Tragedi berdarah di Kandahar, tentara AS tak peduli kalimat "Kami adalah anak-anak!"

31

Anak-anak Muslim Afghan terbangun di tengah gelapnya malam dengan situasi yang mengerikan, tentara Amerika datang menyerbu desa mereka dengan membawa senjata.

“Dia membunuh lelaki saya,” teriak istri tetangga mereka yang melarikan diri ke rumah mereka dengan menangis. 

Sadiqullah (13), bersembunyi dibalik tirai. Kakak laki-lakinya, Quadratullah, berteriak “Kami adalah anak-anak!,” ia tak berdaya melihat tentara biadab itu menembak saudarinya.

Haji Muhammad Naim, ayah dari keluarga tersebut, melihat tentara Amerika itu,  mendekatinya dan bertanya, “Apa yang anda lakukan?”

Tentara tak berperasaan itu menembaknya dari jarak dekat. “Disini, disini dan disni,” kata Naim bersaksi pada Sabtu pekan lalu, menunjukkan luka di lehernya dan bagian atas dari pinggangnya.

Naim dan putera-puteranya adalah di antara 13 warga Afghan yang memberikan kesaksian dari provinsi Kandahar, Afghanistan, dalam persidangan untuk menimbang bukti terhadap Sersan Robert Bales, yang menjadi pelaku utama penyerangan ke dua desa di Kandahar pada 11 Maret 2012 yang menewaskan belasan warga sipil Afghan, sebagian mengatakan 17, yang sebagian dari mereka adalah anak-anak. Bales bisa menghadapi hukuman mati jika kasusnya diproses ke pengadilan militer.

Para korban dan keluarga mereka dibayang-bayangi ketakutan di rumah Naim di desa Alkozai dan setelah melakukan pembantaian di desa Naim, Bales diduga berpindah ke desa Najiban untuk melakukan pembunuhan lainnya.

Seorang anak perempuan, Robina (7), mengatakan bahwa ia melihat ayahnya ditembak hingga mati tepat di depan matanya, peluru menembus leher dan dada ayahnya. Robina bercerita bahwa ia bersembunyi dibalik Nazar Muhammad dan ditembak di kakinya.

“Saya tidak sadar bahwa Saya ditembak, hingga beberapa saat kemudian,” kata gadis kecil yang memakai kerudung merah itu. Gadis kecil periang itu mengatakan bahwa ia sekarang baik-baik saja, dan menjelaskan bahwa ia butuh waktu berbulan-bulan untuk penyembuhan.

Bales menonton kesaksian warga Afghan pada Jum’at dan Sabtu pekan lalu, melalui sebuah televisi dan laptop di mejanya.

Para saksi juga mengggambarkan tentang penembakan dan peneroran anak-anak di rumah Naim dan adegan mengerikan di desa Najiban di mana mereka menemukan tumpukan mayat yang telah dibakar.

“Ini adalah permintaan saya: Keadilan!,” tegas Mullah Khamal Adin, yang kehilangan 11 anggota keluarga yang dicintainya di Najiban.

Gadis kecil lainnya, Zardana (7), bersaksi pada Sabtu itu, ia mengungkapkan bahwa dirinya hampir saja mati pada malam mencekam itu di rumah Naim setelah kepalanya ditembak oleh tentara kafir itu.

Militer salibis mengirim Zardana dan ayahnya ke sebuah rumah sakit Angkatan Laut di San Diego, di mana ia dirawat hingga sembuh selama tiga bulan. Gadis kecil itu yang mengenakan kerudung ungu itu memberikan kesaksian sambil berjalan pincang, namun bibirnya masih mampu tersenyum.

“Saya tidak akan berbohong,” tegasnya ketika diminta untuk bersumpah.

Beberapa kali, para saksi itu menggambarkan adegan kejam yang dilakukan tentara biadab itu, seperti Rafiullah (14) yang sangat mengingat kejadian kala itu, pada saat tentara Amerika berjalan ke rumahnya di desa Alkozai. Rafullah adalah kakak Zardana.

