Berita Dunia Islam Terdepan

Muslim Eropa berharap dapat bergabung dengan para Mujahid di Suriah, meningkatkan kekhawatiran di kalangan pejabat keamanan Eropa

15

PARIS (Arrahmah.com) – Pada minggu lalu, Muslim dari Inggris dan Perancis ditahan karena mencoba untuk bergabung dengan perang melawan rezim Suriah.

Bagi pejabat keamanan, ketakutan mereka adalah bahwa Muslim dengan paspor Eropa yang telah dilatih untuk berperang dan mengambil pelajaran di Suriah akan menggunakannya saat mereka kembali ke rumah.  Di Perancis, di mana “ekstrimis” Islam dilatih di Pakistan telah menyerang sebuah sekolah Yahudi dan sekelompok tentara di awal tahun ini, rasa takut mereka kini kian akut.

Pemerintah Perancis telah menahan delapan orang termasuk seorang yang ditangkap di akhir pekan lalu, mengklaim kelompok tersebut sebagai jaringan Islam “radikal” yang bertekad menargetkan kelompok-kelompok Yahudi di dalam rumah dan melakukan pertempuran di luar negeri.  Mereka mengatakan kelompok tersebut memiliki granat dan struktur untuk berperang di Suriah bersama dengan para pejuang Suriah.

“Para musuh akan membutuhkan kewaspadaan dan tekad yang besar,” ujar pejabat tinggi Perancis, Manuel Valls. “Kami tahu bahwa mungkin ada beberapa yang tidak tertangkap dan mungkin telah pergi ke luar negeri untuk berperang.”

Para pejabat keamanan di seluruh dunia telah menyaksikan Musim Semi Arab dengan sangat hati-hati.  Mereka takut bahwa warga negara yang bergabung dengan pertempuran bisa pulang dengan kemampuan baru untuk melakukan perang gerilya.  Pejabat Eropa memiliki perhatian khusus : “Ini adalah penerbangan singkat dari Timur Tengah dan perbatasan di Uni Eropa, terbuka bagi siapa saja yang memiliki paspor Uni Eropa atau identitas nasional, membuat perjalanan sederhana yang tidak terdeteksi.”

“Kami telah menjaga mata untuk tidak tertutup melihat siapa saja yang akan ke Suriah, tapi tidak seperti Libya, ada beberapa cara pergi ke negara itu dan tidak mudah untuk dilacak,” ujar seorang pejabat keamanan Eropa yang tidak ingin disebutkan namanya.  “Namun kami khawatir jika mereka kembali datang dengan membawa keterampilan baru yang bisa menghadirkan ancaman bagi keamanan kami.”

Ini adalah isu yang sensitif dan kompleks, ujar para pejabat intelijen Eropa.  Ada bukti bahwa orang asing ikut bergabung dengan perang melawan rezim Suriah walaupun jumlah mereka tidak diketahui dengan pasti.

Pemberontak Suriah mengecilkan dampak pendatang baru pada perjuangan untuk menggulingkan Assad.  George Sabra, juru bicara Dewan Nasional Suriah, menegaskan pekan lalu bahwa pejuang asing yang hadir di Suriah tidak akan bermasalah dalam jangka panjang untuk Suriah.  “Mereka mengatakan mereka datang untuk membantu rakyat Suriah dan mereka akan kembali ke rumah lagi.”

Inilah yang membuat para pejabat keamanan Eropa takut. Namun seorang mantan pejuang yang pernah berperang dan kini bekerja untuk organisasi yang berbasis di London, Quillium Foundation, mengungkapkan pandangannya.  Ia menilai yang ditakutkan adalah jika mereka tersentuh oleh Al Qaeda.

Dia mengatakan pejuang yang kembali ke Eropa dan tempat lain akan datang kembali dan siap untuk berperang tanpa kontak yang jelas.

“Proses ‘radikalisasi’ telah dimulai di Suriah,” ujarnya.  “Jika elemen Al Qaeda tidak memanfaatkan ini di Suriah, mereka akan melakukannya di mana saja yang mereka bisa.  Kita telah melihat ini sebelumnya dengan Chechnya dan tempat lainnya.”

Sebelum Suriah, perang Irak telah menarik pejuang asing termasuk lima orang warga Perancis asal Arika Utara yang dihukum karena menjalankan jaringan untuk menyalurkan Muslim Perancis untuk memerangi tentara Amerika.

Di London, polisi menangkap dua warga Inggris di Band”teroris”.

Inggris adalah rumah bagi populasi Muslim yang cukup besar.  Ketakutan bahwa Muslim Iggris mungkin pergi ke Suriah untuk bergabung dengan Al Qaeda telah meningkat pada Agustus lalu ketika seorang fotografer, John Cantile mengklaim dia telah disandera oleh sebuah kelompok di Suriah dan seorang pria diidentifikasi memiliki aksen Inggris.

Perancis sebenarnya adalah pendukung kuat pihak oposisi Suriah.  Pemerintah Perancis telah memberikan jutaan bantuan, pasokan non-mematikan, namun Presiden Perancis, Francois Hollande mengatakan tidak akan memasok senjata.  Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi minggu lalu, ia mengatakan : “Ketika Ada memasok senjata, Anda tidak pernah tahu di mana mereka akan berakhir.”

Perancis juga telah membuat hukum yang melarang warganya untuk mengikuti pelatihan di luar negeri.  Menteri Dalam Negeri Perancs, Valls telah berbicara pasca penangkapan warga Perancis yang akan pergi ke Suriah : “Ancaman ‘teroris’ telah bermutasi.” (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...