Berita Dunia Islam Terdepan

Innalillahi, 10 Muslim Myanmar dibunuh oleh orang etnis Buddha Arakan

19

MYANMAR (Arrahmah.com) – Etnis buddha Arakan, atau juga dikenal sebagai Rakhine, membunuh 10 Muslim Myanmar dengan biadab pada Ahad (3/6/2012) dalam sebuah serangan karena sentimen sektarian.

Pada saat sekelompok Muslim Myanmar tengah melakukan perjalanan pulang ke Yangon dari negara bagian Arakan dengan sebuah bis, tiba-tiba di Taung-kout, sebuah kota kecil, etnis lokal Arakan mengentikan bis tersebut dengan paksa dan menyerang kaum Muslimin yang berada di dalamnya. 

Menurut rincian yang dilansir oleh forum Ansar A-Mujahidin, delapan dari Muslim yang berada di bis itu diseret dari bis dan dipukuli hingga mereka menemui ajalnya. Massa Rakhine yang tampak haus darah Muslim itu juga tidak meninggalkan supir bis dalam keadaan selamat, mereka membunuhnya. Sementara satunya lagi tidak diketahui bagaimana cara ia dibunuh –  Innalillahi wa innailaihi roji’uun.

“Di pos pemeriksaan imigrasi, kendaraan diberhentikan. Massa 300 orang dengan sepeda motor memegang balok dan pisau memblokir dan berteriak ‘Pergi dan hadapi akhir hidup kalian, jika disana ada Kalas (istilah yang biasa digunakan oleh orang Buddha terhadap Muslim Myanmar)’,” pemilik jasa perjalanan menjelaskan, ketika dihubungi melalui telepon.

“Seorang pria yang bertanggungjawab dari bis itu turun dan berusaha untuk membujuk sementara pintu bis ditutup. Dia didorong dengan keras oleh massa itu dan mereka masuk ke dalam bis. Ketika menemukan beberapa Muslim, meneriakkan ‘Ini adalah Kalas, disini mereka’ dan mulai memukuli mereka dengan balok. Dan kemudian menyeret para korban dan membunuh mereka dalam waktu yang sangat singkat,” tambahnya.

Serangan tersebut memiliki latar belakang sejarah panjang, yang semata-mata terkait sentimen etnis Rakhine yang telah melakukan kampanye rasis yang sangat aneh terhadap etnis Rohingya yang dianggap oleh Rakhine sebagai imigran ilegal atau Bangali.

Kampanye Islamophobia dan Rasisme terhadap Muslim

Kampanye intensif terhadap Muslim Myanmar, dengan istilah yang dikenal sebagai “Kalas”, dimulai sejak November 2011 melalui jejaring sosial Facebook. Ribuan orang Buddha (baik etnis Rakhine atau non-Rakhine) telah menyebarkan pesan-pesan kebencian dalam bahasa yang sangat menghujat Islam dan pemeluknya. Meskipun awalnya mereka tampak menargetkan orang-orang Rohingya saja, namun kemudian mereka langsung menyerang kaum Muslimin Myanmar dan norma-norma Islam.

Kampanye Islamophobia tersebut bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Burma lokal, tetapi juga mereka yang pro-Demokrasi dan para aktivis HAM dibawah perlindungan suaka di AS, Kanada, Eropa, Australia dan Thailand.

Karena kelalaian pemerintah, atas kondisi tersebut, para politisi etnis Rakhine secara terbuka dan dengan keras melawan etnis Rohingya. Oleh karena itu, mereka yang menyebut diri para patriot Buddha, mereka terus menyebarkan informasi kebencian.

Hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhit, jutaan pesan kebencian terhadap Muslim tersebar di Facebook dan e-mail

Muslim minoritas Myanmar telah berusaha menghentikan kampanye Islamophobia dengan mendekati media-media mainstream Burma. Tetapi mereka sepenuhnya dan sengaja menolak untuk membantu, serta tidak memberitakan tentang kekerasan terhadap Muslim. Contohnya, sebagian besar media besar benar-benar diam pada saat penghancuran dua Masjid dan tindakan teroris terhadap rumah-rumah kaum Muslimin di utara dan pusat Burma pada April 2012 lalu.

Selain itu, sebelum pembunuhan pada hari Ahad tersebut, sebuah peristiwa pada (29/5), dikabarkan bawa seorang wanita (26) diperkosa dan dibunuh oleh tiga warga lokal yang diduga Muslim.

Sentimen anti-Muslim meningkat, media lokal Arakan, Narinjara memanfaatkan situasi dengan membuat berita provokatif. Mengaitkan  insiden pemerkosaan-pembunuhan wanita itu dengan agama Islam, sehingga mendorong kemarahan warga lokal. The Irrawaddy, salah satu media paling terkenal di negara tersebut, melaporkan hal yang sama.

Hal tersebut, membuat kampanye provokasi terhadap Muslim menyebar di Facebook. Mempublikasikan berita provokatif yaitu bayaran sebesar 300 USD bagi siapa yang dapat melakukan serangan sex terhadap Muslimah, dan 500 USD bagi siapa yang dapat membunuh Muslimah. (siraaj/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...