Aktivis anti-drone AS di Pakistan mengaku diculik dan disiksa

35

PAKISTAN (Arrahmah.com) – Seorang aktivis anti-drone AS dan jurnalis dari Pakistan mengungkapkan bahwa dirinya diculik dan disiksa.

Kareem Khan, telah bebas lebih dari satu minggu setelah ia diculik oleh sekelompok orang dari rumahnya di Rawalpindi.

Khan mengatakan kepada para wartawan pada Jum’at (14/2/2014) bahwa dia ditangkap oleh sejumlah pria bersenjata yang datang ke rumahnya pada 5 Februari. Khan ditangkap dengan keadaan tangan diborgol dan mata ditutup, dan kemudian ia disiksa selama di tahanan.

Pada konferesi pers kemarin, Khan mengungkapkan bagaimana ia ditangkap oleh sekitar 18 hingga 20 pria bersenjata dari rumahnya.

“Para pria itu menggedor pintu rumah kami, mendobrak kunci dan menerobos masuk,” ujarnya, seperti dikutip CNN.

“Mereka menodongkan senjata kepada saya dan keluarga saya dan mengatakan kepada kami untuk mengangkat tangan kami. Membawa saya ke sebuah mobil, memborgol saya dan menutup mata saya dan pergi,” tambahnya.

“Mata saya masih sakit akibat kencangnya penutup mata. Pelipis, mata dan dahi saya msakit karena begitu kencangnya penutup mata itu. Kaki saya terus-menerus diikat dan diborgol terus menerus,” lanjutnya.

Khan juga mengatakan bahwa dia tidak bisa memastikan di mana ia ditahan, juga tidak tahu siapa para penculiknya itu. Tetapi Khan mengetahui bahwa ia disiksa di ruang bawah tanah.

“Mereka melecehkan saya menggunakan kata-kata yang vulgar. Menggantung saya terbalik dan menduduki saya sementara satu orang lainnya memukuli kaki saya,” katanya.

Khan mengungkapkan bahwa ia juga mendengar suara orang lain saat ia disiksa di sel tahanan itu.

Khan diancam agar tidak buka mulut kepada awak media. Tetapi Khan dengan tegas mengatakan dirinya tidak takut.

Khan, berasal dari wilayah kesukuan Waziristan Utara, ia kehilangan putera dan kakaknya akibat serangan drone AS pada 2009 silam, dan telah bersiap untuk pergi ke Eropa untuk bertemu dengan para anggota parlemen saat ia menghilang, kata pengacara Shazad Akbar dalam sebuah rilisan berita, lansir CNN.

Awalnya, Khan membawa pergi anak-anaknya ke Rawalpindi dari Waziristan untuk mencari keamanan. Tetapi Khan bersama keluarganya kini merasa tidak ada tempat yang aman bagi mereka.

“Saya membawa anak-anak saya ke kota Rawalpindi dari Waziristan untuk memberikan keamanan kepada mereka tetapi sekarang kami merasa tidak aman di manapun,” ujarnya.

“Saya hendak ke Eropa untuk menyoroti bagaimana rakyat kami disiksa oleh serangan-serangan drone. Saudara-saudara dan anak-anak kami adalah warga negara yang damai yang dijadikan sasaran. Kami bukanlah ‘teroris’ yang dibunuh.” (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.