Berita Dunia Islam Terdepan

Penjual ikan itu ditembak mati usai shalat ashar, Komnas HAM akui Densus 88 bohong

5

POSO (Arrahmah.com) – Penjual ikan itu bernama Ahmad Nudin. Ia ditembak mati oleh Densus 88, Senin (10/6/2013), di Poso, Sulawesi Tengah. Oleh aparat polisi ia diduga “teroris”.

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani membeberkan kronologis penembakan Ahmad Nudin. Menurut Siane, proses penembakan Nudin alias Bondan versi polisi berbeda dengan versi Komnas HAM.

jenazah nurdinHal itu dibeberkan Siane melalui pernyataan tertulis, Selasa (11/6/2013). Menurut Siane, kejadian yang menyebabkan Nudin mereguk maut bermula pada Senin (10/6/2013) pukul 15.35 WITA. Saat itu Nudin berboncengan dengan temannya mengendarai motor Revo bernomor polisi DN 4159 EI. Nudin saat itu dibuntuti polisi di Jalan Pulau Seram.

Pada pukul 15.40 WITA di Jalan Pulau Irian, tepatnya di depan Lorong Jalan Pulau Seribu, motor yang dikendarai Nudin ditabrak oleh mobil polisi yang membuntuti itu. Kronologi ini berbeda dengan versi polisi. Menurut polisi, Nudin menabrak mobil polisi.

Setelah motor terjatuh, dua orang tersebut melarikan diri ke Lorong Pulau Seribu. Polisi melepaskan tembakan delapan kali, Nurdin tertembak. Sedangkan temannya kabur.

Menurut polisi, Nudin menembaki aparat. Polisi memberikan tembakan balasan.

Motor yang tertinggal di tempat kejadian diamankan oleh anggota TNI di Poso. Pukul 20.00 WITA, massa menuju Polres Poso, meminta jasad Nudin. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan polisi. Sebelumnya terdengar suara tiang listrik dipukul berkali-kali.

Komnas HAM menyesalkan pernyataan polisi yang berlawanan dengan fakta di lapangan. Komnas HAM meminta Kapolri untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya agar warga di Poso tenang.

“Kami menyesalkan tindakan Densus 88 yang sangat represif sehingga malah memprovokasi kemarahan warga,” kata Siane.Senin (10/6/2013) lalu.

Menurut kepolisian, Ahmad Nudin ditembak saat mengendarai sepeda motor. Masih menurut polisi, dia berusaha menembak petugas.

“Saat tersangka naik sepeda motor keluar dari Kayamanya menuju Jl. Irian, anggota berusaha menghentikan namun motor yang dikendarai Ahmad tetap melaju dan menabrak mobil. Pada saat akan ditangkap Ahmad menembak anggota densus,” kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar, Senin (10/6/2013).

Menurut Boy Rafli, Densus membalas tembakan tersebut sehingga Ahmad Nudin tewas di tempat. Peristiwa ini terjadi Senin (10/6/2013) pukul 16.00 WITA. Kata Boy, sudah lama polisi memburu Nudin yang menurut polisi, diduga “teroris”.

Namun pernyataan dari kepolisian tersebut dibantah oleh Ketua Forum Silaturahmi Umat Islam Poso, KH Adnan Arsal. Menurutnya, polisi telah berbohong dan memutarbalikkan fakta.

kh-adnan-arsal
KH Adnan Arsal

“Densus bohong, mereka putarbalikan fakta. Mereka bilang Ahmad menembak, padahal jelas mereka menabrak Ahmad yang baru pulang dari mushalla,” ujar KH. Adnan Arsal kepada Suara Islam Online, Selasa (11/6/2013).

Ia menambahkan, Ahmad baru pulang dari mushalla, usai shalat ashar.

Selain itu, tokoh Muslim Poso ini juga menceritakan kronologi singkat penembakan Ahmad. “Ahmad ditabrak, masih bisa lari, lalu mereka tembaki hingga enam peluru masuk ke tubuh Ahmad. Mereka bilang selongosong itu pelurunya Ahmad. Jelas mereka bohong. Karena itulah anak-anak Poso marah,” lanjutnya.

KH Adnan Arsal juga mempertanyakan, bagaimana mungkin Ahmad tiba-tiba dinyatakan sebagai DPO padahal dia tidak melakukan tindakan “terorisme”.

“Ahmad bukan ‘teroris’, Ahmad cuma penjual ikan,” jelasnya. (SI Online), salam-online

(SI Online/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...