Tentara dan polisi Myanmar meneror penduduk desa Rohingya di Maungdaw

32

MAUNGDAW (Arrahmah.com) – Tentara, polisi dan hluntin (polisi antihuru-hara) Myanmar bersama-sama mendatangi sebuah desa Rohingya selatan Maungdaw dan meneror penduduk desa itu pada Ahad (28/7/2013), tanpa alasan yang jelas, kata seorang tokoh lokal yang menolak disebutkan namanya, seperti dilansir NB.

“Sekelompok tentara, polisi dan hluntin dari Maungdaw pergi ke desa Kilaidaung (Dou Chee Yartan) pada tanggal 28 Juli, sebelum tengah hari dan mengobrak-abrik desa tanpa alasan, lalu [gabungan] pasukan keamanan itu menahan Monir Ahmed bin Fazal Ahmed (45), dan Rahmed Ullah bin (50) [dari] desa Kilaidaung, selatan Maungdaw tanpa alasan apapun saat mereka berjalan di jalan di desa itu.”

Pasukan keamanan itu kemudian menyiksa kedua warga Rohingya tersebut di depan warga desa lainnya.

“Kedua warga Rohingya itu [akhirnya] dibebaskan setelah masing-masing membayar 150.000 dan 50.000 Kyat.”

Pasukan keamanan Myanmar baru itu ingin mengancam penduduk desa Rohingya. Pasukan yang terdiri dari tentara, polisi, hluntin, [tokoh] adat imigrasi dan Sarapa (Intelijen Militer) itu menggantikan Nasaka (pasukan penjaga keamanan perbatasan Myanmar) yang sebelumnya, kata seorang pengusaha dari wilayah tersebut.

Selain itu, sekelompok tentara, hluntin dan polisi secara bersama-sama juga mendatangi Auk Nan Ragon (Lamar Razar Bill) kota kecil Rathedaung lalu menangkap Moulvi Abu Taher bin Abdu Salam (32) dan Moulvi Enam bin Abdu Soban (39) tanpa tuduhan apapun dan memukuli keduanya hingga terluka parah.

Pasukan brutal itu bahkan membawa pergi seekor kambing besar milik Moulvi Abu Taher dan dua ekor ayam besar milik Moulvi Abdu Soban, kata seorang pemimpin agama setempat yang lebih memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Seorang sesepuh desa setempat mengatakan, “Ini merupakan penindasan awal [yang dilakukan] oleh pasukan keamanan baru bagi masyarakat Rohingya setelah penarikan [pasukan] Nasaka.”

Sumber-sumber setempat menyatakan warga Rohingya Arakan Utara, yang mayoritasnya Muslim, awalnya optimis bahwa penindasan terhadap mereka akan berkurang setelah ditariknya pasukan Nasaka dari wilayah Arakan, namun ternyata penindasan masih berlanjut dengan hadirnya pasukan pengganti. (banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.