Berita Dunia Islam Terdepan

Kontes Miss World wujud arogansi kapitalis global

4

Oleh : Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

(Arrahmah.com) – Kontes Miss World 2013, tanggal 8 September 2013 dimulai. Meski ada penolakan dari berbagai elemen Islam. Pihak penyelenggara (MNC Group-RCTI) di bawah pimpinan Harry Tanoe seolah tidak bergeming sedikitpun. Keukeuhnya RCTI tetap menyelenggarakan Miss World bukan tanpa alasan.  Berbagai argumentasi rasional, logis dan ilmiah pun dibangun. Dukungan masif dari  berbagai elemen strategis pengambil kebijakan pun digalang. Pihak penyelenggara berkeyakinan bahwa tidak mungkin gagal penyelenggaraan kontes Miss World di Bali Indonesia pada tanggal 8 sampai dengan 25 September 2013 dan puncaknya pada tanggal 28 September 2013 di Sentul itu.

Apalagi perwakilan dari 120 negara sudah berdatangan sejak tanggal 3 September 2013 di Bali. Ini bisa dilihat dari pernyataan representasi MNC Group-RCTI. “Untuk meninjau ulang kegiatan, menurut kami sudah sangat terlambat,” kata Syafril Nasution, Direktur Corporate Affairs RCTI, salah satu anak perusahaan MNC, saat dihubungi oleh wartawan BBC, Christine Franciska. “Ini harus tetap kita jalankan tidak mungkin membatalkan acara yang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Para peserta sudah seluruhnya datang. “Kalau sampai batal bagaimana pandangan negara lain terhadap kita dan pemerintah kita yang sudah mengeluarkan izin.” Imbuhnya. (BBC Indonesia 6/9/2013).

Rasionalisasi penyelenggaraan Miss World agar sesuai dengan budaya dan ajaran Islam pun dilakukan. Buktinya menurut Syafril bahwa kontes Miss World kali ini sudah dengan meniadakan kontes bikini. Lebih jauh dijelaskan bahwa penyelenggaraan kontes Miss World ini memiliki nilai strategis politis dan ekonomis bagi Indonesia. Akan datang ratusan berbagai media seluruh dunia dan ada sekitar 40 desainer Indonesia yang karyanya dilihat oleh dunia. Penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia menjadi semacam test case seberapa tingkat resistensi umat Islam di Indonesia terhadap setiap event-event yang mencederai dan melukai aqidah Islam. Dan bisa diprediksikan berikutnya bahwa pengambil kebijakan negeri ini dibawah komando SBY tidak akan mungkin membatalkan penyelenggaraan Miss World kali ini. Kecuali terjadi sebuah gelombang penolakan besar dan masif yang menggerakkan seluruh elemen umat untuk menekan SBY dan seluruh jajaran yang ada di bawahnya yang telah memberikan rekomendasi ijin penyelenggaraan Miss World kali ini. Dan kalau itu terjadi maka bukan tidak mungkin, secara politik praktis akan menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyikat Harry Tanoe yang sudah merapat ke Hanura bersama Wiranto dan ditolak oleh beberapa petinggi Hanura. Di tengah menjelang suksesi politik 2014 yang dipenuhi oleh calon-calon penguasa dari kalangan para kapitalis media seperti Abu Rizal Bakrie, Surya Paloh, Harry Tanoe, Dahlan Iskan dan lain-lain.

Gelombang penolakan oleh berbagai elemen umat Islam akan dikanalisasi ke dalam sebuah desakan untuk mempressure RCTI-MNC Group. Bukan kepada pengambil kebijakan yang telah mengeluarkan ijin rekomendasi. Dalam logika pengambil kebijakan maka ditimbang-timbang lebih dulu seberapa kadar konstelasi desakan berbagai elemen umat Islam itu akan mengancam eksistensi penyelengaraan kontes Miss World. Dan seberapa tingkat opini media internasional memberikan penilaian negatif jika terjadi gagalnya penyelenggaraan Miss World. Ini menjadi semacam test case yang akan menentukan bagaimana corak Indonesia sebenarnya di mata Internasional alias di mata para penjajah kafir muharibban fi’lan. Apakah Indonesia termasuk dalam kategori sebuah negara yang kekuatan politis sekuler liberalisnya kuat. Atau kekuatan politis Islamnya yang kuat. Salah satu indikator pengukurnya adalah berhasil atau gagalnya kontes Miss World kali ini.  

