Enam tokoh gerakan Islam Bangladesh dijatuhi hukuman mati

102

DHAKA (Arrahmah.com) – Enam tokoh gerakan Islam di Bangladesh telah dijatuhi hukuman mati oleh otoritas hukum Bangladesh sejak proses pengadilan pada 2012.

Kantor berita Turki Anadolu Agency (AA) melaporkan pada Ahad (2/2/2014) bahwa sebagian besar tertuduh yang dijatuhi hukuman mati adalah para tokoh Jamaat-e-Islami Bangladesh (BJI), partai Islam terbesar di negara tersebut, termasuk tiga mantan menteri dan anggota parlemen.

Hukuman mati telah diberikan kepada Presiden BJI dan mantan menteri Maulana Matiur Rahman Nizami, Wakil Presiden BJI Maulana Delwar Hossain Sayedee, mantan anggota parlemen dan ketua komisi tetap Departemen Agama Bangladesh Ali Ahsan Mohammad Mujahid, Sekretaris Jenderal BJI Muhammad Kamrujjaman, Asisten Sekretaris Jenderal Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) Salahuddin Quader Chowdhury dan mantan anggota parlemen Maulana Abul Kalam Azad.

Police arrest Moulana Motiur Rahman Nizami (C), chief of Bangladesh Jamaat-e-Islami, in Dhaka June 29, 2010. Bangladesh police on Tuesday arrested three top leaders of Jamaat-e-Islami, the country's biggest Islamic political party, on charges of hurting religious sentiments of Muslims in a case likely to trigger protests. REUTERS/Lutfor Rahman
Police arrest Moulana Motiur Rahman Nizami (C), chief of Bangladesh Jamaat-e-Islami, in Dhaka June 29, 2010. Bangladesh police on Tuesday arrested three top leaders of Jamaat-e-Islami, the country’s biggest Islamic political party, on charges of hurting religious sentiments of Muslims in a case likely to trigger protests. REUTERS/Lutfor Rahman

Mahkamah Agung Bangladesh akan membuat keputusan final hukuman mati setelah sidang banding.

Sayedee, Mujahid, Kamrujjaman dan Chowdury telah mengajukan banding kepada Mahkamah Agung. Banding Sayeedi saat ini masih tertunda di divisi banding mahkamah tersebut, pengajuan banding yang masih tersisa sedang menanti waktu sidang.

Liga Awami, partai yang kini berkuasa di Bangladesh, telah menuduh BJI dan gerakan Islam lainnya telah melakukan “kejahatan perang” selama Perang Pembebasan Bangladesh pada 1971.

Abdul Qadir Mullah rahimahullah tersenyum disaat sebelum beliau di hukum gantung.
Abdul Qadir Mullah rahimahullah tersenyum disaat sebelum beliau di hukum gantung.
“Jika pemerintah ini membunuh saya dengan tidak adil, maka itu akan menjadi kesyahidan saya. Setelah kesyahidan saya, Allah akan memberi petunjuk bagi kalian. Dia adalah sebaik-baik pemberi petunjuk. Jadi kalian tidak punya alasan untuk khawatir,” kutipan pesannya sebelum dieksekusi.

Sebelumnya, tokoh BJI Abdul Qadir Mullah (rahimahullah) telah dihukum gantung oleh otoritas Bangladesh atas tuduhan serupa.

Persidangan Mullah menjadi sorotan internasional dan beberapa pengamat mengatakan pengadilan tersebut berjalan dengan tidak adil. Kelompok hak asasi manusia juga mengatakan prosedur hukum pengadilan tidak memenuhi standar internasional. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.