Ujian atas berkibarnya bendera JITU di bumi jihad Suriah

Pemandu para jurnalis media Islam di Suriah
41

LATAKIYA (Arrahmah.com) – Idul Fitri Al-Mubarok adalah suka cita kaum Muslimin seantero dunia, tak terkecuali Mujahidin Suriah. Suka cita dan kebahagiaan itu bertambah-tambah dengan tersiar berita foto berkibarnya bendera kecil organisasi profesi JITU (Jurnalis Islam Bersatu) di Suriah Jum’at (9/8/2013).

Pada foto tersebut seorang Mujahid bernama Yusuf memegang bendera kecil JITU. Yusuf juga dikenal pernah berinteraksi dengan tim Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) yang pernah berangkat ke Suriah.  

Sejatinya JITU masih seumur jagung, namun harapan kepada Allah Ta’ala untuk mengawal opini umat telah tertanam dihati para mujahid-mujahid media yang tergabung didalamnya.

Namun belum lama kawan-kawan JITU berbahagia dan haru. Ujian atas berkibarnya bendera JITU di bumi jihad Suriah tiba. Airmata harus menetes dalam sunyinya hari kemenangan di hari fitri. Pasalnya, terdengar kabar bahwa Yusuf dalam kondisi kritis.

Suriah-yusuf
Akh Yusuf setelah terkena serangan bom tentara rezim Asad ditangani di RSL Salma. Salah seorang relawan medis Tim 8 HASI, Abu Samir (tengah) turut membantu menangani Yusuf yang sedang kritis. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk pemuda shalih ini.

Sebuah serangan bom menghempaskan mobil yang dikendarainya. Ia terjepit dalam ringkihan mobil tersebut. Kondisi kritis dialami. Tangan kanannya bengkok, sebagian bagian tubuhnya robek, darah bercucuran. Walau berhasil diselamatkan ke Rumah Sakit Lapangan (RSL) kota Salma, Suriah, Yusuf belum sadarkan diri.

Sosok Mujahid Yusuf

Yusuf  tak pernah lepas dari AK47, tak pernah lepas dari senyum ramah itulah cerita para relawan Indonesia baik dari FIPS, Hilal Ahmar Society (HASI) hingga JITU yang pernah bertemu dengannya.

Salah satu fotografer Bumisyam.com Emriza yang pernah terjun langsung ke Suriah memilik banyak cerita soal lelaki ini. Menurutnya, Yusuf memiliki akhlak yang luar biasa. Ketampanan fisik yang dimilikinya insya Allah selaras dengan ketampanan hatinya.

Ia orang yang tawadhu dan amanah. Belum ada satupun perilaku dia yang dikenang mengecewakan selama mengawal relawan-relawan Indonesia. Dia betul-betul menjaga amanah demi amanah yang dititipkan padanya. Mulai menjaga keselamatan, kesehatan dan menjadi petunjuk jalan bagi relawan Indonesia di Suriah.

P10008161
Yusuf

“Gue kenal baik orang ini selama di Suriah, dia orang yang sangat baik,” ujar Riza lirih, rasa sedihnya bercampur rindu berdinamika dalam perasaannya.

Ustad Fahmi Suwaidi salah seorang lelaki yang pernah turun ke Suriah bersama Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) punya catatan sendiri soal lelaki ini. Menurutnya, satu kenangan dari akh Yusuf, sopir ambulan yg mengibarkan bendera JITU tadi adalah dia belum menikah.

Ketika ditanya mengapa ia belum juga menikah.  Yusuf menjawab bahwa ia sama dengan lelaki lain pasti ingin juga menikah.

“Tapi Wallohi, jika saya tak diambil jadi syahid dalam perang ini, saya ingin menikahi janda mujahid yang syahid atau gadis korban perkosaan tentara rezim Bashar,” cerita Yusuf yang sebelumnya bekerja sebagai Pasukan Pengamanan Presiden Bashar Al Assad lalu akhirnya mendapat hidayah bergabung dengan mujahidin Suriah.

Dan semua itu membuat tim HASI tercengang saat mendengar jawaban lelaki tersebut. Lalu timbul lagi pertanyaan kedua “kenapa tidak memilih gadis biasa saja?”.

“Ya akhi, kalo gadis pasti ada saja pemuda yg mau menikahinya. tapi kalo janda dengan tanggungan anak-anak atau gadis korban perkosaan, siapa yang mau? saya ingin meringankan beban mereka,” jawab Yusuf lagi.

Hari ini Allah mengamini cita-cita Yusuf. Jauh sebelum ia menikahi seorang wanita, ia telah menikahi dirinya dengan Jihad. Ia telah memanggul senjata dan bercumbu dengan keindahan bumi ribath di Syam Suriah. Tragedi yang menghantam dirinya kenyataannya bukanlah sebuah musibah.

Jika ia syahid maka menikahlah dia dengan bidadari surga, dan itulah pernikahan keduanya menggenapi janji Allah. Namun, jika Allah masih selamatkan dia dari kematian tentulah telah menanti seorang wanita yang diimpikannya tersebut.

“Kami tetap doakan dia selamat terlebih dahulu,” jelas ustad Abu Yahya, aktivis kemanusiaan yang pernah hadir di Suriah.

Sungguh Allah membeli jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan pahala surga. Mereka telah berperang untuk membela Islam, lalu mereka membunuh atau dibunuh. Janji pahala surga ini termaktub dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Wahai kaum Mukmin siapa saja diantara kalian yang memenuhi  janjinya kepada Allah, bergembiralah kalian dengan baiat yang telah kalian lakukan dalam perjanjian itu. Demikian itu adalah keberuntungan yang amat besar bagi para syuhada (QS. At Taubah : 111).

(azmuttaqin/BS/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.