Berita Dunia Islam Terdepan

Muslim Uganda mengeluhkan sikap pemerintah yang menutup madrasah dengan dalih “memerangi terorisme”

0

KAMPALA (Arrahmah.com) – Muslim Uganda sedang dalam kesulitan karena penutupan setiap hari dan berulang-ulang terhadap madrasah-madrasah oleh pihak keamanan negara, terutama, aparat kepolisian Uganda.

Masyarakat Muslim mengeluhkan tindakan sewenang-wenang dari pemerintah terhadap sekolah-sekolah Islam dengan dalih “memerangi terorisme.”

Kepala urusan semua sekolah Al-Quran di Uganda, Syaikh Yahya Lukwago, mengatakan kepada koresponden The Tripoli Post bahwa madrasah adalah tempat untuk mengajari Al-Quran dan akhlak yang baik agar menjadi orang-orang yang melakukan kebajikan.

“Madrasah ada dengan tujuan mengajari Kitab Suci dan menanamkan akhlak baik kepada anak-anak. Mengangkat mereka menuju puncak kebajikan dan untuk menghindari keburukan dan kejahatan terkait lainnya. Kami tidak bisa berhenti mengajari Al-Quran kepada anak-anak kami,” katanya.

Aparat kepolisian Uganda telah mendatangi Kampala dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, dalam upaya untuk menutup sekolah-sekolah Islam yang mereka klaim berpotensi sebagai akademi pelatihan “para teroris.”

“Orang-orang Katolik menjalankan program hampir serupa (mengajarkan kitab mereka, red), tak lupa gereja protestan yang mempraktekkan program pengajaran teologi di sekolah Minggu. Semua program ini dilakukan bagi mereka untuk memastikan bahwa anak-anak mereka berperilaku seperti orang-orang Kristen, mengapa kasus kami berbeda?” tanya Syaikh Lukwago.

Syaikh Lukwago menekankan bahwa apapun yang terjadi, umat Islam di Uganda tidak akan meninggalkan program madrasah. “Islam bukanlah agama kemarin sore, Islam datang untuk tinggal tidak peduli berapa banyak yang diinvestasikan untuk menghentikannya.”

Al-Hajj Muhammad Kisambira, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Umat Islam Uganda, badan yang mengatur urusan umat Islam di negara tersebut mengatakan bahwa polisi menutup madrasah-madrasah tanpa alasan yang realistis.

“Mereka menutup sekolah-sekolah kami berdasarkan pada alasan-alasan yang realistis, dan semuanya kembali berhenti di meja aparat Polisi, orang-orang yang sama,” katanya. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...