Tentara teroris AS "meminta maaf" atas pembantaian warga sipil Afghanistan dalam persidangannya

21

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Tentara teroris AS yang membantai 16 warga sipil Afghanistan tak bersenjata “meminta maaf” pada Kamis (22/8/2013) atas “tindakan pengecutnya” saat ia membuat pernyataan di pengadilan pada kasus hukumnya.

Sersan Robert Bales mengatakan ia “marah dan takut” ketika pergi melakukan misi malam hari seorang diri dan membantai penduduk desa yang kebanyakan perempuan dan anak-anak tanpa alasan yang jelas pada 11 Maret 2012 di gubuk mereka.  pembantaian itu memicu protes kemarahan dan memaksa AS menghentikan operasi tempur sementara hingga tiga minggu sebelum peneliti Angkatan Darat AS mencapai lokasi kejadian, lansir Al Arabiya.

Bales tidak menceritakan secara spesifik tapi menggambarkan serangan itu sebagai “tindakan pengecut di balik topeng ketakutan, omong kosong dan keberanian.”

“Aku benar-benar minta maaf kepada keluarga korban yang ditinggalkan,” ujarnya enteng setelah membunuh dengan sadis belasan warga sipil Afghan tak bersalah.

Bales (40), mengaku bersalah pada bulan Juni dalam sebuah kesepakatan untuk menghindari hukuman mati atas serangan itu.  Seorang juri militer AS akan menentukan hukuman untuknya dan apakah mereka bisa menawarkan kesempatan pembebasan bersyarat setelah belasan nyawa melayang begitu saja dalam satu malam.

Bales mengakui bahwa sebelum melancarkan aksinya ia telah meminum alkohol terlalu banyak.

Haji Mohammad Wazir, kehilangan 11 anggota keluarganya termasuk ibu, istri dan enam anaknya.  Ia mengatakan kepada juri bahwa serangan itu menghancurkan kehidupannya yang bahagia.  Dia tengah berada di desa lain dengan putra bungsunya yang kini berusia lima tahun, Habib Shah saat serangan terjadi.

Pengacara Bales membela dengan mengatakan bahwa Bales mengalami pasca-trauma dan cedera otak dan itu memainkan peran dalam pembunuhan tersebut.  Namun mereka tidak memberikan kesaksian dari ahli medis.

Bales menjelaskan secara rinci kesulitannya menyesuaikan diri saat kembali ke kehidupan sipil setelah penyebaran di Irak.  Dia menjadi pemarah sepanjang waktu, katanya.

“Kehidupan normal menjadi sulit, Anda tahu, menunggu dalam kemacetan menjadi sesuatu yang mengerikan, ” ujarnya.  “Bau tertentu hanya akan membuatku gila.  Mencuci piring bisa membuatku marah tanpa alasan jelas,” klaimnya.

Dia mulai mabuk dan menyembunyikan botol serta pil tidur dari istrinya.  Dia pernah mendatangi konselor, namun berhenti karena dia berpikir itu tidak bekerja dan dia tidak ingin orang lain melihatnya lemah.

Kemarahannya memburuk saat ia dikerahkan ke Afghanistan pada akhir 2011.  Bales mengatakan ia menghabiskan hampir seluruh hari sebelum pembunuhan untuk melampiaskan kemarahan dengan menggergaji pohon-pohon besar. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.