Berita Dunia Islam Terdepan

Ustadz Bahctiar Natsir : Persoalan Suriah merupakan perspektif Al Malhamah Kubro

3

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pergolakan yang terjadi dinegeri Syam termasuk Suriah tidak hanya dilihat dari perspektif politik saja dan terjebak kekuatan politik apa yang berada dibalik konflik tersebut. Tetapi, perlu dikaji melalui pendekatan Islam dan keimanan. Hal itu bisa dilakukan dengan mengkaji hadits-hadits akhir zaman agar kita tidak tersesat.

“Bahwa perang akhir zaman sudah dimulai. Ini awal dari Al Malhamah Kubro. Jadi, jika kita membaca hadits-hadits ini adalah sebuah keniscayaan di luar dugaan masyarakat Suriah maupun pemimpinnya sebagai pekaku,” kata pimpinan Arrahman Qur’an Learning Centre (AQL), Ustadz Bachtiar Natsir kepada arrahmah.com, Jakarta Rabu, (4/7).

Syam sendiri menurut ustadz Bachtiar, memang mempunyai keistimewaan yang lebih dibanding wilayah-wilayah lain seperti yang digambarkan oleh hadis-hadis fadhilatusy Syam, bahkan Rasulullah sempat mendoakan hingga tiga kali untuk keberkahan negeri Syam.

“Penduduk Syam sejak dahulu termasuk yang banyak menopang dakwah Rasululullah SAW dari sisi kedermawanan, mereka orang-orang yang tersembunyi kekayaannya dan kekuatannya. Oleh karena itu ujiannya juga sangat besar, sepert sosialismenya,” jelasnya.

Berdasarkan hadits-hadits akhir zaman, maka peristiwa Al Malhamah Kubro akan terjadi di wilayah Syam, yang kini masuk teritori Suriah, Palestina, Lebanon, dan Yordania. Suriah kemudian menjadi karena di situlah tempat Isa Al Masih akan turun memerangi Dajjal.

“Persisnya di Mesjid Ummayah di Damaskus. Tanah di sekeliling mesjid itu kini sudah dibeli Yahudi,” terang Sekjen MIUMI ini yang sempat mengunjungi Masjid tersebut.

Karena itu, Ustadz Bachtiar menghimbau,  umat Islam harus melakukan orientasi medan akhir zaman.

“Kita harus tahu di mana Imam Mahdi dan Nabi Isa turun. Bagaimana juga keyakinan Nasrani dan Yahudi tentang akhir zaman. Agar simbol dan kenyataan di lapangan dapat kita korelasikan secara cerdas,” ungkapnya.

Karena menurutnya, kajian-kajian fenomena akhir zaman  masih bersifat parsial.”Yang mengandalkan kajian berdasarkan hadis saja terbatas informasi lapangannya, yang mengkaji lapangan tersesat informasinya karena tidak mengikuti hadis. Jadi, perlu kedua-duanya,” ujar ketua Spirit of AL Aqsha iini.

Nubuwah dan informasi mengenai pergolakan akhir zaman ini harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. “Mungkin anak dan cucu kita nanti yang akan hidup puncak akhir zaman. Jadi mereka harus diberitahu sebelum terjadi Al Malhamah Kubro karena puncak peperangan akan terjadi disitu,” pesannya.

Alur peristiwa akhir zaman sendiri terjadi dimulai dari hancurnya Irak akibat pertarungan dari dua saudara kandung memperebutkan emas di sungai Eufrat.

“Dari situ pertarungan berlanjut sampai nanti megkerucut antara penyembah Allah dengan penyembah setan,” tambahnya.

Senada dengan Islam, kelompok gereja pun menyebut akhir zaman dengan Armageddon (huru-hara akhir zaman). Bahkan kini di sebagian kalangan fundamentalis Kristen dan Yahudi sudah ada yang mengambil langkah berdasarkan kitab Suci.

“Mereka sudah membeli kuda-kuda terbaik, karena pertarungan akhir zaman kembali dilakukan dengan pedang,” tuturnya yang pernah mengunjungi Hebron.

Sambung Ustadz Bachtiar, umat Islam seharusnya tidak boleh kalah oleh Yahudi dalam membaca peta akhir zaman yang sangat terpandu oleh nushush (nash-nash), “Mereka mengkaji akhir zaman dengan kitab-kitabnya, sedangkan Umat Islam belum seperti itu,” tandasnya. (bilal/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...