Pelajaran-pelajaran besar dari Mesir berdarah (bagian 2)

15

Oleh: Abu Robbani Abdullah Ricko bin Soenoko, SS
(Penyusun buku “Perang Akhir Zaman”, ketua Majelis Mujahidin LPW Jabodetabek)

(Arrahmah.com) – Sekali lagi kita harus merekonstrusi kembali bangunan ukhuwah/persaudaraan Islam  diantara kaum muslimin, terutama  para aktifis dakwah dan jihad. Juga di antara kelompok-kelompok dakwah dan jihad mereka. Menguatkan bangunan ukhuwah dan ishlah (perbaikan ummat) diantara mereka-sungguh-merupakan perkara yang harus didahulukan  setelah iman dan sebelum perkara kepemimpinan dan amar makruf nahi munkar dan  jihad fi sabilillah[1]. Atau saat ini bisa dilakukan secara bersamaan.

Upaya-upaya untuk menyatukan hati dan membangun kesepahaman serta berlapang dada dalam mensikapi perbedaan furu’iyyah harus terus dibangun dengan melakukan pertemuan-pertemuan bersama secara intensif, mengadakan tabligh akbar dan  kongres, seminar-seminar untuk menggaungkan penyatuan hati dan ukhuwwah Islamiyah. Juga upaya-upaya nyata praktis mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Walaupun memang kita tidak dapat bersatu secara phisik, melebur menjadi satu jamaah saja diantara sesama gerakan dan jamaah-jamaah dakwah yang ada[2], namun membangun sinergi adalah sebuah keniscayaan dan sangat mungkin bisa diwujudkan. Saling berbagi tugas dan berkoordinasi secara intens dalam perencanaan dakwah, amar makruh dan nahi munkar serta jihad fi sabilillah. Membuat agenda-agenda bersama berdasarkan skala prioritas; apa yang paling mendesak dan harus dikerjakan terlebih dahulu.

Sudah saatnya kesombongan jahiliah, mengutamakan manhajnya/kelompoknya  dari manhaj kelompok dakwah lainnya harus disingkirkan dari benak & hati mereka. Slogan-slogan jahiliah “kami lebih baik/benar dari kalian atau mereka” sudah saatnya ditinggalkan dan dibuang ketempat sampah,karena sudah usang dan tidak laku lagi. Itu hanya ungkapan-ungkapan  syaithoniyah yang telah merobek-robek dan mengoyak kesatuan dan persatuan ummat Islam. Percayalah Allah tidak pernah memerintahkan antum semua untuk masuk kedalam kelompok Muhammadiyah, Nahdhotul Ulama, Al-Irsyad, Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, Salafi, Jihadis  Al-Qaida, Jamaah Tabligh, Jamaah Islamiah, Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Anshoruttauhid, Jamaah Tauhid wal Jihad dan lain lain.[3] Karena mereka itu hanya ibarat seperti kendaraan saja untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah.

Maka barang siapa yang menjadikan kelompok-kelompok tersebut sebagai tujuan hidup mereka dan membangun loyalitas dan kebencian diatas kelompoknya dan manhaj kelompoknya, dan menganggap kelompoknya lebih baik dari yang lain,  maka dia telah salah dan berdosa. Dia telah menyeru kepada seruan jahiliah, tempat mereka ini kelak adalah neraka Jahannam. Namun barang siapa yang memandang bahwa kelompok-kelompok diatas yang masih dalam koridor aqidah  ahlussunnah wal jamaah dan tidak fanatik dengan kelompok/jamaah; hanya sebagai kendaraan untuk beramal saleh saja -terutama ketika khilafah Islamiyah belum tegak[4]– , beramal jama’i dan tetap saling bersaudara dengan muslimin dari kelompok lainnya, setia kepada Islam dan membela kaum muslimin, maka mereka ini di atas kebenaran, insya Allah.[5]

