Teroris yang membunuh seorang Muslim sepulang shalat dari Masjid di Birmingham ternyata juga terlibat pengeboman 3 masjid

10

BIRMINGHAM (Arrahmah.com) – Seorang kakek Muslim ditikam secara brutal dari belakang hingga meninggal saat dia berjalan pulang dari masjid dalam sebuah aksi teror anti-Islam, menurut salah seorang putrinya seperti dilansir DM.

Mohammed Saleem (75), seorang Muslim yang sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya ini ditikam oleh orang tak dikenal pada Senin (29/4) malam sepulang shalat Isya.

Polisi setempat menginterogasi seorang Ukraina atas pembunuhan itu. Detektif bidang terorisme meluncurkan penyelidikan terpisah untuk mengetahui apakah tersangka, bersama seorang temannya, adalah lone wolves yang memiliki hubungan dengan kelompok teroris anti-Islam sayap kanan atau tidak.

Keduanya adalah mahasiswa teknik, masing-masing berusia 22 dan 25 tahun, yang tengah menjalani penempatan kerja di sebuah perusahaan komputer. Pada awalnya mereka ditahan minggu lalu oleh detektif yang menyelidiki teror ledakan bom di dekat tiga masjid di Midlands Barat.

Dan sekarang, pemuda berusia 25 tahun itu juga ditangkap sehubungan dengan investigasi atas kasus pembunuhan Mohammed Saleem sebagai bagian dari operasi kontra-terorisme yang sedang berlangsung atas kasus ledakan-ledakan di dekat masjid.

Putri Mohammed Saleem, Shazia Khan (45) pada Kamis (18/7/2013), mengatakan, “Ini adalah tindakan terorisme karena dia [ayah kami] dibunuh karena agamanya dan karena alasan itulah polisi menangkap orang ini, karena alasan terorisme.”

“Kami merasa lega bahwa kami mendapatkan kejelasan karena selama ini tidak ada kabar dan kami semakin khawatir bahwa tidak ada kemajuan yang dicapai [dalam penyelidikan kasus pembunuhan ini] dan tidak ada petunjuk.”

saleem's daughters
Shazia Khan (kiri) menenangkan Nazia Maqsood (kanan) saat konferensi pers setelah penikaman ayah mereka Mohammed Saleem

Istri Salim Said (69), yang menikah dengannya selama 50 tahun, berusaha menahan air mata saat mengungkapkan bahwa apa yang terjadi pada suaminya begitu sulit ia mengerti.

Kedua tersangka itu tengah ditempatkan praktek di perusahaan software Delcam pada sebuah estate industri di Small Heath, Birmingham, yang jaraknya 1,5 mil dari rumah Mohammed Saleem.

Perusahaan itu memiliki pusat pelatihan di Lutsk, Ukraina, dan berhubungan dekat dengan universitas di negara itu – yang dikenal sebagai sarang kebencian anti-Islam, dengan feminis Femen-nya.

Partai ultra-nasionalis, Svoboda (Kebebasan) merupakan partai pemenang pemilu di sana tahun lalu, yang mendapat 10 persen suara.

Mohammed Saleem, yang digambarkan sebagai tokoh masyarakat yang sangat dihormati masyarakat, ditemukan oleh tetangganya dalam keadaan bersimbah darah hanya beberapa meter dari pintu depan rumahnya pada 29 April.

Ayah tujuh orang anak yang menderita arthritis dan berjalan dengan bantuan tongkat ini akhirnya dinyatakan meninggal di rumah sakit malam itu.

Sementara itu, terkait kasus terorisme anti-Islam, sisa-sisa bom rakitan ditemukan di luar sebuah masjid di Walsall pada 21 Juni. Sebuah bom kemudian meledak di sebuah masjid di Tipton pada 12 Juli dalam serangan teror yang bertepatan dengan hari pemakaman tentara Inggris Fusilier Lee Rigby, yang dibunuh di Woolwich pada bulan Mei.

Bukti pemboman ketiga, di bundaran dekat Masjid Pusat Wolverhampton, juga terungkap oleh polisi setelah intelijen melakukan penangkapan terhadap dua pria teroris itu pada hari Kamis.

Petugas dikirim ke TKP menyusul laporan ledakan tanggal 28 Juni tapi tidak ada yang ditemukan. Serangan itu terjadi pada hari Jumat – hari ketika masjid dipadati jamaah shalat Jumat. Namun, alhamdulillah, tak seorang pun terluka dalam semua ledakan itu.

Kedua pria Ukraina itu awalnya ditangkap di Small Heath pada Kamis (18/7) karena dicurigai terlibat dalam komisi, persiapan dan provokasi aksi terorisme anti-Islam.

Kepala pelaksana Delcam Clive Martell mengatakan salah satu dari dua pria itu sudah berada di perusahaan tersebut selama empat bulan, dan pria yang satunya lagi sudah di sana selama dua bulan.

“Kedua orang itu [sedang menjalani] penempatan kerja sama dengan kami, tetapi [mereka] bukan karyawan [kami],” katanya. “Mereka sudah hampir sekitar setengah jalan menjalani kursus dan kami tahu mereka bertemu satu sama lain dalam penempatan ini.”

Petugas kontra terorisme pada hari Sabtu memberikan tujuh hari ekstra untuk menginterogasi kedua warga Ukraina itu sehubungan dengan ledakan-ledakan tersebut.

Ekstrimisme sayap-kanan merupakan fenomena nyata yang mengkhawatirkan yang memberi ancaman bagi keamanan Muslim Inggris. (banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.