Berita Dunia Islam Terdepan

Permerintah, ulama dan warga Madura sepakat merelokasi warga syi’ah Sampang

4

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pemerintah setuju memindahkan pengungsi Syiah di GOR Sampang, Madura, Jawa Timur, Rabu (19/6/2013). Rencana pemindahan ini setelah dilakukan pertemuan antara Menkopolhukam Djoko Suyanto, Gubernur Jatim Soekarwo, dan Ketua DPR Marzuki Alie pada hari yang sama di Jakarta.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan relokasi pengungsi warga Syiah di Sampang beralasan karena keamanan dan keselamatan. Sebab keselamatan pengungsi terancam karena ada pihak yang mendesak mereka pergi dari GOR.

“Kemarin Dirjen Kesbangpol sudah ke situ. Kita minta ini diselesaikan di daerah. Tapi persoalannya siapa yang menjamin keamanan di situ. Tiap hari 24 jam kalau ditarik ke situ. Pemda Jawa Timur menyediakan lokasi. Ada 70 rumah yang disediakan. Kalau masyarakat setuju relokasi, kita taruh di perumahan itu. Gubernur Jawa Timur sudah siapkan,” jelas Gamawan di kantor Presiden Jakarta, Kamis (20/6).

Sehingga menurut Kemendagri, pengungsi Syiah itu tidak bisa dikembalikan ke rumahnya di Sampang, Madura. Dia mengatakan kepolisian setempat tidak bisa menjamin keselamatan warga Syiah yang kembali ke rumahnya. Sebab tidak bisa menjaga selama 24 jam penuh.

Sementara itu para ulama dan ribuan kaum muslimin (lihat foto) Madura melakukan istighotsah mendukung kebijakan pemerintah pusat agar warga Syiah meninggalkan lokasi pengungsian di gedung olah raga kota Sampang, Madura Kamis (20/6/2013). Mereka juga menuntut pengungsi Syiah dipindahkan ke tempat lain di luar Kota Sampang.

Konflik Sampang

Ada 162 warga syiah sudah sejak Agustus 2012 yang mendiami Gelanggang Olah Raga Sampang. Mereka mengungsi setelah pecah konflik sosial yang berbasis akidah muslim syiah di desa Karang Gayam, Sampang.

Kaum syiah, berdasarkan infestigasi MIUMI telah menyebarkan faham kafirnya kepada muslim dari tahun 2004. Dari semenjak itu mereka sudah sering diperingatkan oleh para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Namun kaum syiah tidak mengindahkan peringatan-peringatan tersebut hingga pecah konflik sosial berbasis akidah tersebut Desember 2011.

Kaum syiah, disebut tidak memelihara kearifan lokal. Padahal masayarakat muslim Madura sangat menghormati ulama mereka.

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...