Wahai ikhwah fillah, sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah sukses membangun kekuatan ummat ini dan memperluas  basis kekuasaan Islam  sampai ke seluruh Jazirah Arab hanya memerlukan waktu kurang dari setengah abad. Rahasianya adalah bertumpu pada 4 kekuatan :

  1. Kekuatan aqidah dan ibadah

  2. Kekuatan ukhuwah imaniah

  3. Kekuatan kepemimpinan

  4. Kekuatan dakwah (amar makruf nahyu ‘anil munkar) dan jihad fi sabilillah.

Dengan kekuatan inilah beliau sukses dengan izin Allah membangun umat dan negara Islam. Setelah beliau masuk ke kota Yastrib  maka beliau membangun Masjid Nabawi, lalu mempersaudarakan antara Muhajirin dan anshor, kaum Aus dan Khozroj. Saat itu Rasul menggenggamkan tangan dua orang,  seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar. Rasul berkata pada mereka, “Bersaudaralah karena Allah dua-dua.”

Maka Rasulullah mempersaudarakan antara Sa’ad bin Rabi’ dan Abdurrahman bin Auf. Saat itu, Sa’ad langsung menawarkan setengah hartanya kepada Abdurrahman, memberikan salah satu dari dua rumahnya. Bahkan ia siap menceraikan salah satu istrinya supaya bisa dinikahi oleh Abdurrahman.

Pemuliaan keimanan kaum Anshar ini diterima kaum Muhajirin dengan keimanan pula, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, “Biarkanlah harta, rumah, dan istrimu bersamamu. Tunjukkanlah aku pasar.” Maka Abdurrahman meminjam uang dari Sa’ad, sehingga Allah membukakan pintu-pintu rizki baginya, sehingga Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu sahabat Nabi yang sangat kaya.

Allah berfirman, “Bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang Anshar yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah pada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka,orang-orang Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang diperlihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al-Hasyr: 8-9).

 Setelah perang Badar, kaum Muslimin menawan 70 orang musyrikin. Salah seorang dari kaum musyrik itu bernama Aziz, saudara kandungnya sahabat Rasul bernama Mus’ab bin Umair. Ketika Mus’ab melihat saudara kandungnya, ia berkata pada saudaranya yang muslim, “Kuatkanlah ikatannya. Mintalah uang darinya sesukamu, karena ibunya memiliki banyak uang.” Dengan terkejut Aziz berkata, “Apakah seperti ini wasiatmu atas saudaramu?” Mus’ab berkata, “Kamu bukan saudaraku, akan tetapi dia (sambil menunjuk seorang Muslim).” Ini menunjukkan bahwa ukhuwah atas dasar agama lebih kuat dari hubungan darah.

Pernah seorang sahabat Rasulullah memberikan segelas air kepada salah satu teman-temannya yang sedang mengembala kambing. Temannya tersebut memberikan air kepada teman kedua. Yang kedua memberikan kepada yang ketiga. Begitulah seterusnya, hingga air tersebut kembali pada yang memberikan air pertama kali, setelah tujuh kali air itu berpindahan tangan.

Salah seorang sahabat Rasul bernama Masruq memiliki hutang yang banyak. Namun karena saudaranya bernama Khaitsamah juga berhutang, maka Masruq membayar hutang Khaitsamah tanpa sepengetahuannya. Sedangkan Khaitsamah, mengetahui saudaranya masruq memiliki hutang yang banyak, ia pun membayarnya tanpa sepengetahuannya Masruq.Pertanyaannya:” adakah contoh-contoh kisah persaudaraan sejati imaniah pada hari ini yang seperti mereka dimasa lalu? Semoga Allah menjadikan kita saling bersaudara karena-Nya seperti kaum salafussaleh dimasa keemasan Islam.Aamiin!

