Penduduk Balochistan lakukan aksi berjalan kaki 2.300 km untuk menarik perhatian khalayak akan penderitaan mereka

Mama Qadeer Baluch (720, pemimpin kelompok Balochistan yang berjalan kaki sepanjang 2.300 km. (Foto : Al Jazeera)
7

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Kerabat dari “militan”, aktivis dan warga biasa yang telah hilang di Pakistan telah mengajukan banding ke PBB untuk meminta bantuan setelah berjalan melintasi provinsi demi provinsi di Pakistan selama berbulan-bulan untuk menarik perhatian khalayak atas penderitaan mereka.

Puluhan orang yang mengatakan bahwa anggota keluarga mereka diculik atau dibunuh telah tiba di Islamabad pada Kamis (27/2/2014) setelah berjalan kaki sepanjang 2.300 km dari Balochistan yang dimulai pada Oktober lalu, lapor Al Jazeera.

Sekitar 50 orang yang terlibat dalam aksi tersebut mengatakan mereka akan mengajukan petisi kepada PBB untuk meminta bantuan dan untuk menarik perhatian khalayak pada masalah mereka.

Tubuh ratusan pejuang pro-kemerdekaan telah ditemukan di seluruh provinsi Balochistan dan banyak lagi yang telah hilang dalam beberapa tahun terakhir, dalam konflik yang dilaporkan di sudut terpencil di perbatasan Iran-Pakistan.

Aktivis Baloch mengatakan jenazah adalah bukti bahwa tentara sedang melakukan pembunuhan sistematis dan kampanye untuk menghancurkan perlawanan pro-kemerdekaan.

“Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke PBB dan membuat suara kami didengar tentang kekejaman terhadap rakyat Baluch yang dijemput dan tubuhnya dibuang setiap hari,” ujar Mama Qadeer Baluch (72), pemimpin kelompok aksi.

Kelompok ini telah membuat banding ke PBB dan organisasi internasional lainnya di masa lalu, namun hanya mendapat sedikit keberhasilan.

Baik pemerintah maupun tentara Pakistan tidak memberikan komentar terkait masalah ini. Mereka selalu membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Balochistan.

Baluch, pendiri kelompok advokasi Voice for Baloch Missing Persons, mengatakan mereka berangkat dari Quetta pada tanggal 27 Oktober dan telah berjalan kaki sejak itu.

Saat kelompok tersebut tiba di pinggiran Islamabad, para pemuda dari kota terdekat bergabung untuk memberi perlindungan dari kemungkinan pelecehak dan kekerasan.

“Kami tidak memiliki harapan pada pemerintah Pakistan dan Mahkamah Agungnya. Kami telah memprotes selama lima tahun, kami telah menyiapkan kamp protes di Karachi, Quetta dan mengunjungi Islamabad beberapa kali,” ujar Baluch.

“Tapi pemerintah tidak mendengarkan kami,” tambahnya. “Ketika kami tidak didengar pemerintah, wajar jika kami harus mengetuk pintu lainnya.” (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.