Dalam logika demokrasi sekuler liberal, setiap pendapat kontra terhadap kebijakan-kebijakan negara meski merugikan dan melukai aqidah Islam sekalipun, tetap akan mendapatkan ruang pengelolaan manejemen konflik sepanjang tidak anarkis atau mengancam eksistensi rezim dan sistem thogut di negeri ini. Sama seperti tetap diapresiasinya mereka yang tidak mengambil bagian dalam partisipasi politik pemilihan umum alias golput. Karena baik mereka yang mengambil hak suara maupun yang tidak memanfaatkan hak suara dilindungi oleh undang-undang dan konvensi internasional. Bahkan sebagian pengamat berpendapat bahwa tingkat presentase golput akan menjadi indikator seberapa tingkat demokratis sebuah negara. Semakin tinggi tingkat presentase golput sebuah negara maka semakin demokratislah negara tersebut begitu juga sebaliknya. Hal itu juga nampak dalam konteks kontes Miss World kali ini. Sepanjang desakan-desakan berbagai elemen untuk menggagalkan kontes itu tidak mengancam penyelenggaraannya secara fisik dan politis maka tetap bisa diakomodasi.  Kecuali terjadi pressure politis seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Test case demi test case terhadap aqidah Islam secara bertahap telah dilalui. Sebelum kontes Miss World ada banyak peristiwa dan kebijakan yang sesungguhnya melukai dan mencederai keyakinan kaum muslimin. Masih butuh upaya perjuangan yang sistematis dan masif hingga datangnya sebuah perubahan mendasar dan komprehensif. Respons umat Islam melahirkan desakan-desakan dalam bentuk nasehat dan peringatan belum melahirkan perombakan yang menyeluruh melainkan hanya perubahan parsial yang tambal sulam. Bahkan terkesan gagalnya perubahan menyeluruh berbuah toleransi terhadap berbagai penyesuaian-penyesuaian kemaksiatan dan penyimpangan. Logika Syafril representasi RCTI yang menjadi penyelenggara  kontes Miss World bahwa secara konten acara sudah disesuaikan dengan budaya Islam dari pakai bikini menjadi tidak pakai bikini adalah sebagai sebuah strategi akomodasi agar kelompok-kelompok Islam yang mendesak pembubaran kontes merasionalisasi tuntutannya. Apalagi jika desakan pembubaran kontes Miss World dilihat dari perspektif bahwa apakah mendatangkan keuntungan materi atau tidak sebagai sebuah komoditas industrialisasi pariwisata. Di tengah kenyataan bahwa di negeri ini tidak ada satupun bidang pariwisata yang tidak dikelola dengan mindset sebuah industrialisasi.

Tidak ada satupun segala bentuk kemaksiatan di negeri ini yang tidak dikelola dengan industrialisasi. Mulai dari industrialisasi Miras. Industrialisasi prostitusi. Industrialisasi korupsi. Industrialisasi teroris. Dan lain-lain. Kalaupun ada kebijakan untuk memecahkan atau menanggulangi problem industrialisasi kemaksiatan itu hanyalah sebatas lipstik.  Yakni dengan segala bentuk pledoi diantaranya bahwa berbagai kemaksiatan yang muncul sudah menjadi sesuatu yang alamiah. Lahir secara natural turun temurun. Tanpa mencoba memilih dan memilah mana kemaksiatan yang lahir karena diterapkannya kebijakan sistemik. Dan mana kemaksiatan yang lahir karena case by case.

Melihat peta medan perjuangan yang dihadapi oleh berbagai elemen umat Islam dalam konteks kontes Miss World ini, maka perlu dipahami bersama oleh berbagai elemen umat antara lain :

  1. Bahwa negeri ini jelas-jelas sebagai sebuah negara yang menggunakan prinsip ideologi kapitalisme. Demokrasi sebagai payung sistem pemerintahannya. Liberalisasi sebagai tatanan nilai sehari-harinya. Dan sekulerisme sebagai ruh yang menjadi pondamen di setiap pilar-pilar masyarakat terutama pilar pendidikannya. Kontes Miss World adalah legitimasi liberalisasi nilai-nilai sosial budaya

  2. Berbagai momentum test case kemaksiatan untuk mengukur tingkat resistensi keyakinan kaum muslimin mestinya menjadi momentum penyatuan kesadaran berbagai elemen umat untuk segera menumbangkan rezim dan sistem thogut di negeri ini yang menjadi perpanjangan tangan dari kekuatan kapitalis internasional

  3. Hadirnya beragam bentuk kemaksiatan yang diindustrisasi di negeri ini termasuk kontes Miss World 2013 semakin mengokohkan potitioning negeri ini sebagai “the corporate state” yang berakar pada nilai-nilai kapitalisme liberalisme. Dimana parameter untung rugi secara materiil sebagai ukuran standart menentukan kebijakan negara bukan halal haram

  4. Pintu liberalisasi kapitalisasi dikokohkan melalui produk legislasi. Keluarnya ijin rekomendasi penyelenggaraan kontes Miss World menjadi bukti bahwa negara memfasilitasi dan bahkan melindungi dengan cap stempel produk legislasi yang berlaku. Dan panitia penyelenggara kontes ini berlindung di atas dasar ijin rekomendasi penyelenggaraan yang telah dikeluarkan

Perlu kita renungkan kembali sabda Rasullulloh SAW tentang tata tertib ketika melihat kemungkaran. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.‘.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bis shawab.

(arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...