Maka membangun ukhuwwah adalah satu keharusan setelah membangun kekuatan iman, dan sebelum membangun kekuatan dakwah , jihad dan kepemimpinan Islam. Ini tidak dapat dipungkiri.Apalah artinya iman yang baik pada diri seseorang kalau diantara sesama mukmin masih ada sikap saling hasad, namimah, Tajassus(memata-matai), saling mencela dan ghibah. Apalah arti kepemimpinan jika rakyat dari sang pemimpin saling bermusuhan dan membenci, pastilah urusan membangun negara dan masyarakat akan rusak berantakan. Demikian juga  urusan dakwah dan jihad akan porak-poranda ketika barisan da’i & mujahidin saling berselisih dan berpecah belah di antara mereka. Pastilah kemenangan akan jauh dari umat Islam. Contoh realnya adalah mesir hari ini.[6]Maka sungguh benarlah langkah yang ditempuh Nabi saw dengan membangun pada awal kepemimpinannya di Madinah , membangun persaudaraan imaniah. Dengan kekuatan iman dan kekuatan ukhuwah maka urusan kepemimpinan, dakwah dan jihad serta hal-hal lainnya dapat berjalan dengan baik dan lancar.Pembicaraan tentang ukhuwah islamiah ini secara luas terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadits-hadits nabi saw.; Dibahas secara luas dan mendalam pada keduanya. Maka hendaklah orang-orang yang beriman mempelajarinya kembali agar dapat mengambil pelajaran yang tinggi tentang persaudaraan Islam ini.

Dengan demikian jika ditanyakan kepada kami mana manhaj dakwah[7]  yang paling haq atau kelompok yang paling benar ; Apakah Muhammadiyah atau NU, atau Jamaah Tabligh, atau Hizbuttahrir atau Ikhwanul Muslimin atau Salafi atau al-Qaida,ataukah jama’ah Islamiah ataukah kelompok lainnya. Maka kami katakan :”Selama aqidah dan manhaj dakwah mereka masih dalam koridor Islam ahlussunnah wal jama’ah dalam pengertian yang luas, tidak bemakna sempit,maka perumpamaan mereka semua adalah seperti kesatuan anggota-anggota  tubuh: Mana yang lebih penting: Mata ataukah telinga; lidah ataukah  tangan; Kaki ataukah jantung; Paru-paru ataukah anggota-anggota lainnya? Siapa yang tidak tahu akan  jawaban pertanyaan yang tidak perlu dijawab  ini, maka orang itu lebih dungu dari keledai peliharaannya.

Perumpamaan lainnya dari kelompok-kelompok dakwah di indonesia  ini jika mereka bisa bersatu dan saling bersinergi; Sama-sama bekerja dan saling bekerja sama adalah seperti seperti sebuah Puzzle, dimana setiap keping dan potongan gambar saling mengisi pada tempatnya masing-masing sesuai dengan bentuk ,fungsi dan perannya masing-masing.ketika semua kepingan-kepingan puzzle telah menempati tempatnya dengan benar maka akan nampaklah sebuah gambaran  mozaik yang indah. Itulah perumpamaannya.

