Berita Dunia Islam Terdepan

Sosok Habib Ali Darus Sholihin Puger, royal beraroma Syiah

Habib Ali bin Umar Al-Habsyi
6

JEMBER (Arrahmah.com) – Nama Habib Ali bin Umar Al-Habsyi atau yang dikenal oleh warga Puger dengan sebutan Ustadz Ali, tiba-tiba kembali mencuat ke publik. Setelah tragedi pemukulan dan pembacokan terhadap warga aswaja pada Mei 2012 lalu. Nama pimpinan Ponpes Darus Sholihin ini kembali disebut-sebut oleh media massa karena bentrokan yang menewaskan korban jiwa, pekan lalu Rabu (11/9/2013). Lalu, benarkah Habib Ali menyebarkan ajaran syiah? Siapakah sebenarnya sosok Habib Ali Al-Habsyi ini?

Secara umum bagi masyarakat Puger, Habib Ali dikenal sebagai sosok yang baik. Beliau dikenal pemurah sehingga banyak masyarakat yang merasa terbantu oleh kebaikannya. Dari mulai membantu pengobatan, membiayai orang yang sakit, hingga urusan tetek bengek beliau dikenal ringan tangan. Terlebih lagi kepada masyarakat yang mau menjadi jamaah pengajiannya.

Berdasarkan salah satu penuturan tokoh masyarakat, Habib Ali dikenal royal memberikan uang kepada para jamaah. Tiap ada hajatan seperti perayaan maulid atau haul, Habib Ali sering memberikan doorprize kepada warga berupa motor, kambing hingga hadiah uang tunai. Bukan hanya itu, tiap bulan Ramadhan bagi jamaah taraweh yang sholat di masjid lingkungan Ponpes akan mendapatkan uang selepas shalat. Jatahnya, bagi anak-anak diberi uang sebesar dua puluh ribu rupiah, sedangkan dewasa mendapat angpau sebanyak lima puluh ribu rupiah. Sehingga salah satu tokoh menuturkan dengan nada bercanda, “Jamaahnya mendapat pahala secara kontan, tiap ‘Allahuakbar’ (takbiratul ihram, red) lima puluh ribu,” tutur salah seorang tokoh Puger kepada Kiblatnet.

Jika melihat kondisi sosial dan perekonomian masyarakat Puger, mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Dengan mengandalkan mata pencaharian dari sektor pertanian dan laut, masyarakat Puger banyak yang tidak mapan secara ekonomi. Sehingga tawaran dan iming-iming ‘pahala kontan’ seperti yang ditawarkan oleh Habib Ali menjadi hal yang sukar untuk ditolak.

Terkucilkan sejak dulu

Habib Ali bin Umar Al-Habsyi ini dikenal sebagai pendatang dari Bali. Kemudian ia sempat menetap sementara di Puger lalu pindah ke Balung. Kecamatan Balung ini adalah tetangga Kecamatan Puger. Di Balung ia terusir sebab keyakinannya yang berbeda. Namun, saat itu media belum seramai seperti saat ini. Setelah terusir dari Balung ia sempat pindah ke Bondowoso kemudian pulang kembali ke Puger.

Menurut penuturan beberapa rekan seangkatannya, Habib Ali ini pernah berguru pada Habib Ahmad. Habib Ahmad adalah ulama sunni yang tersohor di wilayah Jember dan memiliki murid-murid yang sangat tersohor. Namun, menurut rekan-rekannya Habib Ali dari zaman berguru kepada Habib Ahmad pun tidak akur dan dikucilkan oleh teman-teman sejawatnya.

Di Puger, Habib Ali pernah menempati berbagai posisi strategis. Ia memulai karir mengajarnya di Yayasan Al-Khoiriyah, sebuah lembaga pendidikan milik keturunan Arab-Sunni. Di sisi organisasi dan politik Habib Ali juga bukan figur sembarangan. Ia pernah menempati posisi Dewan Mustasyar NU Kencong. Bahkan, ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Meski menjabat sebagai orang tersohor, perjalanan Habib Ali bukan tanpa cela. Menurut mantan Kepala Desa Puger Kulon Pak Tarno, Habib Ali pernah menyelewengkan tanah wakaf yang diamantkan kepada beliau. “Tanah wakaf yang semestinya diserahkan pada yang berhak, diselewengkan sehingga tanah tersebut menjadi atas nama Habib Ali,” ujar laporan yang sampai pada Kiblatnet.

Putera Habib Ali, Mayor (laut) Isa Al-Mahdi ini sangat membanggakan peran Habib Ali dalam mendatangkan tokoh-tokoh besar ke Ponpes Darus Sholihin. Pensiunan dini marinir angkatan laut itu menuturkan bahwa tokoh sekaliber Hasyim Muzadi pernah diundang oleh Habib Ali dalam suatu perayaan maulid. Bahkan Anggota DPR, Ali Machsan Musa adalah orang yang menandatangani peresmian Masjid Darus Sholihin.

Meski Isa Al-Mahdi menolak mentah-mentah tuduhan bahwa pondoknya mengajarkan syiah, pada tahun 2012 lalu Habib Ali bin Umar Al-Habsyi pernah mengaku di hadapan Kesbangpol beserta sejumlah tokoh masyarakat bahwa dirinya pernah menyebarkan ajaran syiah dan menandatangani perjanjian untuk tidak mengulangi kembali, serta taubat kembali ke ajaran Islam.

