Berita Dunia Islam Terdepan

Sengsarakan rakyat, MUI Lebak dukung KPK berantas korupsi di Banten

28

Support Us

LEBAK (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lebak, Banten, mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberantas para pelaku korupsi guna mewujudkan rasa keadilan.

“Kita terus memberikan semangat terhadap KPK yang berani memberantas pelaku korupsi karena menyengsarakan rakyat banyak, juga mengalami kerugian uang negara,” kata Ketua Bidang Fatwa MUI Lebak KH Baijuri di Rangkasbitung, lansir Antara, Ahad (22/12/2013).

MUI, kata KH Baijuri, meminta KPK memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya dan bisa memberikan efek jera kepada mereka agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum itu.

MUI Lebak menilai kinerja KPK relatif baik dengan tidak pandang bulu, siapa pun pelakunya, termasuk menteri, kepala daerah hingga dinas/SKPD.

MUI Lebak juga menilai korupsi adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama dan hukum negara, oleh karena itu lembaga alim ulama ini berharap KPK berani menegakkan hukum terhadap pelaku korupsi.

“Kami berharap komitmen KPK untuk memberantas korupsi di Tanah Air benar-benar dilaksanakan secara maksimal,” katanya.

Dia menegaskan, MUI mendukung penegakan hukum terhadap Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang belum lama ini ditahan KPK. Namun MUI meminta KPK harus adil dan mengutamakan asas praduga tidak bersalah.

“Kami setuju jika Atut dilakukan pemeriksaan tentang penyelewangan anggaran, namun jangan dikaitkan dengan politik,” katanya.

Apabila penegakan hukum bermuatan politik menghadapi 2014, katanya, sebaiknya ditunda terlebih dahulu karena bisa menimbulkan konflik di masyarakat, terlebih saat ini persaingan politik cukup kuat dan saling menjatuhkanya.

“Kami minta KPK jangan ada intervensi dari pihak manapun dalam penegakan hukum bagi pelaku korupsi,” katanya seraya menyebutkan, pengusutan pelaku-pelaku korupsi yang saat ini ditangani KPK sangat baik dan profesional.

Dia menilai korupsi timbul karena pelakunya tidak memiliki moral dengan hanya memikirkan kehidupan pribadi untuk memenuhi kesenangan dan gaya hidup berlebihan, selain sudah tidak memiliki jiwa kesetiakawanan.

“Kami sangat prihatin melihat tayangan televisi pelaku-pelaku korupsi tertawa dan tersenyum serta melambaikan tangan tanpa malu-malu lagi,” tutupnya.  (azm/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah