Berita Dunia Islam Terdepan

Ayah saksi Bom Boston: FBI membunuh anak saya tanpa sebab apa pun

1

MOSKOW (Arrahmah.com) – Abdulbaki Todashev (53) tampak tegar. Ayah dari 12 anak – enam anak laki-laki dan enam anak perempuan – ini tengah mempersiapkan pemakaman untuk putra sulungnya, Ibragim Todashev (27), yang ditembak mati oleh seorang agen FBI saat diinterogasi tentang hubungannya dengan “tersangka” Bom Marathon Boston, Tamerlan Tsarnaev.

Meskipun FBI mengklaim Todashev menyerang agen saat diinterogasi pada hari Rabu (22/5/2013) di Orlando, Florida, sang ayah menyatakan tidak akan menerima klaim tersebut, lansir latimes.

“Saya benar-benar menolak untuk mempercayai klaim bahwa anak saya menyerang seorang polisi, atau pun, beberapa polisi,” katanya, pada Kamis (23/5) dalam sebuah wawancara melalui telepon dengan The Times dari Grozny, ibukota Chechnya. Dia bersikeras, FBI “membunuhnya tanpa sebab apa pun.”

Para pejabat federal mengklaim Todashev, yang bertemu Tsarnaev karena hobi mereka yang sama dalam seni bela diri campuran, diinterogasi tentang kasus pembunuhan tiga orang pada 11 September 2011 yang sampai saat ini belum terpecahkan di Waltham. Tanpa dasar yang jelas, para pejabat Massachusetts bahkan mengklaim ia dan Tsarnaev memiliki peran dalam pembunuhan tersebut.

Abdulbaki Todashev mengatakan seorang teman anaknya, Khusen Taramov (22), bersama Todashev pada Selasa (22/5) malam ketika FBI mendatangi ke rumah Todashev.

“Pada awalnya, selama tiga jam, mereka mewawancarai Ibragim bersama Khusen dan kemudian mereka membiarkan Khusen pergi,” kata sang ayah, menceritakan apa yang Taramov katakan kepadanya pada hari berikutnya. “Mereka menyuruh Khusen untuk pulang tapi dia menolak dan mengatakan ia ingin menemani Ibragim menjalani interogasi, tapi FBI memaksanya untuk pergi.”

ayah tod
FBI memasang garis polisi di rumah Ibragim Todashev

Menurut sang ayah, Ibragim Todashev sedang belajar bahasa Inggris di Universitas Grozny. Ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Amerika Serikat dalam program pertukaran pelajar pada tahun 2008.

“Dia menyukainya sejak hari pertama,” kata sang ayah. “Dia akan menelepon saya dan menceritakan kepada saya betapa semua orang di sana menyukai olahraga, olahraga gym apa yang paling mereka gemari dan kemungkinannya untuk mengikuti seni bela diri campuran dan tinju yang begitu disukainya.”

“Kemudian ketika ia mengatakan kepada saya bahwa ia sangat suka di Amerika dan ingin tinggal di sana,” kata sang ayah, “saya tidak keberatan.”

Dia mengatakan anaknya kenal dengan Tsarnaev karena mereka sama-sama berasal dari Chechnya.

“Kami adalah rakyat kecil yang mengalami begitu banyak kesulitan untuk bertahan hidup dalam sejarah [Chechnya yang bergejolak], bahwa adalah wajar bagi kami untuk tetap bersatu, terutama di luar negeri,” kata Todashev yang adalah kepala departemen layanan kota di Grozny. “Tapi mereka bukan teman dekat, karena kalu mereka teman dekat, saya pasti sudah mengetahui persahabatan mereka sebelum kejadian Boston.”

Tsarnaev bersaudara dituduh AS sebagai pelaku peledakan bom di Boston. Tamerlan Tsarnaev (26) dibunuh polisi AS empat hari setelah pemboman Marathon Boston. Adiknya, Dzhokhar Tsarnaev (19), kemudian ditangkap dan didakwa atas penggunaan bahan peledak yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 260.

Ayah Todashev mengatakan anaknya merasa bahwa “tidak mungkin” kakak beradik Tsarnaev terlibat dalam pemboman marathon Boston. Dia juga menggambarkan Ibragim sebagai seorang muslim moderat yang pergi ke masjid secara teratur dan “sangat puas dengan kehidupan di Amerika.”

Meskipun demikian, kehidupan Ibragim Todashev di Amerika Serikat tidak sepenuhnya tenang. Dua minggu lalu, ia dikabarkan ditangkap dan didakwa setelah terlibat perkelahian dengan seorang pria di tempat parkir di outlet mall di Orlando.

Abdulbaki Todashev mengatakan ia telah berencana untuk berjumpa dengan anaknya.

“Dua bulan sebelum ini, anak saya mendapat green card dan dia membeli tiket untuk pulang dan mengunjungi kami, tapi setelah terjadi pemboman ia membatalkannya dan kemudian membeli [tiket] yang baru,” kata sang ayah.

“Ia seharusnya datang ke Rusia 24 Mei ini. Kami sedang menyiapkan pesta untuknya, namun sekarang anak sulung saya tidak akan pernah pulang.” (banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...