Amnesti Internasional : Pembersihan etnis Muslim terjadi di Republik Afrika Tengah

14

NEW YORK (Arrahmah.com) – Sebuah organisais hak asasi manusia internasional terkemuka memperingatkan bahwa milisi anti-Balaka di Republik Afrika Tengah mencoba untuk membersihkan etnis Muslim dari republik tersebut. Organisasi ini juga menuding pasukan penjaga perdamaian telah gagal melindungi minoritas Muslim yang terancam.

“Milisi Anti-Balaka sedang melakukan serangan kekerasan dalam upaya untuk membersihkan etnis Muslim di Republik Afrika Tengah,” kata Joanne Mariner, penasihat senior di Amnesti International dalam laporan yang dirilis di situs kelompok tersebut, Selasa (11/2/2014).

Laporan Amnesti yang dirilis pada hari Selasa, didasarkan pada lebih dari seratus kesaksian secara langsung dari serangan besar-besaran anti-Balaka terhadap warga sipil Muslim di kota-kota barat laut Republik Afrika Tengah, mulai dari Bouali, Boyali, Bossembele, Bossemptele, dan Baoro. 

Kelompok ini menambahkan bahwa pihaknya telah mendokumentasikan sedikitnya 200 pembunuhan warga sipil Muslim yang dilakukan oleh kelompok-kelompok milisi Kristen yang dikenal sebagai anti-Balaka.

Amnesti mengatakan bahwa serangan terhadap Muslim telah dilakukan dengan maksud untuk secara paksa menggusur komunitas Muslim dari negara Republik Afrika Tengah.  Milisi anti-Balaka melihat Muslim sebagai orang asing yang harus meninggalkan negara itu atau dibunuh.

Kelompok hak asasi tersebut juga mengatakan bahwa serangan terhadap umat Islam itu dilakukan atas dukungan pemerintah yang berniat untuk menggusur paksa Muslim dari negara itu.

Untuk menghindari serangan mematikan dari kelompok anti-Balaka yang biadab itu, seluruh penduduk Muslim melarikan diri dari berbagai kota dan desa di Republik Afrika Tengah.

Muslim yang sedang dalam perjalanan untuk melarikan dari kota tersebut seringkali menghadapi kesulitan dan bahaya. Para milisi anti-balaka yang biadab tidak segan-segan menyerang rombongan muslim yang melarikan diri.

Kisah tentang bagaimana seorang anak kecil yang bernama Abdul Rahman yang harus kehilangan seluruh anggota keluarganya adalah salah satu bukti tentang pembersihan etnis populasi Muslim di negara itu.

Pada tanggal 14 Januari, anak itu melakukan perjalanan di sebuah truk dengan enam anggota keluarganya.  Di sebuah pos pemeriksaan anti-Balaka, kelompok anti balaka yang barbar meminta agar semua penumpang Muslim turun, dan milisi biadab tersebut membunuh semua anggota keluarganya, termasuk tiga wanita dan tiga anak-anak kecil, salah satunya masih balita.  

Serangan paling mematikan yang didokumentasikan oleh Amnesti International terjadi pada tanggal 18 Januari di Bossemptele, di mana sedikitnya 100 Muslim tewas. Di antara yang tewas adalah perempuan dan laki-laki tua, termasuk seorang imam yang berusia sekitar 70 tahun.

Amnesti International mengkritik respon masyarakat internasional terhadap krisis di Afrika Tengah dan menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian masih enggan untuk menantang milisi anti-Balaka, dan lambat untuk melindungi minoritas Muslim yang terancam.

“Pasukan penjaga perdamaian internasional telah gagal untuk menghentikan kekerasan tersebut,” kata Donatella Rovera, penasihat senior di Amnesti International.

Negara miskin tersebut telah ditelan dalam kekerasan sektarian berdarah yang melibatkan orang-orang Kristen dan Muslim sejak tahun lalu.

Lebih dari 1.000 orang telah tewas di Republik Afrika Tengah sejak Desember lalu, ketika milisi Kristen melancarkan serangan-serangan terkoordinir terhadap sebagian besar kelompok Seleka, yang menggulingkan pemerintah pada Maret 2013.

Laporan PBB mengungkapkan bahwa milisi Kristen anti-Balaka menggerebek rumah Muslim, membunuh anak-anak dan perempuan, melakukan penjarahan dan perusakan harta benda.

 “Situasi genting ini menuntut tanggapan segera,” kata Joanne Mariner.

“Sudah saatnya bagi operasi penjaga perdamaian di CAR untuk melindungi penduduk sipil, menyebar ke daerah yang terancam, dan menghentikan eksodus paksa ini.”

Khawatir dengan krisis berlangsung, Presiden Kongo Denis Sassou Nguesso, yang merupakan mediator dalam konflik itu, mengatakan, “Ini adalah tugas dari masyarakat internasional untuk bertindak lebih tegas dan tekun untuk mengakhiri masa pemerintahan yang barbar.”

Di New York, Sekjen PBB Ban Ki-Moon mengatakan kepada wartawan bahwa kebrutalan sektarian telah mengubah demografi negara itu.”

“Kita harus berbuat lebih banyak untuk mencegah lebih banyak kekejaman, melindungi warga sipil, memulihkan hukum dan ketertiban, memberikan bantuan kemanusiaan, dan menjaga negara tersebut bersama-sama,” tambahnya.  (Ameera/Arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.