Gambaran realnya adalah: Belajarlah kalian wahai ummat  tentang ilmu agama kepada saudara kalian dari kaum pengkhdimat ilmu dari Persis, Al-Irsyad, NU, Salafiyun dan lain lain, dimana pesantren mereka tersebar luas di nusantara. Merekalah ahlinya. Kemudian tingkatkanlah setelah pencapaian ilmu ini kepada pengamalannya lalu berdakwah dengan ikhlas, beramar makruf dengan hikmah dan perkataan yang baik, maka belajarlah kalian jika ingin mengambil jalan dakwah ini ,kepada saudara kalian dari jama’ah tabligh, merekalah para ahlinya. Juga orang-orang semisal dengan mereka dari kelompok-kelompok dakwah lainnya. Siapa yang ingin mengambil bagian menjadi orang yang utama karena dzikrullah dan menekuni tazkiatunnafsi (pembersihan hati dan jiwa dari sifat-sifat tercela ) maka bergabunglah dengan  jamaah dzikir Ustadz Arifin Ilham atau kelompok-kelompok tasawuf moderat dari ahlissunnah wal jamaah. Lebih dari itu siapa yang  berkeinginan untuk terjun kepada amal nahi ‘anil munkar maka jangan segan-segan bergabung dengan FPI (Front Pembela Islam). Jangan ditanya tentang ketegaran mereka dalam memberantas maksiat dan kemungkaran. Nama mereka  sudah tenar, harum dan mendunia. Kelompok lainnya yang hampir sama atau serupa adalah GARIS (gerakan reformasi Islam), atau yang semisal mereka itu. Sungguh umat perlu kepada peran dari amal-amal mereka. Siapa saja yang ingin membentengi ummat dan melawan musuh-musuh Islam  maka belajarlah atau bergabunglah kepada saudara kita dari Majelis Mujahidin indonesia, atau dari jamaah-jamaah jihad lainnya. Mereka berdiri dibarisan paling depan ketika umat dan agama ini terancam dibantai atau akan diperangi atau akan dirusak dan dihina ajaran-ajarannya. Adapun yang ingin menempuh dakwah secara diplomasi  di parlemen untuk memperjuangkan kemenangan syariat Islam  melalui Pemilu dan menghadapi kaum sekuler,liberal dan anti syariat islam di Parlemen maka masuklah ke dalam Partai Bulan Bintang atau PPP atau yang semisalnya, yang masih memperjuangkan syariat Islam.

Selama mereka memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di lembaga negara dan di negeri ini maka perjuangan mereka harus didukung,terlepas dari segala kekurangan yang ada pada mereka atau fitnah yang sedang mereka alami saat ini.Berlakulah bijak dalam mensikapi kekurangan-kekurangan mereka ini. kami menyaksikan sebagian dari ummat ini bersikap berlebihan tentang saudara-saudara kita ini. Ada yang bersikap ekstrim/ghuluw terhadap mereka dimana mereka menganggap partai-partai Islam ini -karena berjuang lewat demokrasi- maka hukum bagi mereka adalah  sirik akbar; maka mereka   telah menjadi murtad, kafir dan musyrik; batallah segala amal-amal mereka, bahkan darah merekapun halal. Sebagian dari mereka bahkan dengan entengnya memplesetkan nama PKS menjadi Partai Kafir Sejati. Sebagian lainnya menjadi golput di Pemilu karena melihat partai-partai Islam yang telah berubah orientasi perjuangannya dari idealisme penegakkan sariat Islam menjadi orientasi duniawi. Sikap mereka ini sungguh akan memberi kemenangan mudah bagi musuh-musuh mereka. Bagaimanapun keadaan mereka (parpol Islam)saat ini dengan kasus-kasus yang menimpa mereka [8], maka  mereka ini adalah termasuk salah satu harapan dimana kita menitip sebagian beban/amanat perjuangan islam di pundak mereka di MPR/DPR.

Banyak sekali Perda-perda bernuansa Syariah serta UU yang bernafaskan Islam yang telah mereka hasilkan sejak dulu. Kita harus berterima kasih kepada mereka dan tetap mendukung mereka. harus ada ulama-ulama yang takut kepada Allah swt untuk mendatangi mereka dan memberikan nasehat yang baik dan bijaksana agar mereka kembali bertaqwa dan istiqomah dalam kebenaran. Pandangan-pandangan ghuluw seperti ini tidaklah timbul kecuali dari pemahaman yang ghuluw juga[9]. Bahkan tidak mau menerima bentuk pemahaman lainnya kecuali fanatik kepada semua pendapat masyaikhnya, khususnya tentang demokrasi dan PEMILU.

