Berita Dunia Islam Terdepan

Tawanan Al-Qaeda di Pakistan memohon kepada Obama untuk menegosiasikan pembebasannya sebagai warga AS

42

Support Us

PAKISTAN (Arrahmah.com) – Seorang kontraktor pemerintah AS yang ditawan lebih dari dua tahun yang lalu oleh Mujahidin Al-Qaeda di Pakistan memohon kepada presiden negaranya, Barack Obama, untuk menegosiasikan pembebasannya dalam sebuah pesan video yang dipublikaskan pada Kamis (26/12/2013).

Warren Weinstein mengatakan dia merasa “benar-benar ditinggalkan dan dilupakan” oleh pemerintahan Obama, dalam video yang dikirim ke Washington Post tersebut.

“Anda sekarang berada di masa jabatan kedua Anda sebagai presiden Amerika Serikat dan itu berarti bahwa Anda dapat mengambil keputusan yang sulit tanpa khawatir tentang pemilihan berikutnya,” katanya dalam video berdurasi 12 menit 56 detik tersebut.

“Saya berharap dan berdoa kepada Tuhan agar Anda, sebagai pemimpin Amerika Serikat, bersama dengan para staf Anda, akan merasakan sebuah kesadaran tanggung jawab terhadap saya dan bertindak untuk pembebasan saya.”

Weinstein mengatakan dia bekerja sebagai konsultan pada program pemerintahan AS ketika dia ditangkap dari rumahnya di Lahore.

Polisi Pakistan yang awalnya menyelidiki kasus Weinstein mengatakan kepada NBC News bahwa “semua orang [di Pakistan] tahu” warga negara Amerika Serikat dibawa ke daerah suku semi-otonomi di dekat perbatasan Afghanistan. Pemerintah Pakistan pusat memiliki sangat sedikit atau tidak memiliki sama sekali kontrol di daerah ini.

Mengingat insiden tahun 2011, Rana Ghafoor, sub-inspektur Polisi Lahore pada Kamis (26/12) mengklaim bahwa Weinstein diculik oleh delapan sampai sembilan orang yang berpura-pura menjadi tetangganya yang memasuki rumahnya di pagi hari pada Agustus 2011.

Weinstein telah membuat sedikitnya dua pesan video serupa sejak dia ditawan. Pada Mei 2012 dia mengatakan kepada Obama, “Hidup saya ada di tangan Anda, Bapak Presiden.” Kemudian, pada bulan September tahun yang sama, dia memposting sebuah video yang menyatakan bahwa Obama mengabaikan kasusnya dan meminta kepada “Israel” sebagai Yahudi, “mohon campur tangan [kalian] dalam kasus saya.”

Dalam video terbaru ini, Weinstein tidak menentukan langkah apa yang dia inginkan untuk ditempuh AS dalam menegosiasikan pembebasannya.

Dia menyampaikan bahwa para penawannya telah setuju untuk mengizinkan keluarganya mengunjunginya.

Sementara itu, salibis AS mengklaim memiliki sebuah kebijakan untuk tidak melakukan negosiasi penawaran pertukaran dengan para penawan.

Weinstein menghimbau kepada Obama sebagai “seorang pria dengan rasa kekeluargaan,” dan mengatakan dia menderita “kecemasan yang mendalam, di setiap bagian hari-harinya” tidak tahu keadaan istrinya yang berusia 72 tahun, dua anaknya, dan anggota keluarganya yang lain.

Weinstein mengatakan dia datang ke Pakistan sembilan tahun yang lalu “untuk membantu pemerintah saya, dan saya melakukannya pada saat kebanyakan orang Amerika tidak mau datang ke sini. Dan sekarang, ketika saya membutuhkan pemerintah saya, tampaknya saya telah benar-benar ditinggalkan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dia menderita penyakit jantung dan asma akut dan “tidak dalam kondisi kesehatan yang baik.”

Washington Post melaporkan bahwa baik Departemen Luar Negeri maupun keluarga Weinstein mengatakan pada Rabu (25/12) malam bahwa mereka tidak secara independen menerima video atau catatan itu. Surat kabar itu mengatakan telah menyediakan salinan untuk keduanya.

Marie Harf, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, kemudian mengklaim bahwa para pejabat AS “bekerja keras untuk mengotentikasi” pesan itu.

“Kami mengulangi seruan kami bahwa Warren Weinstein akan dibebaskan dan kembali ke keluarganya,” klaimnya dalam sebuah pernyataan. “Terutama selama musim liburan ini – saat dia jauh dari keluarganya – harapan dan doa kami bersama dia dan orang-orang yang mencintai dan merindukan dia.”

Pemimpin Mujahidin Al-Qaeda Syaikh Ayman Az-Zhawahiri telah menegaskan pada Desember 2011 lalu bahwa Weinstein akan dibebaskan jika teroris AS menghentikan serangan drone mereka di Pakistan, Afghanistan, Somalia dan Yaman.

(banan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah