Dewan Dakwah kirim 50 Da'i ke Kepulauan Riau

Kafilah Da'i jelang bertolak ke Kepri dari pelabuhanTanjungpriok Jakarta Kamis (6/2/2014)
18

JAKARTA (Arrahmah.com) – Kepulauan Riau (Kepri) yang terdiri 2400-an pulau besar dan kecil, yang 30% di antaranya belum bernama dan berpenghuni, adalah salah satu provinsi yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah. Maka, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten) setempat,  Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) mempersiapkan dan menempatkan 50 da’i muda di Kepri.

”Para da’i akan ditempatkan di beberapa pulau di Kepri yang sebagian berada di dekat garis perbatasan dengan Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja,” kata Ustadz Misbahul Anam, pengurus Bidang Dakwah DDII.

Anam menuturkan, sebagian besar dari para da’i tersebut adalah putra daerah. ”Sebanyak 30 da’i berasal dari Kepri sendiri, sedangkan 20 da’i berasal dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammad Natsir (STID Natsir) Jakarta, Perguruan Persatuan Islam (Persis) Bandung, dan Pesantren Darul Falah Bogor,” katanya.

Kafilah duapuluh  da’i dari Pulau Jawa bertolak menuju Kepri pada Kamis (6/2/2014) dengan menumpang Kapal Pelni dari Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Selanjutnya mereka akan bergabung dengan kafilah da’i setempat guna mengikuti pembekalan intensif selama 10 hari, sebelum diterjunkan ke tempat tugas masing-masing.

”Insya Allah penempatan para da’i di Kepri diresmikan pada 16 Februari 2014 oleh Gubernur Kepri Muhammad Sani,” kata Misbahul Anam.

Sehari sebelum ke Kepri, para dai mendapat pembekalan dari DDII dan LAZIS Dewan Dakwah di Gedung Menara Dakwah di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta.

”Salah satu indikator keberhasilan dakwah adalah da’i mendapatkan istri di tempat tugasnya,” ujar Wakil Ketua Umum DDII, KH Wahid Alwy, kepada para peserta pembekalan.

Contohnya Ustadz Uray Adikusuma (26), da’i Dewan Da’wah yang sudah hampir setahun bertugas di Desa Pengikik, Kec Tambelan, Kab Bintan, Kepri. Alumnus STID Natsir itu akhirnya menerima tantangan seorang bidan setempat untuk menjadi pemimpin keluarganya. Bidan mualaf itu janda beranak dua.

Kini, dengan pendekatan kebidanan, istri Ustadz Uray membantu suaminya berdakwah di pulau yang belum ada sinyal ponsel tersebut. (azm/nurbowo/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.