Semua kesatuan FSA sepakat mengakui Jabhah Nushrah kelompok paling keras menghajar militer rezim Suriah

27

ALEPPO (Arrahmah.com) – Sebuah situs indipenden Suriah merilis laporan lapangan dari dalam kota Aleppo tentang realita kelompok-kelompok jihad yang bertempur di Suriah melawn rezim Nushairiyah Suriah.

Laporan lapangan itu menyimpulkan bahwa kelompok jihad yang paling kuat, paling aktif, paling berpengaruh dan paling keras menghantam militer rezim Suriah adalah kelompok mujahidin Jabhah Nushrah. Jabhah Nushrah diakui secara luas sebagai kelompok jihad yang paling banyak bertahan di front-front pertempuran, paling dipercaya, paling “bersih” dan paling adil.

Laporan lapangan itu dimuat oleh koran elektronik dan situs indipenden Suriah, Zaman Al-Wasl, pada Ahad (25/11).

Wilayah-wilayah Aleppo yang berhasil dibebaskan mujahidin Islam dan FSA

Laporan lapangan itu menyebutkan bahwa wilayah-wilayah yang berhasil dikuasai oleh mujahidin Islam dan FSA dibagi-bagi di antara seluruh brigade dan kesatuan tempur pihak revolusi. Brigade revolusi yang paling menonjol di lapangan adalah mujahidin Liwa’ At-Tauhid FSA, Jabhah Nushrah, Ahrar Asy-Syam dan Liwa’ Al-Fath.

Layak untuk diketahui bahwa istilahh Free Syrian Army (FSA) sendiri hanyalah istilah dan frame nilai, bukan frame organisasi. Sebab semua brigade dan kesatuan tempur pihak revolusi bekerja secara indipenden atau tunduk kepada “ruangg kerja” yang melibatkan sejumlah brigade dan kesatuan tempur menurut tuntutan kebutuhan di lapangan.

Laporan lapangan situs Zaman Al-Wasl itu menyebutkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki pemikiran jihad dan paling menonjol dalam revolusi Suriah adalah Jabhah Nushrah, Brigade Ahrar Asy-Syam, Gerakan Islam Al-Fajr, Liwa’ Halb Asy-Syahba’, Liwa Dir’ul Ummah, Liwa’ ‘Andan, Brigade Al-Islam, Liwa’ Jaisy Muhammad dan Liwa’ An-Nashr.

Di antara keseluruhan kelompok jihad yang ada, Jabhah Nushrah merupakan kelompok yang paling terkenal dan paling meraih dukungan publik. Jabhah Nushrah menjadi bahan pembicaraan dan tulisan masyarakat luas. Sebagian masyarakat yang awam memiliki rasa takut dan kekhawatiran terhadap Jabhah Nushrah.

Di sisi lain Jabhah Nushrah merupakan kelompok jihad yang paling menjauhi media massa umum, paling aktif melakukan operasi serangan, paling keras menghantam militer rezim Suriah, operasinya dilingkupi oleh kerumitan dan nyaris kerahasiaan sempurna, menurut laporan situs Zaman Al-Wasl.

Bersama seorang mujahid dalam kelompok Jabhah Nushrah

Berdasar laporan lapangan itu, wartawan situs Zaman Al-Wasl di kota Aleppo berhasil menemui dan mewancarai seorang mujahid yang bertempur di front desa Karm Bek. Mujahid itu berasal dari kesatuan tempur revolusi yang lain, lalu bertempur bersama kesatuan-kesatuan dalam kelompok Jabhah Nushrah. Ia membaiat Jabhah Nushrah dan empat hari kemudian diterima dalam barisan Jabhah Nushrah. Waktu empat hari tersebut cukup menggambarkan karakteristik dan sosok kelompok jihad paling menonjol ini.

Mujahid yang tidak mau disebutkan namanya itu, secara pemikiran dan bahkan sebelum terjadinya revolusi Suriah adalah seorang pemuda salafi. Ia berkali-kali mencoba bergabung dengan kelompok Jabhah Nushrah. Berkali-kali pula ia gagal.

“Hati saya, pemikiran saya, pakaian saya, jenggot saya, keimanan saya, target-target saya dan pengalaman tempur saya, semua itu belum bisa memudahkan saya untuk bergabung dengan Jabhah.”

Mujahid ini menceritakan syarat-syarat sulit yang dibuat oleh Jabhah Nushrah dalam memilih para pejuangnya. Di antaranya, mujahid harus mendapatkan rekomendasi dari dua orang komandan satuan pasukan Jabhah. Rekomendasi itu akhirnya berhasil ia dapatkan setelah ia bertempur bersama sebuah satuan tempur Jabhah Nushrah di front pertempuran Mudhafah Zainu yang sangat terkenal. Di pertempuran itulah ia mendapatkan rekomendasi komandan kedua sehingga ia diterima sebagai anggota pejuang Jabhah Nushrah.

Relasi FSA dan Jabhah Nushrah

Berdasar laporan lapangan itu, telah terjadi perselisihan di antara brigade-brigade, kesatuan-kesatuan dan kelompok-kelompok FSA tentang pembagian senjata, amunisi dan kendaraan tempur yang berhasil mereka rampas dari militer rezim Suriah. Apakah pembagian didasarkan kepada jumlah pejuang yang bertempur di front pertempuran ataukah didasarkan kepada besar kecilnya setiap kelompok secara keseluruhan?

Perselisihan itu berhasil diselesaikan dengan kesepakatan semua brigade, kesatuan dan kelompok mujahidin FSA untuk memilih kelompok mujahidin Jabhah Nushrah sebagai penangung jawab pembagian harta rampasan perang. Menurut seluruh brigade, kesatuan dan kelompok mujahidin FSA, kelompok Jabhah Nushrah diakui sebagai kelompok yang paling adil.

Kesepakatan semua unsur FSA itu terbukti di lapangan. Sejak pembagian senjata, amunisi dan kendaraan tempur ditangani Jabhah Nushrah tidak terjadi lagi perselisihan di antara mereka.

Berdasar survey yang dilakukan wartawan situs Zaman Al-Wasl di kota Aleppo, seakan telah disepakati oleh semua penduduk dan aktivis revolusi bahwa Jabhah Nushrah adalah kelompok yang paling banyak berada di front pertempuran, paling lama bertahan di front dan paling keras menghantam militer rezim Nushairiyah Suriah.

Komandan sebuah kesatuan tempur mujahidin FSA membisiki wartawan Zaman Al-Wasl bahwa seandainya tidak ada Jabhah Nushrah niscaya belum ada pertempuran di Aleppo. Berdasar laporan lapangan, Jabhah Nushrah telah memiliki lembaga-lembaga pengadilan syariat di Aleppo. Saat brigade-brigade dan kesatuan-kesatuan FSA berselisih, mereka akan mengembalikan penyelesaiannya kepada lembaga-lembaga pengadilan syariat Jabhah Nushrah.

Foto-foto operasi dan ghanimah Jabhah Nushrah: 

 

(muhib almajdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.