Berita Dunia Islam Terdepan

Sang Ibu dan adik dibunuh tentara Suriah, seorang perawat bergabung dengan mujahidin

7

SALMA (Arrahmah.com) – Umm Abed, seorang wanita yang pernah bekerja sebagai perawat yang mengobati luka para tentara boneka Suriah di sebuah rumah sakit militer di provinsi Latakia, kini memutuskan untuk begabung ke dalam barisan mujahidin, seperti dilansir Ma’an, pada Sabtu (6/4/2013).

Ia sadar dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit tersebut setelah para tentara boneka Suriah yang pengecut menembaki dan membunuh ibu dan adiknya.

“Bagaimana saya bisa terus merawat (tentara) yang membunuh ibu dan adik saya,” kata Umm Abed (27) yang mengenakan mantel, kerudung dan cadar hitam.

Umm Abed meninggalkan posnya di rumah sakit di provinsi timur laut di mana ia pernah bekerja sebagai staf rumah sakit darurat di wilayah yang dikuasai mujahidin Jabal al-Akrad.

Ia kini merawat para mujahidin dan warga sipil yang terluka dan mereka yang jatuh sakit karena pola makan yang tidak teratur dan air minum yang tercemar.

Ia bekerja di kota Salma, yang dulunya merupakan sebuah tempat peristirahatan musim panas yang indah, tapi sekarang hampir setiap hari menjadi target penembakan pasukan pemerintah.

Jabal al-Akrad adalah wilayah yang strategis yang sebelah selatannya berbatasan dengan pegunungan Alawit.

Ketika meninggalkan rumah sakit militer, Umm Abed, yang seorang Sunni, meninggalkan teman-temannya, termasuk teman dekatnya yang seorang Alawit  Syiah.

“Ketika saya meninggalkan pekerjaan saya, dia bertanya mengapa saya pergi. Saya menceritakan apa yang terjadi pada ibu dan adik saya,” kata Umm Abed.

“Saya sangat terkejut ketika dia mengirimi saya surat dan menyebut saya seorang ‘teroris’,” ungkapnya.

“Saya berharap bisa kembali seperti dulu,” tambahnya. Tapi ia mengerti itu tidak mungkin.

Umm Abed adalah salah satu dari empat perempuan yang bekerja pada shift siang dan malam untuk merawat mujahidin dan warga sipil yang terluka dan jatuh sakit.

Manal, seorang rekannya, telah mengelola apotek selama 10 bulan terakhir.

“Ketika saya tiba, hanya ada tiga atau empat dari kami yang bekerja di rumah sakit ini. Saya melihat sekeliling dan menyadari bahwa saya adalah satu-satunya gadis di seluruh Jabal al-Akrad,” katanya.

Keluarganya telah melarikan diri dari daerah itu, tapi ia bilang ia memutuskan untuk tetap di sana karena banyak yang membutuhkannya.

“Saya menjadi lebih kuat dibanding satu juta orang,” katanya sambil tersenyum, terlihat dari matanya.

Ia dilatih untuk belajar bagaimana mengobati luka pecahan peluru dan bagaimana untuk memberikan perawatan darurat bahkan di tengah perang sengit yang tengah meletus.

Staf di sana bisa tinggal di rumah sakit, atau di rumah-rumah di sekitarnya, dan bertugas selama 24 jam sehari. Mereka bisa menghubungi keluarga mereka melalui telepon pada malam hari, ketika generator memungkinkan mereka untuk mengisi ulang baterai mereka atau menggunakan internet.

Beberapa dari mereka belum bertemu keluarga mereka selama berbulan-bulan, tetapi mereka telah merasakan semacam kekeluargaan di rumah sakit tersebut.

“Di sini, kami menemukan solidaritas. Kami bekerja saling membantu, untuk membantu yang lainnya,” kata salah satu perempuan lainnya yang bekerja di sana.

“Mereka bisa membom sebanyak yang mereka inginkan. Kami sudah tidak takut lagi,” tambahnya. (banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...