Berita Dunia Islam Terdepan

Armada kapal perang Cina menyeberangi Terusan Suez dengan izin Mesir guna membantu rezim Suriah memerangi mujahidin Islam

11

KAIRO (Arrahmah.com) – Sumber-sumber di Badan Terusan Suez menyatakan pada Ahad (29/7/2012) bahwa pihak Administrasi Terusan Suez telah mengizinkan penyeberangan 3 kapal perang Cina melalui Terusan Suez menuju Laut Mediterania dalam perjalanan ke pantai-pantai Suriah.

Sumber-sumber itu menyatakan bahwa dua kapal perusak Cina dan sebuah kapal Fregat Cina telah menyeberangi Terusan Suez dalam perjalanan menuju Laut Mediterania. Dua kapal perusak dan sebuah kapal pengawal itu merupakan armada kapal perang Cina yang pertama dikirimkan Cina secara resmi untuk membantu rezim Nushairiyah Suriah memadamkan revolusi rakyat muslim sunni Suriah.

Sumber-sumber itu merinci bahwa armada kapal perang Cina tersebut terdiri dari kapal Destroyer Quing B133 berbobot 4 ribu ton, kapal Destroyer Noauio 83 berbobot 4 ribu ton dan kapal Fregat Waishanhu 878 berbobot 11 ribu ton. Ketiga kapal perang Cina itu melintasi Terusan Suez dengan proses pengamanan sangat ketat dari Departemen Pertahanan Mesir.

Pihak Administrasi Terusan Suez mempersilahkan kepada tiga kapal perang Cina itu untuk melintasi Terusan Suez setelah Departemen Pertahanan Mesir memberikan izin. Izin pelintasan kapal perang di Terusan Suez dimiliki oleh Departemen Pertahanan Mesir dan Administrasi Terusan Suez ‘sekedar’ melaksanakan izin tersebut. Cina juga mendapat izin dari Departemen Pertahanan Mesir untuk melintaskan 12 armada perangnya melalui Terusan Suez.

Pihak Administrasi Terusan Suez berkilah dengan menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki hak apapun untuk melarang kapal dagang atau kapal perang melintasi Terusan Suez, karena terikat dengan Kesepakatan Internasional di Konstantinopel yang mengatur pelayaran di Terusan Suez.

Sikap Departemen Pertahanan Mesir yang memberikan izin bagi pelintasan kapal perang Cina melalui Terusan Suez menuju Laut Mediterania ini adalah sebuah pukulan telak bagi kaum muslimin Suriah dan presiden baru Mesir, Muhammad Mursi.

Beberapa hari setelah dilantik, Mursi menegaskan pemerintah Mesir berdiri di samping revolusi rakyat Suriah dan tidak mengakui legalitas pemerintahan Bashar Asad. Penegasan Mursi itu kini seolah menjadi retorika politik belaka yang didustakan oleh realita.

Dunia Internasional mengetahui bahwa Cina dan Rusia merupakan sekutu utama rezim Nushairiyah Suriah. Kedua negara besar itu menggunakan hak vetonya di DK PBB untuk menjegal setiap sanksi yang akan dijatuhkan terhadap rezim jagal Suriah. Bisa dipastikan kapal-kapal perang Cina berlayar ke pantai-pantai Suriah untuk memperkuat rezim Suriah dalam membantai rakyat sipil muslim sunni dan memberangus jihad mujahidin Islam dan Tentara Kebebasan Suriah. Pasca serangan bom syahid di Damaskus yang menewaskan pejabat-pejabat tinggi rezim Suriah, posisi Bashar Asad semakin melemah.

Kapal-kapal perang Rusia, Cina dan Iran di pelabuhan-pelabuhan Suriah mengangkur ratusan pesawat tempur, helikopter militer, tank-tank dan pasukan berkekuatan sekitar 90 ribu prajurit. Kekuatan militer sedemikian besar itu merupakan sebuah aliansi musyrik Syiah Iran, Konghucu Cina dan komunis Rusia-Cina. Sebuah aliansi musyrikin-komunis internasional untuk memerangi mujahidin Islam di Suriah yang tak kalah besarnya dengan aliansi zionis-salibis internasional di Irak dan Afghanistan.

Departemen Pertahanan Mesir bukan kali ini saja mengizinkan kapal-kapal perang negara asing untuk melintasi Terusan Suez. Sebelumnya armada kapal perang Iran diizinkan melintasi Terusan Suez untuk mendukung rezim Suriah. Kapal-kapal perang Amerika Serikat juga diizinkan untuk melintasi Terusan Sues dalam pelayaran menuju Laut Merah, Samudra Hindia dan Teluk Persia untuk memerangi mujahidin di Yaman, Irak dan Afghanistan.

(muhib almajdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...