Pihak MUI Kabupaten Jember sebelumnya, telah mengadakan penelitian dan klarifikasi secara mendalam terkait Habib Ali bin Umar Al-Habsyi yang ditengarai menyebarkan paham syiah kepada masyarakat. Sayangnya, fatwa ini belum tersosialisasikan secara luas. Keputusan itu dituangkan dalam Fatwa MUI Kabupaten Jember No 56/MUI-JBR/VI/2012 Tentang Paham dan Ajaran Jabib Ali bin Umar Al-habsyi Desa Puger Kulon Kecamatan Puger Kabupaten Jember yang menyatakan bahwa Habib Ali terbukti menyebarkan ajaran syiah yang sesat dan menyesatkan.

Saat ini, Habib Ali sudah berusia 70 tahun lebih. Ia tak banyak beraktifitas ke luar pondok. Sebab, untuk berjalan pun Habib Ali harus dipapah.

Ajaran yang disampaikan oleh Habib Ali di banyak kesempatan pengajian dan tabligh akbar telah meracuni pandangan sebagian kaum muslimin di Puger. Di tengah masyarakat Puger ajaran Habib Ali sedikit demi sedikit telah merasuk ke dalam benak mereka. Hal ini bisa terlihat dalam dialog Kiblat.net bersama salah seorang warga Puger. Sebut saja Y, (identitas kami samarkan) ia adalah seorang penduduk asli yang bekerja di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Puger.

Y, seperti kebanyakan warga Puger adalah warga ahlusunnah wal jamaah, seorang nahdliyyin tulen. Ia dan keluarganya menerima Kiblat.net dengan ramah di kediamannya saat kami baru saja tiba di Puger. Di tengah diskusi, ada ucapannya yang membuat kami tergelitik. “Memang Ali (radhiallahu anhu; red) itu lebih utama daripada sahabat lainnya. Karena berbeda dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ali tidak pernah menyembah patung. Ia masuk Islam sejak kecil,” tuturnya polos.

Saat dikonfirmasi kepada Ketua MWC NU Kecamatan Puger, KH. Agus Mudhofir menyatakan bahwa memang itulah yang disebarkan oleh Habib Ali sebagai pintu masuk seseorang untuk menjadi Syiah.

“Pemuliaan sahabat Ali dibandingkan sahabat-sahabat lainnya adalah entry point seseorang menjadi Syiah,” ujar Mudhofir yang juga peneliti ajaran Syiah ini.

Menurutnya, apabila seseorang meyakini bahwa Ali memiliki keutamaan dibanding sahabat yang lain akan melahirkan fanatisme yang berujung pada pengkultusan individu. Dari fanatisme yang berlebihan itu bisa muncul ekstremisme hingga pada pencelaan para sahabat Nabi yang lain.

Demikianlah penelusuran Kiblatnet terhadap sosok Habib Ali bin Umar Al-Habsyi, yang kami yakin sosok seperti ini banyak bertebaran di bumi nusantara. Wilayah mayoritas muslim yang menjadi target utama serangan ideologi transnasional, Syiah Imamiyah.

Ponpes Darus Sholihin dan tranfer 2 milyar

Keberadaan yayasan pendidikan dan Ponpes Darus Sholihin juga sebenarnya menjadi sesuatu yang ganjil di tengah masyarakat Puger. Ponpes Darus Sholihin berdiri di Puger sejak tahun 1991, saat itu kondisinya sangat sederhana, dengan bangunan dan lahan seadanya. Namun kini, Yayasan yang dikelola oleh habib Ali tersebut menjelma menjadi yayasan pendidikan yang terbesar dan termegah di Kecamatan Puger.

Hal ini dibenarkan oleh masyarakat Puger sendiri yang merasa keheranan dengan kemampuan finansial pihak pengelola yayasan yang mampu mengadakan jenjang pendidikan dari tingkat pra sekolah (PAUD) hingga tingkat SMK dan Aliyah.

Setelah beberapa hari berlalu dan konflik mulai mereda, Kiblatnet berhasil masuk ke dalam komplek Darus Solihin dan menemui Isa Al-Mahdi, putera Habib Ali bin Umar Al-Habsyi. Terlihat komplek Ponpes tersebut terlihat cukup megah jika dibandingkan dengan yayasan pendidikan lain yang berada di Kecamatan Puger. Bangunan yayasan dominan dicat berwarna biru. Di dalamnya terdapat sebuah masjid besar dengan dinding dan lantai keramik, sementara di seberangnya ada bangunan sekolah bertingkat letter-L dengan cat berwarna senada. Di beberapa bangunan kelas terlihat ada beberapa lab komputer dan ruangan berpendingin udara. Bangunan itu berdiri diatas lahan yang cukup luas, sementara di sebelah area bangunan sekolah terdapat asrama bagi santri putera dan puteri.

Megahnya bangunan Yayasan Darus Sholihin menimbulkan pertanyaan menggelitik di kalangan warga Puger. Dari manakah dana pembangunan yayasan itu berasal? Sementara Habib Ali tak pernah sedikitpun meminta bantuan kepada pihak pemerintah maupun warga setempat.

Dari penuturan warga sekitar pun banyak yang merasa ganjil. Dana pihak Ponpes selalu mengalir untuk dibagikan maupun untuk pagelaran acara besar seperti karnaval, seolah tak pernah ada habisnya. Ada  informasi pada beberapa tahun yang lalu, bahwa mantan Dandim (Komandan Kodim Jember) pernah menyampaikan kepada para tokoh masyarakat Puger, ada transfer dari luar daerah yang dikirim ke rekening Habib Ali senilai dua milyar rupiah. Hal ini dilaporkan pihak keamanan, sebab mereka curiga ada kiriman dana sebanyak itu kepada yayasan antah berantah di wilayah pinggiran Kabupaten Jember.

(azmuttaqin/kiblat/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...