Tiga bocah laki-laki ditembak mati di Thailand saat pulang dari shalat Isya di masjid

18

BANGKOK (Arrahmah.com) – Tiga bocah laki-laki ditembak mati di Thailand Selatan ketika mereka kembali dari shalat Isya di sebuah masjid lokal, sebagaimana dilansir oleh Anadolu Agency, Jumat (14/2/2014).

Ayah anak-anak tersebut, Jehmu Maman (40) mengatakan bahwa saat itu ia tiba di rumahnya dengan istrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya yang berusia enam, sembilan dan 11 tahun.

Keluarga tersebut telah menghabiskan malam di masjid Parukapaeroh di provinsi Narathiwat Thailand, salah satu dari tiga provinsi yang didominasi Mulism di negara Selatan Thailad. Tapi saat mereka hendak memasuki rumah, penembak yang tersembunyi dibalik pohon terdekat melepaskan tembakan dengan senjata otomatis.

“Istri saya berteriak kepada saya untuk lari ketika dia mendengar suara tembakan,” kata Maman kepada wartawan hari setelah penembakan tersebut.

Maman mengatakan bahwa ia melarikan diri ke hutan terdekat, dan  kembali ke rumahnya ketika penembakan itu berhenti, dan ia menemukan rumahnya telah penuh dengan lubang peluru.

“Di sana saya menemukan tiga anak-anak dan istri saya terbaring dengan berlumuran darah.”

Ketiga anak laki-lakinya meninggal dunia, sedangkan istrinya dan bayi dalam kandungannya selamat.

Sembilan hari setelah tragedi itu, penyelidikan polisi tetap dilakukan dan warga Thailand masih bingung siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan yang mengejutkan tersebut.

Apakah itu separatis lokal; atau mungkin pasukan keamanan Thailand yang mencurigai ayah anak-anak tersebut terlibat dalam kelompok pejuang Islam? 

“Saya tidak tahu apakah saya telah berbuat sesuatu yang membuat orang marah terhadap saya. Setiap hari saya meninggalkan rumah pagi-pagi untuk menyadap pohon karet saya. Lalu, saya mengajar anak-anak di sekolah Islam di desa, “katanya.

Sehari setelah pembunuhan tragis itu, 200 warga Muslim dari kabupaten tersebut melakukan protes menyerukan untuk mengakhiri tindakan kekerasan yang selama ini sering terjadi.

Mereka menggelar spanduk yang berbunyi: “Kami, para penduduk desa tidak menginginkan kekerasan. Kami semua saudara dan sudari Muslim mencintai perdamaian dan hidup yang harmoni. Kami mengutuk kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan terhadap orang tak berdosa.”

Di Provinsi Pattani, Yala dan Narathiwat, sangat jarang dalam semingu berlalu tanpa kabar tentang serangan bom, penembakan atau penyergapan. (ameera/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.