Sungguh pandangan ulama-ulama dunia tentang demokrasi ini cukup beragam dan luas, tidak satu pendapat. Mereka semua sepakat bahwa jika demokrasi didefinisikan sebagai suatu keyakinan/ideologi dimana nilai-nilai kebenaran sejati/mutlaq adakah didasarkan atas pandangan mayoritas manusia Apakah dalam nilai-nilai kebenaran pada sistem ideologi, ekonomi,sosial,budaya dan lain lain, maka demokrasi dalam pengertian seperti itulah yang dianggap kebagai kekufuran, dan siapa yang berkeyakinan seperti itu maka ia menjadi kafir secara ‘aam (umum). Namun dalam masalah keikut sertaan dalam MPR/DPR, atau membuat Parpol-parpol Islam untuk memenangkan Pemilu maka mereka berbeda pendapat.

Demikian juga terdapat perbedaan dalam melihat Pancasila dan UUD45.’ Pancasila yang dibuat para ulama Islam dan UUD 45′ tidak dijumpai -didalamnya- pandangan  tentang demokrasi seperti definisi di atas. Bahkan para ulama menetapkan di Pancasila bahwa bentuk negara kita tidak menganut asas demokrasi  seperti yang diinginkan oleh rumusan panca sila menurut  rancangan Ir. Soekarno atau rancangan Mr Muhammad yamin (dimana dijumpai istilah demokrasi secara eksplisit), akan tetapi negara kita adalah negara Musyawarah menurut sila IV Pancasila. Tentu saja Musyawarah dengan demokrasi tidaklah sama kandungannya,seperti langit dan bumi[10], kecuali dalam sedikit hal saja seperti berbicara ,berdiskusi ,berdebat untuk mencari penyelesaian bersama, atau  ketika menghadapi  terjadinya perbedaan pendapat maka jalan keluarnya adalah dengan mufakat bulat atau dg. jalan keluar terbaik cara voting utk. mendapatkan suara terbanyak. Itu adalah beberapa sisi kesamaannya.

Namun yang terjadi di Indonesia adalah muncullah kaum nasionalis sekuler yang sejak proklamsi kemerdekaan berusaha untuk menggiring dan membawa NKRI menjadi negara demokrasi seperti yang kita lihat saat ini.[11] Mereka telah menafsirkan Pancasila dan UUD45 menurut tafsiran hawa nafsu mereka, bertentangan dengan maksud dari para ulama dahulu yang telah membuatnya; Bahkan mereka telah membuat persengkongkolan jahat dengan menghapus 7 kata dari sila pertama pada Piagam Jakarta:” Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”[12]Disinilah para ulama-ulama pergerakan dan robbaniyin memandang dengan pandangan lebih arif dan moderat bahwa ada celah, juga sebagai wasilah, dimana umat Islam harus menempatkan waki-wakilnya yang dapat menyuarakan hak-hak politik umat Islam dan memenangkan pemilu dengan menghasilkan suara terbanyak bagi kepentingan umat Islam , dan  untuk menghadapi kaum sekuler, liberal dan kaum kafirin di MPR/DPR yang ingin menghancurkan Islam dan umatnya lewat UU dan Perda yang  mereka buat. Inilah pandangan syaikh Said Hawwa, Yusuf qordhowi, Buya hamka, Mr. Muhammad Natsir, dan tokoh-tokoh Masyumi, Syaikh Bin Bazz, Utsaimin dan Syaikh al-Albani, dan lain-lain. Kenyataannya banyak partai-partai Islam yang memenangkan Pemilu seperti di Tunisia, Aljazair,Mesir,Turki. Palestina. Yang menjadi masalah adalah bahwa sebab kekalahan ini berasal dari tidak bersatunya umat Islam dan  jamaah-jamaah dakwah dan jihad di antara mereka sendiri, dinegeri-negeri muslim karena kepongahan dan kesombongan ashobiyah manhaji,bukan karena salah memilih cara perjuangan dengan lewat demokrasi dan pemilu[13]. Satu dan lainnya saling berselisih, dan berpecah belah. Masing-masing kelompok merasa kelompoknya paling benar, saling  mencela dan menyalahkan satu sama lainnya. Sungguh musibah besar, kita patut mengucapkan inna lillahi wa inna lillahi roji’un. Kita selalu mengulangi masalah yang sama, terjerembab kedalam lubang yang sama berulang kali, persis seperti Yahudi dan Nasrani; penyakit ini tidak hanya menimpa kaum  awamnya, juga bahkan menimpa ulama dan cendekianya.Semuanya sama! Hanya sedikit yang diselamatkan Allah! Maka Pesan saya: “Janganlah engkau berikan dengan gratis dan cuma-cuma NKRI yang telah dengan susah payah diperjuangkan oleh para ulama kita dahulu kepada kaum sekuler, liberal,kaum sesat dan kafirin” hanya dengan satu kalimat saja ‘Pemilu adalah sirik akbar.’

