Berita Dunia Islam Terdepan

Kandidat presiden dari rezim Mubarak serang rivalnya dari Ikhwanul Muslimin

1

KAIRO (Arrahmah.com) – Seorang calon presiden Mesir, yang merupakan perdana menteri terakhir di rezim yang digulingkan oleh revolusi rakyat tahun lalu, mengecam saingannya dari kubu Ikhawanul Muslimin, Minggu (3/6/2012). Ia mengatakan bahwa lawannya dan kelompok fundamentalis yang mendukungnya akan memonopoli kekuasaan dan membawa Mesir kembali ke “zaman kegelapan”.

AP melansir bahwa ini adalah tanda Ahmed Shafiq, mantan perdana menteri, dan Mohammed Morsi, dari Ikhwanul Muslimin, berubah menjadi kontes menakut-nakuti para pemilih saingannya.

“Saya mewakili negara sipil,” kata Shafiq dalam konferensi pers. “Ikhwan mewakili kegelapan dan kerahasiaan. Tidak ada yang tahu siapa mereka atau apa yang mereka lakukan. Saya mewakili dialog dan toleransi.”

“Mereka ingin memonopoli kekuasaan,” katanya.
“Mereka tidak ingin membawa kita ke 30 tahun yang lalu, tapi justru kembali ke zaman kegelapan,” lanjutnya.

Sementara itu, beberapa hari lalu, tepatnya pada Sabtu malam (2/6), Morsi pergi ke Tahrir Square untuk menunjukkan solidaritas dengan pengunjuk rasa dan menjadwalkan pertemuan Minggu malam (3/6) dengan keluarga dari beberapa korban yang tewas. Dia juga berjanji untuk mengadili kembali Mubarak, anak-anaknya, dan para pembantunya, serta berjanji untuk tidak berhenti sampai para demonstran yang mati terbalaskan.

Shafiq mempertanyakan apakah Morsi akan menjadi presiden yang sebenarnya, atau hanya bidak catur bagi Ikhwan.

“Apakah presiden Mesir menjadi orang yang terpilih, atau akan ada satu lagi di belakang layar?” Shafiq bertanya.

Ia berusaha untuk menepis tuduhan bahwa ia adalah perpanjangan dari rezim Mubarak yang digulingkan.

“Bagaimana jika anda menyanjung menggoda (minoritas Kristen) Koptik di konferensi berita, sementara pada saat yang sama anda kemudian melecehkan mereka di rumah dan di tempat-tempat bisnis mereka?” tanyanya.

Shafiq berbicara sehari setelah mentornya, Mubarak, dan mantan kepala keamanan Habib el-Adly dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena gagal menghentikan pembunuhan sekitar 900 demonstran selama pemberontakan 18-hari tahun lalu. Mubarak, kedua putranya, dan seorang kerabat keluarga dibebaskan dari tuduhan korupsi, dan enam komandan penting polisi juga dibersihkan dari keterlibatan dalam pembunuhan para pengunjuk rasa. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...