Berita Dunia Islam Terdepan

Hari Idul Fithri pengungsi Rohingya di Arakan dinodai dengan pelecehan dan pembunuhan

16

(Arrahmah.com) – Hari raya Idul Fithri, hari berbahagia bagi seluruh umat Islam, tetapi menjadi mencekam bagi Muslim Rohingya di kamp pengungsian di Sittwe, Rakhine (Arakan).

Pada Jum’at (9/8/2013), dua Muslim Rohingya diperkosa oleh polisi Burma di kamp pengungsian Bawdua. Insiden tersebut meluas hingga seorang dibunuh dan beberapa lainnya menderita luka-luka, menurut saksi mata yang dikutip Myanmar Muslim Media.

Tragedi itu terjadi ketika dua Muslimah Rohingya sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah perkumpulan kaum Muslimin sekitar pukul 9:00 waktu lokal, dalam rangka perayaan Idul Fithri, mereka ditarik dengan paksa ke barak polisi tersebut oleh anggota aparat kepolisian dan mereka diperkosa, menurut pemaparan warga kamp pengungsian tersebut.

“Dua gadis benar-benar dipukuli dan diperkosa,” kata seorang tetua di masyarakat Rohingya melalui telepon kepada Ah-Linn-Myet Wun dari Myanmar Muslim Media di Yangon, “Satunya dalah istri Sayar Maung Ni dan yang satunya lagi Shahida Banu berumur 30 tahun,” katanya.

“Dan mereka mengancam akan menembaki orang banyak yang berbondong-bondong ke TKP karena suara tembakan senjata api,” ujar saksi lainnya.

Setelah mengetahui kasusnya, warga Rohingya marah. Namun polisi tetap melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga dengan membabi buta yang menyebabkan sekitar empat puluh orang luka-luka dan delapan dari mereka dalam kondisi parah serta salah satunya sedang kritis.

Polisi-polisi kejam dan licik itu kemudian membakar barak bambu mereka dan media pemerintah Burma menuduh warga Rohingya yang membakarnya.

“Polisi kemudian membakar barak bambu mereka setelah menembaki oleh mereka sendiri dan rilisan media pemerintah kemudian menuduh itu dilakukan oleh kami,” sekata seorang tokoh masyarakat Rohingya di kamp tersebut.

Kamp pengungsian Bawdua baru dibangun pada bulan Mei. Kamp tersebut dikelilingi oleh barak bambu aparat polisi khusus yang menggantikan pasukan NaSaKa (Aparat area perbatasan yang mengontrol markas-markas imigrasi) yang telah dibubarkan oleh keputusan Presiden Burma Thein Sein pada 12 Juli.

Kejahatan-kejahatan terhadap Muslim Rohingya masih terus terjadi dan hidup mereka menjadi tidak aman. 

“Ini adalah murni kejahatan perang dan tindak kriminal terhadap kemanusiaan. Situasi masih belum aman bagi masyarakat Rohingya di sana dan para korban harus dipantau secara dekat oleh media internasional,” kata seorang tokoh masyarakat Muslim Myanmar di Yangon. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...