Kami menganggap bahwa Pancasila dan UUD 45 bukanlah pengganti Dinul Islam, sama sekali tidak! Juga bukan menandingi Islam. Kedudukannya adalah mirip /menyerupai Piagam Madinah disamping  Alquran dan sunnah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dimana Nabi membuat Konstitusi Madinah untuk mengatur kehidupan bersama diantara komunitas-komunitas yang pluralis di kota madinah, padahal sudah ada pada diri beliau dua  hal yang  terbaik, Al-Qur’an dan Sunnah beliau shallalahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah kedudukan/posisi Pancasila adalah seperti itu; Ingin mengatur komunitas-komunitas yang pluralis di Indonesia untuk hidup bersama dengan segala keyakinan dan perbedaan mereka, seperti halnya Piagam Madinah. Hanya saja Pancasila dan UUD 45 yang ada saat ini harus direformasi. Pemahamannya dan tafsirannya harus disesuaikan dengan syariat Islam.[14] Bagaimanapun juga ia hanyalah buatan manusia, tidak sempurna. Selama isi  keduanya bersesuaian dengan Islam, demikian juga penafsirannya dan pengamalannya maka kita harus mendukungnya; namun apabila bertentangan dalam isi dan tafsirannya dengan islam maka harus ditolak & direformasi! Inilah pandangan-pandangan kami tentang panca sila, UUD45 ,Demokrasi dan PEMILU. Kami juga berpandangan bahwa kewajiban bersama kita yang paling utama adalah penegakan syariat Islam secara total di Indonesia, baik di lingkungan pribadi, keluarga,masyarakat dan negara berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah nabi Saw. Demikianlah pandangan kami bagaimana memposisikan Al-qur’an dan Sunnah Nabi saw terhadap Panca Sila dan UUD 45, serta hubungan diantara keduanya. Kami mengambil pandangan yang  lebih arif, moderat dan masih dalam koridor Islam ttg. masalah ini. Salah satu tujuannya adalah untuk menyatukan sebanyak mungkin kekuatan elemen-eleman umat islam demi perjuangan penegakan syariat Islam disegala lini.”Musuh kita terlalu kuat karena mereka bersatu walaupun sedikit,sedangkan kita terlalu lemah karena berpecah belah walau terlihat banyak Mari kita saling bahu membahu dalam hal yang sudah disepakati dan saling toleran dan lapang dada dalam masalah-masalah yang belum disepakati”.” Seribu kawan kurang, Satu musuh kebanyakan!”

Demikian juga orang-orang yang ingin mendukung perjuangan gagasan tentang khilafah Islamiyah dan bagaimana mewujudkannya maka bergabunglah dengan kelompok Hizbuttahrir. Adapun kelompok-kelompok pejuang syariat yang formal maupun informal, yang besar maupun yang kecil, apakah mereka itu bergerak dalam lapangan dakwah ekonomi,sosial,pendidikan, kesehatan,ilmu pengetahuan dan teknologi, bantuan bencana alam dan krisis kemanusiaan, kebudayaan dan seni, militer dan pertahanan keamanan, media massa dan elektronik, keamanan dan ketertiban masyarakat, bahkan yang berfungsi ibarat baut atau mur pada sebuah ban mobil pun, maka semuanya itu telah mempunyai saham dalam penegakan syariat islam dinegeri ini. Kebersamaan secara hakiki benar-benar sangat diperlukan. Semua perbedaan dan ikhtilaf mudah untuk diatasi asalkan hati mereka bersatu, tidak berpecah belah.

