Berita Dunia Islam Terdepan

Jaisyul Islam Suriah menolak konferensi Jenewa II

56

Support Us

SURIAH (Arrahmah.com) – Jaisyul Islam (Tentara Islam), yang memayungi 60 brigade dan batalyon Mujahidin Suriah, menegaskan kembali penolakan mereka terhadap konferensi Jenewa II yang menyoroti Suriah, yang disebut konferensi ‘perdamaian’ internasional yang didukung negara-negara Barat.

Petinggi Jaisyul Islam, Muhammad Alusy, mengatakan kepada Asharq Al-Awsat pada Senin (11/11/2013) bahwa “setiap solusi politik harus ditentukan di lapangan (medan jihad Suriah, red), bukan dari pihak-pihak asing.”

Jaisyul Islam, telah dibentuk pada 29 September lalu yang terdiri dari 50 brigade dan batlyon, tetapi kemudian meningkat jumlahnya menjadi 60. Muhammad Zahran bin Abdullah Alusy (Abu Abdullah) ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi kelompok yang memfokuskan diri dalam jihad melawan rezim Nushairiyah Suriah pimpinan Bashar Assad itu untuk menerapkan Syari’ah Islam di belahan bumi Syam itu.

Petinggi Jaisyul Islam mengatakan bahwa keputusan militer dalam operasi-operasi Jaisyul Islam disepakati melalui Dewan Syuranya, yang mana terdiri dari para ahli hukum Syari’ah dan komandan-komandan militer, dan operasi-operasi militer dipimpin oleh Abu Abdullah.

Berita Terkait

Alusy mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa para Mujahid Jaisyul Islam sebagian besar adalah warga asli Suriah, dan mereka memiliki senjata berat dalam jumlah besar, termasuk artileri dan rudal.

Alusy menegaskan bahwa senjata-senjata itu didapat dari pasukan rezim saat dalam pertempuran, atau yang disebut sebagai ghanimah (harta rampasan perang). Dia juga membantah adanya bantuan pihak asing ke tubuh Jaisyul Islam, namun mengkonfirmasi donasi-donasi oleh orang-orang yang peduli terhadap rakyat Suriah telah sampai kepada mereka. 

Lebih jauh Alusy mengatakan bahwa tidak ada perselisihan antara kelompoknya dengan kelompok Mujahidin lain yang disebut-sebut berafiliasi dengan Al-Qaeda, seperti Daulah Islam Irak dan Syam dan Jabhah An-Nushrah. 

“Tidak ada perselisihan dengan mereka,” katanya. “Jika ada perselisihan antara kami muncul, kami akan membawa mereka ke lembaga Syari’ah dan rekonsiliasi.”

(siraaj/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah