Buku 'Apakah MUI sesat' tidak selevel dengan 'Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia'

Buku MUI Pusat tentang kesesatan Syiah
47

JAKARTA (Arrahmah.com) – Perlawanan perempuan Syiah sudah ditunjukkan terhadap lembaga keagamaan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui sebuah buku berjudul, “Apakah MUI Sesat” (Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat) karya perempuan Syiah Emilia Renita Az, isteri pendeta Syiah Indonesia Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI).

Renita yang dalam Fb-nya mencaci dan melaknat sahabat Nabi ini mengatakan bahwa bukunya dinilai titik tolak kebangkitan Syiah yang dinilai tertindas.  “Cape juga dengar syiah disesatin terus menerus kali ya. Smoga buku ini menginspirasi
kebangkitan kaum tertindas,” tulisnya. Sebuah ungkapan emosional jauh dari ilmiah dan intelektual.

Mengomentari hal itu, Pengurus MUI Jawa Timur, Habib Achmad Zein Al-Kaff mengatakan, meski dirinya belum sempat membaca buku tersebut, namun menurutnya, bukan levelnya seseorang berkapasitas pribadi mengkritisi fatwa/hujjah yang keluar dari institusi MUI.

“Saya belum baca buku tersebut. Tapi sangat mengherankan siapa dia? Dan siapa MUI yang dia kritik. Sebab MUI itu mewakili Ormas Islam di Indonesia. Memang sekarang ini zamannya orang tidak tau diri,” ujar Habib yang tercatat dalam jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, seperti dilansir Hidayatullah.com Senin (3/2/2014).

Sementara dari segi akademik dan ilmu pengetahuan, peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Bahrul Ulum mengatakan, setiap persoalan memiliki kewenangan dan otoritas. Apalagi menyangkut ilmu dan agama. Jika tidak, semuanya akan rusak.

“Apapaun masalahnya harus disandarkan pada kewenangan dan otoritas. Jika tidak ilmu akan menjadi rusak,” ujarnya. Ia menilai MUI memiliki kewenangan mengeluarkan fatwa dan lembaga ini juga memiliki otoritas.

Ia mencontohkan dalam ilmu kedokteran. Jika semua orang tidak bekompeten mengomentari ilmu kedokteran, rusaklah ilmu kedokteran. Kalau sudah begitu, untuk apa didirikan Fakultas Ilmu Kedokteran jika semua orang yang tidak berkompeten bisa berkomentar?

Lagi pula menurut Bahrul, antara Sunni dan Syiah memiliki perbedaan yang sangat prinsip yakni aqidah. Sedang menyangkut kesesatan Syiah, para ulama tidak berbeda pendapat soal itu. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.