah hakim mengatakan kepada salah seorang terdakwa Ikhwanul Muslimin Salah Sultan, seorang profesor di Universitas Al-Azhar, untuk “tutup mulut” dengan suara keras setelah Sultan mengadu bahwa ia tidak mampu mendengar proses persidangan.

Ketika pengacara meminta agar hakim menggunakan nada suara yang lebih lembut kepada Sultan karena ia adalah seorang ulama, hakim hanya tersenyum sinis.

Para terdakwa berdiri dengan punggung mereka menghadap hakim setelah hakim berteriak kepada Sultan, “Turun, turun dengan kekuasaan militer.”

Persidangan ditunda sampai 6 April.

Pekan lalu, seorang hakim di kota Minya mengeluarkan putusan yang mengejutkan, yaitu ketika 529 anggota dan pendukung Ikhwanul Muslimin dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pembunuhan dan pelanggaran lainnya. Sebuah putusan pengadilan yang dikecam oleh masyarakat dunia sebagai sebuah putusan yang melanggar hukum internasional dan melanggar hak asasi manusia untuk mendapatkan proses pengadilan yang adil.

(ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.