Berita Dunia Islam Terdepan

Jahiliyah, empat tahun menyembah kuburan kosong

359

Support Us

PASER KALTIM (Arrahmah.com) – Model jahiliyah tempo dulu masih marak di negeri ini, manusia menyembah kuburan, dengan alasan ziarah kubur.  Hari ini jahiliyah itu sangat parah, karena kuburan yang disembah ternyata kosong. Ini bukan berita baru, kejadiannya dua bulan lalu di Kalimantan Timur.

Belasan warga Batu Kajang Kecamatan Batu Sopang, Paser, Kaltim akhir Agustus lalu, membongkar makam yang selama ini dianggap keramat. Selama empat tahun, beberapa orang bodoh yang percaya makam itu keramat ternyata hanya menziarahi liang kuburan kosong.

Makam yang tidak jelas asal-muasalnya itu selama empat tahun terakhir atau sejak Agustus 2009 lalu dianggap keramat oleh sekelompok orang. Sejak itu, cepat saja keberadaan makam jadi buah bibir. Bahkan sempat menimbulkan pro-kontra di masyarakat Batu Kajang.

Selama empat tahun sejak pertama kali ditemukan, rasa gerah dan kegelisahan warga semakin menjadi-jadi. Ini dikarenakan intensitas peziarah yang datang baik, dari dalam maupun luar Batu Kajang, semakin meningkat. Ditambah lagi dengan sejumlah ritual keagamaan. Seperti haul rutin yang selalu digelar dengan menghadirkan sejumlah orang sembari mensosialisasikan akan keberadaan makam.

“Yang membuat tokoh agama semakin gerah, yakni adanya cerita-cerita yang dikarang dengan menghubung-hubungkan kalau yang dimakamkan itu masih ada hubungan langsung dengan kerabat Rasulullah dengan mencatut salah satu nasab keturunan beliau,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat Batu Kajang, rilis Kaltimpos.co.id, Senin (2 /9/ 2013). 

Dari  informasi dan beberapa kejadian, serta ritual–ritual yang dilakukan sekelompok orang yang meyakini akan kebenaran makam, Ustaz  Muhammad Sayuti, salah seorang ulama, bersama tokoh agama dan pemuka masyarakat Batu Sopang, melakukan pemantauan sejak awal penemuan makam. Hingga empat tahun sudah makam dikeramatkan dan ramai pengunjungnya. 

Tiba malam haul tahun keempat kembali dilaksanakan di salah satu rumah warga, Senin (19/8/2013) . Ustaz Sayuti telah mengingatkan kepada mereka agar acara tersebut tidak digelar apalagi dibesar-besarkan. Sebab, sampai saat ini tidak terdapat satu informasi dan rujukan apapun yang dapat dipegang tentang kebenaran makam keramat tersebut.

Namun kegiatan tersebut tetap berlangsung, Ustaz Sayuti meminta kepada sejumlah warga di sekitar lokasi kegiatan haul  untuk menggiring Abdul Kadir, yang mengeramatkan makam itu beserta pengikutnya,  bertemu di Mushala Ibadurrahman, kompleks perumahan PT Kideco Jaya Agung, Batu Kajang.     

Malam itu sekira pukul 22.00 Wita,  sejumlah warga datang membawa Abdul Kadir.   Setelah dihadapkan kepada Ustaz Sayuti didampingi sejumlah  habib,  guru agama dan jamaah  pengajian rutin musala ini, Abdul Kadir diminta untuk menjelaskan asal-usul penemuan makam.

Setelah  dilakukan dialog dan tanya jawab secara mendalam, Abdul Kadir tidak dapat memberikan informasi dengan dasar dan rujukan yang kuat. Apa yang disampaikannya lebih banyak didasarkan mimpi dan halusinasi.  Akhirnya ditarik kesimpulan pada pertemuan hingga pukul 01.00 Wita dini hari itu, makam  akan dibongkar.  

“Pembongkaran harus dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk memastikan apakah makam tersebut benar-benar makam dan patutkah juga untuk dikeramatkan,” kata Sayuti. Setelah dilakukan pembongkaran dan penggalian makam  selama lebih kurang dua jam, makam sepanjang 4,2 meter dengan lebar 1,2 meter dan  dalam  2,3 meter itu tak layak dikeramatkan, karena isinya kosong.

Abdul Kadir, penemu makam pun akhirnya meminta maaf kepada semua masyarakat Batu Kajang. Makam yang selama ini disebut-sebut sebagai keramat  ternyata bukan makam siapa-siapa dan tidak patut untuk dikeramatkan.

Fenomena gunung es

Perilaku masyarakat dalam memperlakukan kuburan dengan berziarah untuk meminta kepada kuburan, atau meminta kepada Allah Ta’ala dengan perantara kuburan adalah perbuatan yang menyimpang dari aqidah Islam, alias syirik. Fenomena seperti banyak sekali di masyarakat. Bagaikan gunung es yang muncul di permukaan sebagai konsumsi publik  pucuknya saja. Sementara bagian tengah, bawah, hingga dasar banyak sekali.

Pada masyarakat urban berpendidikan sudah diperkenalkan syirik demokrasi, lewat buku dan ceramah para ustadz, bagus dan hebat. Faktanya syirik kuburan masih banyak di negeri ini. Dibutuhkan banyak mujahid dakwah yang menjelaskan syiriknya perbuatan tersebut di pelosok nusantara. Dakwah tauhid dan jihad harus disampaikan pada manusia-manusia yang mengaku Muslim tersebut. (azm/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah