Berita Dunia Islam Terdepan

Sambut tahun baru Islam, diskusi Sunni-Syiah digelar

42

Support Us

JAKARTA (Arrahmah.com) – Memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram 1435 Hijriyah, Penerbit Buku Lisan Hal bekerjasama dengan Lembaga Kajian Strategis Al-Maqashid Syariah dan Masjid Jami Al-Kamiliyyah mengadakan acara Seminar Sehari & Diskusi Interaktif Sunni-Syiah.

Acara yang bertajuk ” Polemik Suksesi Kekhalifahan & Tragedi Berdarah Karbala: Pengaruhnya terhadap Perkembangan Mazhab Islam” ini diselenggarakan di Gedung Diklat Kimia Farma, Jalan Cipinang Cempedak I No. 38 Polonia Jakarta Timur.

Beberapa pembicara yang dihadirkan dalam acara tersebut ialah Amir Majelis Mujahidin Indonesia, Drs. Muhammad Thalib, Drs. Subki Saiman MA. (pengkaji Sunni-Syiah), DR. (cand) H. Abdul Chair Ramdhan SH. MH. MM. (akademisi), DR. Fuad Jabali, MA. (Direktur Lemlit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dan Ketua Dewan Syura DPP Ahlul Bait Indonesia, DR. Umar Shahab MA.

Sebagai pembicara pertama,  Drs. Subki Saiman, MA. memaparkan bahwa perlu adanya pelurusan sejarah terhadap fitnah atas khulafaur rasyidin dan peristiwa berdarah Karbala.

“Peristiwa suksesi kekhalifahan semenjak Rasulullah Saw. wafat telah menimbulkan perdebatan serius antara kaum ahlussunnah wal jama’ah dengan Syiah,’ ujar akademisi yang juga pendiri Lembaga Kajian Strategi Al-Maqashid Syari’ah ini.

Menurutnya, proses suksesi kepemimpinan dari Rasulullah Saw kepada para sahabatnya radhiyallahu’anhum merupakan peristiwa politik dan historis yang konstitusional. Namun, hal ini dikritis keras oleh kelompok Syiah yang menganggap bahwa hanya sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu satu-satunya khalifah dan imam yang berhak menjadi pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Berita Terkait

Dalam proses peralihan kepemimpinan kepada Abu Bakar ra, Subki mencontohkan, ada beberapa sinyalemen yang diberikan Nabi Saw.

“Ada beberapa sinyalemen tentang kedudukan Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasul Saw, diantaranya hadits Ibnu Abbas yang mengabarkan bahwa Rasul Saw seandainya diperbolehkan mengambil khalil (kekasih dekat), pasti beliau Saw akan memilih Abu Bakar,” tutur Subki.

Kemudian, saat peristiwa sakitnya Nabi Saw, beliau langsung menunjuk Abu Bakar sebagai imam sholat.

“Penunjukan Abu Bakar sebagai imam shalat jama’ah merupakan posisi imam shugro (pemimpin kecil), sedangkan Khalifah adalah imam kubro (pemimpin besar). Bagaimana mungkin seseorang menjadi imam kubro jika tidak jadi imam shughro?” ujar pembicara lainnya yang juga berasal dari kalangan akademisi, DR. (cand) H. Abdul Chair Ramdhan SH. MH. MM.

Berdasarkan pemantauan Kiblatnet di lokasi, ratusan peserta tampak memadati acara tersebut. Tidak hanya dari kalangan sunni, beberapa peserta dari komunitas syiah turut mengikuti jalannya acara.

Ketua Dewan Syura DPP Ahlul Bait Indonesia, Umar Shahab yang semula dijadwalkan menjadi pembicara, di akhir acara dibatalkan oleh panitia. Menurut pihak panitia, makalah yang akan disampaikan oleh Umar Shahab terlalu profokativ dan tidak ilmiah.

(Kiblatnet/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah