Berita Dunia Islam Terdepan

Ledakan bom 'sambut' perjanjian bilateral di Kabul

52

Support Us

KABUL (Arrahmah.com) – Sebuah bom meledak dan menewaskan lebih dari 10 orang dalam serangan pada Sabtu (16/11/2013) kemarin di ibukota Afghanistan Kabul. Seorang pria dilaporkan menabrakkan mobil bermuatan bahan peledak ke sebuah kendaraan lapis baja.

Kepala keamanan di Kabul menyatakan bahwa ada 10 orang yang tewas, sementara Menteri Dalam Negeri Afghanistan mengatakan bahwa enam orang tewas dan 22 lainnya terluka.

Serangan tersebut terjadi sekitar 200 meter dari tenda dimana pemerintah akan menggelar Loya Jirga pada Kamis (21/11) mendatang. Perjanjian “Keamanan Bilateral”, yang memetakan masa depan eksistensi pasukan salibis AS di Afghanistan pada 2014, itu akan dibahas oleh “3.000 tetua, ulama, anggota parlemen dan tokoh berpengaruh lainnya,” lapor AP.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas serangan tersebut. Demikian juga dengan Taliban Afghanistan yang dilaporkan melancarkan operasi syahid untuk mengkoordinasikan sejumlah serangan di Kabul bersama dengan Al-Qaeda dan kelompok jihad lainnya.

Gerakan Taliban di Afghanistan dan Pakistan sama-sama bertekad untuk membalas kematian pemimpin-pemimpin mereka, Nasiruddin Haqqani dan Hakimullah Mehsud, yang gugur di Pakistan awal bulan ini.

Namun serangan kali ini ini disebut-sebut cenderung dilakukan dalam upaya untuk “mengganggu” Loya Jirga. Sebelumnya, Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengundang Taliban dan kelompok-kelompok jihad lainnya di Afghanistan untuk menghadiri jirga itu.

“Kami mengundang mereka, silakan datang ke jirga nasional Afghanistan ini, mengangkat suara kalian, mengajukan keberatan kalian … dan berbagi pandangan kalian,” kata Karzai, AFP melaporkan.

Bagaimanapun, seperti diketahui, Mujahidin Imarah Islam Afghanistan sebelumnya telah berulangkali menolak melakukan pembicaraan damai sebelum pasukan salibis AS angkat kaki dari Afghanistan.

Demikian halnya dengan Taliban Pakistan. Pemimpin mereka yang baru, Mullah Fazlullah, juga telah menentang segala bentuk perundingan dengan pemerintah sekuler setelah gugurnya pemimpin mereka sebelumnya, Hakimullah Mehsud, dalam serangan pengecut pesawat tak berawak salibis AS dalam masa upaya pembicaraan damai.

“Tidak akan ada lagi perundingan karena Mullah Fazlullah, sudah menentang perundingan dengan pemerintah Pakistan,” tegas juru bicara utama Taliban Pakistan, Shahidullah Shaid. (banan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah