Berita Dunia Islam Terdepan

JAT bantah tuduhan anggotanya terlibat pembunuhan di Poso

4

JAKARTA (Arrahmah.com) – Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) membantah keras pernyataan Kadiv. Humas Mabes Polri, Irjen Pol Suhardi Aliyus, bahwa dua orang orang yang ditangkap Densus 88 merupakan angggota JAT  karena diduga terlibat pembunuhan dua polisi di Dusun Tamanjeka (16/10/2012). . Selain itu, JAT juga menegaskan sama sekali tak terlibat pembunuhan dua polisi di Poso beberapa waktu lalu.

“Dua orang tersebut bukan anggota JAT,” Kata Juru Bicara JAT, Ustadz Son Hadi dalam rilisnya kepada arrahmah.com, Minggu (31/12)

Berdasarkan informasi yang diterimanya, Pria yang akrab dipanggil Ustadz Son ini, mengatakan yang ditangkap Mabes Polri bernama Latief. Dia menegaskan bahwa Latief bukanlah anggota JAT.

Ustadz Sonhadi  keberatan dengan tuduhan yang berulangkali dialamatkan kepada JAT. Dia menduga ada upaya sistematis untuk mengkriminalisasi JAT.

“Dan upaya tersebut dimulai dari pernyataan Kepala BIN sehari setelah ditemukan mayat 2 polisi ditamanjeka poso (Selasa, 16 Oktober 2012) Kepala BIN jelas menyebut bahwa pelaku adalah JAT,” lontarnya.

Kemudian, menurut Ustadz Son, ada teror kepada simpatisan JAT di Poso yang berbarengan dengan penyisiran polisi  di lokasi latihan militer Tamanjeka. Mereka diteror dengan ancaman akan ditangkap atau ditembak karena mereka adalah simpatisan JAT sehingga mereka tidak berani keluar rumah untuk cari nafkah.

 “Bahkan Sdr. Latif (salah satu dari 2 orang yang ditangkap Densus 88) sendiri sempat diintrogasinya oleh lima  anggota Densus Polda Sulteng pada akhir Oktober lalu terkait dengan keterlibatan aktifitas beliau di JAT,” beber ustadz Son.

Selain itu, dia juga mempertanyakan kebijakan Polri yang selalu membawa terduga teroris Poso ke Jakarta. Ia menduga ada upaya merekayasa kasus oleh aparat dengan mengirim setiap orang yang ditangkap di Poso ke Jakarta.

“Ini adalah upaya memutus mata rantai TKP yang menjadi unsur terpenting dalam penyidikan sehingga hal ini patut diduga sebagai “rekayasa kasus” untuk menyempurnakan skenario mereka yang berujung pada kriminalisasi JAT sebagaimana kasus Aceh yang sukses mengkriminalisasi ustadz Abu Bakar Ba’asyir,” tandasnya. (bilal/arrahmah.com)

 

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...