Turki tak sudi NATO berbagi intelijen dengan Israel

14

ANKARA (Arrahmah.com) – Turki tidak akan pernah membiarkan negara ketiga, khususnya Israel, untuk menggunakan informasi intelijen yang diperoleh dengan sistem radar NATO, menteri luar negeri Turki menyatakan, Jumat (17/2/2012).

“Kami tidak akan mengizinkan negara ketiga untuk menggunakan fasilitas NATO. Posisi kami akan lebih tegas terutama terhadap Israel,” kata Ahmet Davutoglu dalam konferensi pers bersama dengan sekjen NATO, Anders Fogh Rasmussen, di Ankara.

Pernyataan itu disampaikan setelah beberapa media melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah melakukan uji coba rudal bersama dengan menggunakan intelijen yang dikumpulkan oleh sistem radar NATO yang berbasis di Turki timur.

Ankara tahun lalu memutuskan untuk menjadi lokasi ditempatkannya radar peringatan dini di sebuah pangkalan militer dekat Malatya sebagai bagian dari pertahanan NATO.

“Ini adalah sistem NATO dan kami menghargai bahwa Turki telah setuju untuk menjadi lokasi bagi salah satu fasilitas kami,” kata Rasmussen.

“Data dibagi dalam aliansi kita di antara sekutu. Ini adalah sistem pertahanan untuk melindungi populasi sekutu NATO,” tambahnya tanpa menyebut Israel, yang bukan anggota NATO.

Hubungan Turki dengan Israel jatuh ke dalam krisis tahun 2010 ketika pasukan Israel menewaskan sembilan orang Turki dalam serangan di sebuah kapal feri milik Turki, Mavi Marmara, yang merupakan bagian dari armada aktivis yang berusaha menembus blokade angkatan laut Israel di Gaza.

Pada tahun 2011, Turki mengusir duta besar Israel dan hubungan militer kedua negara ikut terpengaruh setelah Israel menolak untuk meminta maaf dan memberi kompensasi para korban.

Turki, anggota NATO sejak 1952, telah berulang kali mengatakan sistem rudal aliansi militer salibis Barat itu tidak menargetkan negara tertentu.

“Sistem ini tidak melawan negara manapun,” kata Davutoglu. “Hal ini sepenuhnya untuk tujuan pertahanan.”

Teheran mengecam keputusan Ankara, dan mengatakan akan menciptakan ketegangan dan mengarah pada “konsekuensi yang cukup rumit” atas sikap tersebut. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.