AS perpanjang sanksi terhadap Libya satu tahun lagi

20

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Presiden AS, Barack Obama, pada hari Kamis lalu (23/2/2012) memperpanjang satu tahun darurat nasional yang memungkinkan semakin lamanya sanksi terhadap Libya, Gedung Putih mengumumkan.

Dalam sebuah surat yang diberikan  pada para pemimpin Kongres, Obama mengatakan ia prihatin dengan ancaman yang sedang menghadang kepentingan AS oleh keluarga almarhum pemimpin rezim Libya, Muammar Gaddafi, dan anggota rezimnya yang digulingkan.

“Kami sedang dalam proses untuk memberikan sanksi yang tepat dalam menanggapi perkembangan di Libya, termasuk jatuhnya Gaddafi dan pemerintahannya,” kata Obama.

“Kami bekerja sama dengan pemerintah baru Libya dan dengan masyarakat internasional untuk secara efektif dan tepat mengurangi pembatasan sanksi,” kata presiden AS.

“Namun, situasi di Libya terus menimbulkan ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.”

Obama menyerukan kondisi “darurat nasional” yang mengizinkan presiden untuk menjatuhkan sanksi pada negara-negara asing.

“Kita perlu melindungi diri dari ancaman dan pengalihan aset atau penyalahgunaan lainnya oleh beberapa anggota keluarga Gaddafi dan pejabat rezim sebelumnya,” katanya.

Pada tanggal 16 Desember Amerika Serikat dan Dewan Keamanan PBB juga menjatuhkan sanksi pada Gaddafi. Menurut Departemen Keuangan AS, lebih dari $ 30 miliar aset Libya dibebaskan.

Pemberontakan berdarah yang dimulai pada bulan Februari 2011 di Libya cepat menyebar di seluruh negara Afrika utara dan berakhir dengan penangkapan dan pembunuhan Gaddafi di kampung halamannya di Sirte pada 20 Oktober lalu.

Gaddafi telah memerintah negeri ini dengan tangan besi selama 42 tahun.

Pekan lalu, pemerintah AS menerapkan sanksi terhadap seorang pria Libya yang dituduh mendukung salah satu putra Gaddafi dalam usahanya untuk kembali berkuasa.

Departemen Keuangan mengatakan pihaknya menargetkan Humaid Abd-al-Salam (46) karena ia bertindak untuk atau atas nama Saadi Gaddafi. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.