Bicara tentang kelemahan dan kekurangan  tentulah tidak ada gading yang tak retak, tidak ada makhluk yang sempurna; Kesempurnaan hanyalah milik Allah Yang Maha Sempurna.Yang jelas dan nampak terang bagi kami adalah bahwa semua jamaah dakwah dan jihad yang masih dalam koridor Islam Ahlussunnah wal jamaah mempunyai lebih banyak kebaikannya dan keistimewaannya, juga keutamaan-keutamannya ketimbang kelemahan masing-masing.  Maka pesan kami: “Bersatulah didalam menggalang kekuatan dan keistimewaan kalian masing-masing dan saling menutupi dan memperbaiki kekurangan dari kalian masing-masing, demi untuk mencapai kekuatan dan kemenangan perjuangan ummat Islam!”. Semoga Allah memudahkan kalian dan kami untuk bersatu dan saling berkasih sayang serta ishlah karena Allah, demi kejayaan islam dan kaum Muslimin. Aamiin!

Kalian harus pandai dan bijaksana dalam memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Siapa saja dari kaum muslimin ahlussunnah waljamaah  yang cinta kepada syariah Islam dan ingin bercita-cita menegakkannya di Indonesia ini secara kaffah/sempurna dan berusaha memperjuangkannya menurut kemampuan mereka  masing-masing maka mereka  adalah saudara seiman dan teman setia. Namun siapa saja yang anti kepada syariah islam, membenci penerapannya secara total di negeri ini, dan memerangi para pembela syariah baik dengan kata-kata atau pisik, maka mereka adalah musuh. Terhadap mereka ini terlebih dahulu, perlu dan harus didakwahi dengan ilmu dan hikmah, dengan mengedapankan dialog-dialog.Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah.

Sebagian dari mereka , ada kalanya  membenci Islam karena ketidak tahuan mereka, atau mereka tengah dikuasai oleh nafsu syahwat dan kecintaan kepada dunia yang berlebihan, atau mereka sedang dimanfaatkan musuh atau ditekan dan diancam musuh. Atau memang ada kaum munafikin yang sangat membenci Islam. Walaupun sudah didakwahi berkali-kali dengan hujjah dan ilmu yang  terang, mereka tetap  membenci Islam secara membabi buta. Maka perlakuan terhadap masing-masing kelompok ini tidaklah sama.

Bijaksanalah wahai para da’i dalam berdakwah! Jadilah kalian diantara sesama kalian sebagai saudara seiman yang lemah lembut diantara kalian, saling mengasihi dan menyayangi seperti satu tubuh, dan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, saling merasa menderita karena saudaranya tersakiti atau disakiti di jalan Allah,Jadilah kalian orang yang menyatukan bukan memecah belah, jadilah kalian orang menjadi perekat bukan penyekat; Jadilah kalian sebagai penyejuk bukan provokator dan bukan pula menjadi penyiram bensin ditengah-tengah prahara fitnah yg tengah melanda ummat ini. Juga jadilah kalian sebagai para penerang jalan yang akan dilalui ummat ini , bukan menjadikan mereka bingung dan tersesat; dan jadilah kalian pengembala ummat laksana Nabi-nabi Allah dan rasul-rasul-Nya yang penuh dengan kelembutan, kesabaran,kebijaksanaan; Tahu kapan bersikap tegas, juga mengerti kapan bersikap lemah lembut, punya kecerdasan, bersikap amanah,jujur dan penyayang kepada ummat ini. Bukan orang-orang keras hati, pemarah,pencela, Sering memvonis umat dengan gelar-gelar yang buruk (ahlul bidah, fasiq, musyrik, murtad, zindiq,kafir, toghut dan antog).[15] Dan jadilah kalian terhadap musuh-musuh kalian saling  bahu membahu di antara kalian dalam melawan mereka, keras terhadap mereka  dan saling melindungi diantara kalian terhadap mereka. Inilah salah satu dari pelajaran-pelajaran penting dari mesir berdarah untuk kaum  muslimin indonesia. Dan tidaklah yang kuinginkan  dari kalian melainkan hanya persaudaraan sejati dan Ishlah[16]. Wallahu a’lam bishshowwab (bersambung)

