Berita Dunia Islam Terdepan

Ciuman massal di muka umum, tak dilarang di Bali

9

DENPASAR (Arrahmah.com) – Bila ditempat lain dianggap pornoaksi, berbeda dengan di Bali. Aksi  cium-ciuman massal antar remaja lawan jenis dianggap sebagai tradisi suci yang harus dilestarikan. Ritual ini dilakukan oleh remaja Bali sehari setelah pelaksanaan catur brata penyepian  di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali ada tirual ciuman massal yang digelar setahun sekali.Ciuman massal itu disebut ritual omed-omedan. Omed-omedan berasal dari kata omed yang artinya tarik. Dengan demikian, omed-omedan berarti tarik-menarik.

Ritual yang sudah dilaksanakan sejak lama dan turun temurun ini biasanya menarik perhatian sebagian besar  warga Denpasar dan wisatawan asing. Ribuan warga rela berdesakan guna menyaksikan bagaimana tradisi tersebut digelar, Sabtu (24/3) sore.

Tarian dan doa mengawali ritual yang melibatkan puluhan pemuda pemudi setempat. Para pemuda lanjut berbaris satu-satu demikian juga pemudi yang berpakaian adat. Posisi mereka akhirnya berhadap-hadapan.

Di barisan depan, seorang pemuda dan pemudi yang dipilih untuk ritual ini diangkat oleh dua orang. Begitu aba-aba dimulai, mereka mendorong dua anak muda itu, bergerak maju hingga akhirnya berciuman.

Namun hanya hitungan detik, sang pemberi aba-aba menyiramkan air pertanda kedua muda mudi itu harus menghentikan ciumannya.

Ritual ini hanya dijalankan muda-mudi dari banjar bersangkutan yang telah ditentukan sebelumnya. Tradisi yang digelar sehari pasca-Nyepi mendapat perhatian masyarakat luas hingga pejabat.

Perihal tradisi aneh dan kontroversial ini diakui tokoh atau Tetua Puri Oka, I Gusti Ngurah Oka Putra, sejatinya ungkapan kegembiraan anak muda di hari ngembak geni.

Warga setempat, ungkapnya, tidak berani meninggalkan tradisi ini sebab konon sempat terjadi pertarungan dua ekor babi yang tidak jelas keberadaan dan siapa pemiliknya.

“Lewat cara spiritual, ada petunjuk bahwa omed-omedan kehendak sesuhunan yang beristana di Pura Banjar dan harap diteruskan oleh warga,” ulas Oka.

Dia melanjutkan, tradisi ini memberi makna penghormatan tehadap leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa.

“Juga memiliki nilai sosial tinggi memupuk rasa kesetiakawanan warga khususnya generasi muda untuk saling memberi dan meminta dalam suka dan duka,” paparnya. (bilal/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...