Ust. DR. Muinudinillah, M.A.: Seorang Ulama wajib ber-amar ma’ruf nahi mungkar

52

SOLO (Arrahmah.com) – Ditengah issu pembubaran dan badai yang menerpa Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin Habib Rizieq Syihab dari Front Pembela Kesesatan (FPK) yang terdiri dari kalangan Sekuler (Jaringan Islam Liberal), kaum Homoseks, Lesbian, Gerombolan orang-orang yang Anti Islam dan lain sebagainya yang semisal dengan mereka, serta didukung kekuatan Propaganda super canggih sekarang ini, yakni dari media baik etak maupun elektronik.

Ternyata tidak membuat masyarakat dan khususnya para da’i, asatidz serta ulama menjauhi dan memusuhi FPI. Bahkan mereka semakin nyata memberikan dukungan serta pembelaannya kepada FPI yang secara realita menjadi KORBAN dalam kasus yang terjadi di Palangkaraya Kalteng beberapa waktu lalu.

Setelah beberapa tokoh dari berbagai macam elemen islam baik yang ada didalam pemerintahan maupun diluar pemerintahan negeri ini, seperti Ust. Abu Bakar Ba’asyir, KH. Arifin Ilham, Abu Bakar Al Habsy (anggota Komisi III DPR RI), La Ode Ida (wakil ketua DPD RI) dan yang terakhir dukungan serta terbaru dari Daewan Penasehat GP. Anshor Choirul Anam, dan lain-lain… kini dukungan terhadap FPI datang dari para akademisi, salah satunya yaitu Ust. DR. Muibudinillah Bashri, M.A. Dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS Solo) sekaligus Direktur Umum Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Ibnu ‘Abbas Klaten Jawa Tengah.

Hal ini disampaikan Ust. Muin -begitu beliau akrab disapa- dalam acara Kajian dan Bedah Buku “Potret Ulama” Antara yang Konsisten dengan Penjilat, di masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo 19 Februari 2012. Dan pemateri lainnya yaitu Ust Abu Rusydan dari Kudus.

Acara yang diselenggarakan penerbit Jazeera Solo ini dimulai jam 08.30 sampai 11.30 wib serta dihadiri 500an jama’ah putra putri serta tamu Spesial yakni Syeikh Ghoyats Abdul Baaqi, ulama asal Suriah yang pada hari Jum’at 17/2/2012 lalu mengadakan acara Munashoroh untuk Suriah didepan GOR UMS Solo beserta Ust. Muin pula dan FUJAMAS (Forum Ukhuwah Jama’ah Masjid Surakarta) yang beliau pimpin.

Dalam pemaparan yang beliau sampaikan mengenai ciri-ciri serta perbedaan antara Ulama Suu’ (yang buruk dan menyesatkan) dengan Ulama Khoir (yang baik dan lurus/benar), beliau menjelaskan secara singkat bahwa ciri-ciri ulama yang baik dan benar yaitu mereka senantiasa ber-Amar Ma’ruf Nahi Mungkar baik secara fisik maupun lisan mereka.

“Seorang Ulama Warosatul Anbiya’ itu mempunyai karakter Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Baik secara fisik ataupun lisannya, dengan cara menyampaikan kebenaran secara terang-terangan”, Tegas Ust. Muin

Dalam penjabarannya, beliau menjelaskan bahwa Amar Ma’ruf Nahi Mungkar secara fisik dilakukan jika dakwah bil lisan sudah tidak lagi bisa didengar dan diterapkan. Maka tidak ada cara lain lagi dalam mencegah kemungkaran selain dengan cara kekuatan fisik.

Jelas sekali disini tersirat pesan beliau bahwa FPI tidak layak untuk dibubarkan, tapi harus didukung segenap kaum muslimin demi keberlangsungan maslahat dan kebaikan bagi masyarakat serta mencegah azab dari Allah swt. Dan hal ini merupakan peringatan dari beliau, bahwa kita kaum muslimin harus berhati-hati dengan ulama-ulama yang kelihatannya baik, tapi pada hakikatnya merupaka Ulama Suu’ yang membenci, memusuhi dan bahkan mencegah tegaknya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. (Bekti Sejati/KRU FAI/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.