___________________________________________–

[1] QS Al-Hujurat:10

[2] Idealnya seperti itu, seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya,QS 3:103,105.Al-Hadits:”Hendaklah kalian berjamaah dan jauhilah perpecahan”;Dalam hadits yang lain maknanya:”…iltizamlah kalian/tetaplah kalian dalam jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”.

[3] Namun Dia memerintahkan kalian untuk mengamalkan agama ini semuanya dengan teguh, tidak mengamalkannya semaunya (QS 3:103)

[4] Munculnya jama’ah-jama’ah da’wah dan kelompok-kelompok dakwah islamiah adalah merupakan akibat yang alamiah ketika tiadanya khilafah Islamiah yg. telah dihancurkan oleh kaum munafikin pimpinan Mustafa kemal At-Taturk di Turki, 1924

[5] Lihat QS 3:103, 105; QS 30:31,32

[6] Lihat pembahasannya di bagian pertama tulisan kami pada minggu lalu

[7] Metodologi dakwah

[8] Banyak terlihat kasus-kasus yang menimpa mereka sebagai  hasil sebuah rekayasa dan makar politik untuk menghancurkan citra mereka dan Islam.Bersikap kritislah wahai kaum dalam melihat fenomena-fenomena ini. Politik adu domba benar-benar dibuat oleh mereka untuk kita, dan inilah hasilnya yag kita lihat.kita saling bunuh membunuh,cela mencela dan menjatuhkan satu sama lainnya.

[9] Rasulullah saw melarang kita bersikap ghuluw, berlebihan dalam beragama:”Binasalah orang-orang yang suka berlebihan dalam beragama.” (3x) (al-Hadits)

[10] Salah satu perbedaannya: Musyawarah hanya membicarakan hal-hal yang belum dibicarakan oleh syari’ah, dan tidak boleh bertentangan dg. Syariah seperti peraturan lalu lintas dll; sedangkan demokrasi membicarakan segala hal dan hasilnya dapat bertentangan dengan syariah Islam; Menghalalkan minuman keras,porno grafi, bank ribawi ,melarang hukum rajam,cambuk dan qishosh dll.

[11] Bacalah buku al-Ustadz Dr. Habib Rizieq Syihab, Panca Sila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika

[12] Sehingga pada zaman orde lama, Pancasila dijadikan payung untuk melindungi Nasakom; pada orde Baru Pancasila dijadikan payung untuk melindungi aliran kejawen, dan pada orde reformasi maka Pancasila dijadikan payung untuk melindungi kapitalis liberal,sekularisme dan pluralisme.

[13] Istilahnya adalah mereka memilih perjuangan melalui demokrasi sebagai wasilah saja, dan sebagai cara saja untuk menunggangi demokrasi, karena ada celah disana yang bisa dimanfaatkan ,sebagaimana dikatakan oleh syaikh Said Hawwa (ulama Ikhwanul Muslimin) bahwa pada umumnya kaum muslimin akan menang dalam pemilu karena ada celah dimana jika mereka bersatu maka sangat memungkinkan untuk menang…”Jadi pertimbangannya adalah karena melihat mashlahat dan mafsadatnya.

[14] Lihat hasil keputusan kongres Mujahidin IV tgl. 23 – 25 agustus 2013 tentang reformasi Pancasila & UUD45 di  Arrahmah.Com

[15] Qs. Ali Imron 3:159

[16] QS Al-Hujura t:10

(arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.