Berita Dunia Islam Terdepan

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tanggapi surat balasan pemerintah Myanmar

10

JAKARTA (Arrahmah.com) – Amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) ustadz Abu Bakar Ba’asyir menyampaikan tanggapannya tentang balasan surat dari Kedubes Myanmar, tanggapan tersebut ia sampaikan ditengah kunjungan dari tamu-tamunya di rumah tahanan bareskrim Mabes Polri.

“Silahkan para ulama’/tokoh ummat Islam/ummat Islam menanggapi surat ini. Saya melihat ada ketidak benaran dalam surat ini. kumpulkan bukti-buktinya dan supaya ada tanggapan dan tindak lanjut kepada pemerintah Myanmar,” ujar ustadz Ba’asyir pada hari selasa kemarin (28/8/2012), Jakarta seperti dilansir akun facebook ustadz Hasyim Abdullah.

Dalam kesempatan itu ustadz Abu, begitu sapaan akrabnya, dibesuk oleh istrunya Ummi ‘Aisyah, anggota tim TAABB/TPM (Tim Pembela Muslim). Diantaranya Mahendradatta, MH., Ahmad Michdan, SH., Luthfi Hakim, SH., Munarman, SH., Hariadi Nasution, MH..

“Serta ustadz Al-Khathath, ustadz Sonhadi, dan ikhwan-ikhwan dari Pamulang, Bekasi, Jakarta,” ujar ustadz Hasyim.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengirimkan surat kepada pemerintah Myanmar atas terjadinya genosida muslim Rohingya di Arakan.

Dalam Surat tersebut ustadz Abu mengecam genosida muslim Myanmar dan meminta pemerintah Myanmar untuk menghentikan kezhaliman dan diskriminasi atas muslim Rohingya.

Adapun isi surat balasan dari keduabes Myanmar setelah diterjemahkan selengkapnya sebagai berikut .

Bapak Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.
Rumah tahanan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Jakarta.
Perihal : Situasi di Negara Bagian Rakhine.

Yang Terhormat.

Atas nama Duta Besar Republik Persatuan Myanmar, Saya mendapat kehormatan untuk menerima surat anda pada tanggal.22 juli 2012 yang ditujukan kepada H.E.U Thein sein. Presiden Republik Persatuan Myanmar
dan ingin memberitahu bahwa hal tersebut akan dikirim sesuai dengan tujuannya.

Kami memahami perasaan dan keperdulian anda atas peristiwa yang belakangan ini terjadi di Rakhine, Myanmar yang disebabkan oleh berita berita yang berlebihan dan dibuat buat maupun informasi yang diterima dari pihak pihak yang berbeda dan dari berbagai sumber media. Walupun hal ini terlihat seperti konflik antara dua agama seperti yang digambarkan oleh beberapa sumber, yang sesungguhnya tidak benar.

Presiden Republik Indonesia. Dr.Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan dengan benar dalam konferensi persnya pada hari sabtu 4 agustus 2012 bahwa konflik Rakhine – Rohingya adalah konflik umum, bukan agama. “Kebetulan suku Rohingya adalah muslim dan suku Rakhine beragama buddha”.

Dalam hubungan ini, Kami ingin meyakinkan anda bahwa peristiwa yang ahìr ahìr ini terjadi di negara bagian Rakhine bukan disebabkan oleh penindasan agama ataupun diskriminasi. Itu hanya konflik Komunal/umum.

Sejak awal kekerasan, pemerintah telah mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk segera memulihkan stabilitas di tempat tempat dimana kerusuhan terjadi di negara bagian Rakhine. 16 anggota Komite investigasi telah dibentuk pada tanggal 6 juni 2012 agar membongkar kebenaran untuk mengambil tindakan hukum terhadap para pelaku kejahatan yang terlibat dalam pelanggaran hukum dan tindakan anarkis dalam peristiwa tersebut. Pada waktu yang bersamaan, pemerintah mengambil tindakan berdasarkan undang undang yang berlaku untuk memastikan supaya fenomena tersebut tidak terulang kembali.

Pemerintah juga bekerjasama penuh dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat, partai politik dan organisasi sosial untuk mengatasi isu isu tersebut.

Demikian pula, pemerintah telah bekerjasama dengan instansi Perserikatan Bangsa bangsa dan INGO (Organisasi Non Pemerintahan Internasional) untuk bantuan, rehabilitasi dan rekostruksi untuk para korban dari kedua komunitas dengan cara yang non diskriminatif dan transparan.

Kami juga akan meneruskan kepada anda salinan dari siaran pers yang dikeluarkan pada tanggal 30 juli 2012 oleh kementrian luar negeri Myanmar kepada negara bagian Rakhine untuk anda baca teliti dengan jelas.

Atas pengertian dan dukungan terhadap proses rekonsiliasi Myanmar dalam masalah ini, Kami ucapkan terimakasìh.

Hormat Kami.

Pyi Soe

Duta Besar.

(bilal/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...