Berita Dunia Islam Terdepan

FUI dukung warga LA, tolak Lurah Susan

1

JAKARTA (Arrahmah.com) – Lurah Susan yang Kristen mengalami penolakan dari warga masyarakat Kelurahan Lenteng Agung. Mayoritas masyarakat Lenteng Agung Muslim yang taat. Mereka menginginkan pemimpin wilayah mereka seorang Muslim untuk menjaga azas proporsional dan keseimbangan dalam tatanan masyarakat.

Atas hal itu Forum Umat Islam (FUI) meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo agar  mengapresiasi aspirasi warga Kelurahan Lenteng Agung yang menginginkan wilayahnya dipimpin oleh Muslim yang taat. Ini merupakan hak-hak masyarakat yang dijamin oleh undang-undang.

FUI juga menyesalkan sikap sombong Ahok dalam polemik soal Lurah Lenteng Agung dengan Mendagri dan juga dalam hal pembongkaran masjid Baitul Arif Jatinegara Jakarta Timur.

Berikut ini adalah pernyataan FUI selengkapnya soal keberatan masyarakat terhadap Lurah Lenteng Agung.

بسم الله الرحمن الرحيم

 Pernyataan Forum Umat Islam (FUI)

tentang keberatan masyarakat Kelurahan Lenteng Agung terhadap penempatan Lurah Susan

 Sehubungan dengan merebaknya kasus penolakan warga masyarakat Kelurahan Lenteng Agung Jakarta Selatan atas penempatan Lurah Susan melalui lelang jabatan oleh Pemda DKI dimana masyarakat menilai bahwa Lurah Susan ini tidak cocok bagi warga Masyarakat Kelurahan Lenteng Agung serta munculnya polemik pemberitaan yang menyudutkan masyarakat kaum muslimin yang dianggap bersikap intoleran kepada Lurah Susan yang Nasrani, adanya sikap media yang membabi buta membela Lurah Susan, bahkan sikap Wagub DKI Ahok yang melecehkan aspirasi warga masyarakat hingga melecehkan Menteri Dalam Negeri yang mencoba memberikan solusi agar Pemda DKI mengevaluasi kembali keberadaan Lurah yang ditolak warga, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

  1. Meminta kepada Gubernur DKI Joko Widodo agar mengapresiasi aspirasi warga Kelurahan Lenteng Agung yang menjadi resah dengan keberadaan Lurah Susan sebagaimana tercermin dalam demo-demo yang mereka lakukan. Sebagai gubernur yang merakyat dan terkenal dengan “blusukan”nya Jokowi perlu membuktikan bahwa beliau sangat menghargai aspirasi warga sehingga bisa legowo mengevaluasi kebijakan penempatan Lurah Susan tersebut.
  2. Menyesalkan sikap Wagub Basuki “Ahok” Tjahaha Purnama yang sangat arogan melecehkan aspirasi warga Kelurahan Lenteng Agung dan bersikap sangat tidak etis kepada Mendagri Gamawan Fauzi dengan kalimat yang sangat melecehkan yakni agar Mendagri belajar kembali konstitusi.Sikap arogan Ahok ini juga tampak pada saat dipersoalkan kebijakannya melarang penyelenggaraan sholat di Masjid Baitul Arif di bekas Kompleks Perkantoran Suku Dinas Teknis di Jl Jatinegara Barat, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur dengan bahkan keluar kata-kata kasar sebagaimana diberitakan media bahwa sekarang banyak orang yang mau menyerobot tanah negara dengan membangun masjid. Tentu ini sangat menyinggung dan menyakitkan hati umat Islam.  Untuk itu sudah selayaknya Ahok meminta maaf kepada warga Lenteng Agung, Mendagri, dan umat Islam pada umumnya. Lebih bagus lagi sebagai bukti penyesalannya Ahok mengundurkan diri dari jabatan Wagub DKI.
  3. Menyerukan kepada seluruh komponen umat Islam agar tetap bersatu merapatkan barisan,  memelihara ukhuwah Islamiyyah, dan tetap senantiasa berpegang teguh kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya dalam melihat berbagai persoalan bangsa serta membela hak-hak dan kepentingan Islam dan kaum muslimin. 

Marilah kita renungkan firman Allah SWT:

Kaum mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka mengajak berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran, melakukan shalat, mengeluarkan zakat dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang akan mendapat rahmat dari Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa untuk menolong kaum mukmin lagi Mahabijaksana. (QS. At Taubah 71).

Jakarta, 28 Dzulqa’dah 1434 H / 3 Oktober 2013

KH. Muhammad Al Khaththath

Sekretaris Jenderal

FORUM UMAT ISLAM:

Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Hidayatullah, Al Washliyyah, YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, KISPA, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Forum Ruju’ Ilal Haq, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...