Tentara itu “datang, ia menodongkan pistol di mulut adik saya dan kemudian nenek saya mulai mencoba melawannya (berjuang melepaskan cucunya),” kata Rafiullah, yang menderita luka tembak di kakinya pada malam itu.

Rasa sakit Rafiullah bertambah dengan melihat neneknya, Nikmarghah, ditembak hingga mati.
 
Sementara Adin (39), ia bukanlah seorang saksi pembantaian itu, tetapi ia turut mengumpulkan jenazah anggota keluarganya ketiga warga desa memanggilnya dan mengatakan kabar menyedihkan tentang apa yang terjadi di rumah sepupunya, Haji Muhammad Wazir.
 
Adin menemukan istri pamannya, Shatara, ditembak hingga mati di pintu masuk.
 
“Ketika Saya mengambilnya, setengah kepalanya jatuh (lepas) dan matanya jatuh ke tanah,” ungkapnya sedih.
 
Setelah itu Adin pindah ke ruangan lain di mana ia menemukan tumpukan tubuh telanjang, tubuh-tubuh yang sudah terbakar. Tujuh jasad itu adalah jasad anak-anak yang usianya kurang dari 15 tahun. Dan yang lainnya adalah anak-anak yang kurang dari 5 tahun. Beberapa dari jasad anak-anak kecil itu terdapat bekas injakan sepatu boot di wajah mereka.
 
Selain itu Adin juga menduga bahwa seseorang telah melemparkan Palwasha (2) ke dalam api hidup-hidup.
 
“Mereka semua ditembak di kepala mereka,” kata Adin. “Otak mereka masih berada di bantal-bantal mereka.”
 
Adin bersaksi dengan tabah, ia duduk selama satu jam di kursi saksi dengan memakai pakaian tradisional Afghan.
 
Adin mengatakan bahwa sepupunya, Wazir, sedang pergi ketika malam pembantaian itu. Kemudian, setelah kejadian sadis itu, Wazir membagi-bagikan harta miliknya, ia kehilangan enam anak, ia memilih untuk pergi daripada tetap tinggal di lingkungan keluarganya. Wazir memutuskan untuk pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.
 
Wazir “kehilangan segalanya dan ia tidak pernah kembali ke lingkungan itu lagi,” ujar Adin.
 
Sementara itu kesaksian Naim sangat kuat pada waktu itu, anak-anaknya berbicara lebih tenang. Anak-anak Afghan yang masih polos itu masih bisa tersenyum ketika mereka diambil sumpahnya untuk mengatakan kebenaran.
 
Quadratullah, berhasil melarikan diri pada tragedi berdarah di malam itu, namun ia melihat nenek Rafiullah ditembak hingga meregang nyawa.

Quadratullah telah berusaha mengatakan kepada tentara Amerika itu bahwa mereka hanyalah anak-anak. Tetapi tentara kafir itu benar-benar buta dan tidak memahami makna “anak-anak.”

“Kami tetap mengatakan, ‘Kami adalah anak-anak, kami adalah anak-anak,'” kenangnya. “Kemudian dia menembak, dia menembak salah satu dari anak-anak ini.”

Quadratullah yang berbicara lebih percaya diri daripada adiknya itu, memberanikan diri mengambil motor tetangganya setelah serangan itu untuk pergi kepada kakaknya untuk memberitahu tentang tragedi itu di rumah ayahnya.

Kakaknya, Faizullah, mengumpulkan lima korban warga desa yang terluka dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat untuk perawatan medis.

Pada pagi harinya, Quadaratullah menemukan jejak-jejak kaki yang ia duga milik tentara Amerika yang menyerang rumahnya itu. “Itu (jejak kaki) menunjukkan jalan kembali ke sebuah pos Amerika,” katanya. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.