Kurang cerdas, melarang kaum Muslimin Indonesia jihad ke Suriah

Abu Muhammad salah satu Mujahid asal Indonesia yang gugur di Suriah
28

JAKARTA (Arrahmah.com) – Menteri luar negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengimbau warga negara Indonesia yang masih berada di Suriah agar tidak ikut terlibat dalam perang yang sedang berkecamuk di sana. Hal ini dikatakannya usai dia bertemu dengan koleganya Menlu Amerika Serikat (AS) John F Kerry, di Jakarta, Senin (17/2/2014).

Marty meminta apabila benar ada WNI yang pergi ke Suriah untuk ikut berperang, maka mereka harus segera pulang ke tanah air.

“Saya mendengar informasi bahwa ada WNI yang pergi ke Suriah untuk terlibat di dalam konflik. Kita anjurkan dan berpesan, jangan terlibat. Mereka harus kembali pulang,” ujar Marty dalam konferensi pers bersama Menlu AS John Kerry di Kantor Kemenlu, Jakarta, Senin (17/2/2014) lansir liputan6.

Pernyataan ini dinilai oleh Usatdz Abu Muhammad Jibriel sebagai sikap kurang cerdas dari Menlu Marty.

“Menlu (pemerintah) Indoneisa tidak perlu mengikuti kebijakan Arab Saudi yang melarang rakyatnya berjihad di Suriah dan memerintahkan mereka pulang ke negerinya karena dia punya problem politik, baik dalam negeri maupun luar negeri dengan Suriah.”

Wakil Amir Majelis Mujahidin ini menyatakan, sikap Indonesia harus jelas dan berbeda dengan Saudi. Justru dia mempertanyakan sikap pemerintah Indonesia hingga hari ini diam saja terhadap kejahatan kemanusiaan terbesar saat ini yang dilakukan rezim Basar Asad.

“Seakan-akan tuli, bisu dan buta alias summun, bukmun, ‘umyun menyaksikan kejahatan rezim Syiah Nusyairiyah Bashar al-Asad,” tegas Ustadz Abu Jibriel.

Sementara umat Islam Indonesia sangat bersimpati dan menunjukkan solidaritas terhadap pembantaian kaum Muslimin di Suriah, yang saat ini bisa dilakukan dengan penggalangan dana untuk Suriah .

Sebaiknya, kata Ustadz Abu Jibriel, Menlu RI tidak menghambat jihad kaum Muslim ke Suriah untuk membela saudaranya dan menegakkan Islam sebagai kewajiban agama (furdhah diniyah), dan tidak berhalusinasi yang tanpa dasar.

Dia menambahkan, sikap Saudi tidak bisa menjadi barometer Indonesia karena dinilai tidak relevan bagi perdamaian, dan dianggap mendukung kezaliman Asad. Para Ulama dan rakyat Saudi sendiri menilai sikap pemerintahnya adalah salah besar.

“Menlu RI tidak perlu sibuk mengikuti kebijakan negara lain, justru memfasilitasi para mujahid adalah kecerdasan terpuji,” tutupnya. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.