Keji, tentara Zionis patahkan kaki seorang remaja Palestina dan memaksanya untuk berjalan

19

Perlindungan untuk Anak-anak Internasional telah mendokumentasikan penangkapan seorang remaja Palestina, Mahmoud Omar Faqeh (16) dari desa Qattana di barat laut Yerusalem oleh tentara Zionis Israel.  Mereka mengungkapkan bahwa Israel telah melanggar secara langsung standar internasional untuk perlakuan terhadap anak-anak selama penangkapan.

Mahmoud tengah bermain dengan teman-temannya di suatu tempat dekat Tembok Apharteid di desa Beit Sourek ketika mereka diserang oleh tentara Zionis.

“Salah seorang tentara Israel menembakkan peluru karet di kaki saya dan kemudian tentara lainnya menangkap saya dan dua teman saya.  Segera setelah itu mereka menangkap saya, mereka memaksa saya untuk berbaring di tanah.  Mereka memborgol saya.  Mereka mulai memukuli tbuh saya dan kaki saya dengan kaki mereka dan tongkat hitam yang mereka pegang,” ujar Mahmoud.

“Saya meneriakkan rasa sakit di hadapan mereka.  Meskipun saya berteriak, ‘kaki saya patah’, mereka terus memukuli saya selama hampir 15 menit.”

“Setelah itu, mereka membangunkan saya dan menangkap saya.  Karena saya tidak bisa berjalan dengan kaki saya, mereka mulai memukuli saya lagi dan meminta saya untuk berdiri.  Tapi saya tak bisa karena rasa sakit. Mereka mengangkat saya dan memaksa saya untuk berjalan, jadi saya berjalan sedikit, lalu terjatuh lalu dua tentara menyeret saya sampai kami mencapai Tembok Apharteid.  Mereka menempatkan saya di Jalan Ma’bad, dekat tembok tersebut dan mereka mulai menyerang saya lagi sampai kendaraan militer datang dan membawa saya ke pos pemeriksaan terdekat.  Saya pikir itu pos pemeriksaan Beit Aksa, namun karena para tentara menutup mata saya dengan topi wol -yang kupakai, aku tidak bisa melihat apa-apa.”

Remaja malang itu ditahan di pos pemeriksaan selama hampir setengah jam dan terpaksa duduk dengan mata tertutup di tengah hujan, dengan tangan diborgol hingga punggungnya menderita.

Mahmoud mengatakan, “Tentara memindahkannya dari pos pemeriksaan itu ke suatu tempat-saya menangkap namanya selema penyelidikan-itu adalah penjara militer Atarot.  Mereka membuat saya duduk dan saya tidak bisa mengangkat kepala saya, karena setap kali syaa melakukannya, seorang tentara berteriak di dekatku dan itu sangat menyakitkan.”

Pada tengah malam, para prajurit Zionis menginterogasi remaja ini dan dia ditanya tentang alasannya berjalan di dekat Tembok Apharteid.  Interogator mengatakan bahwa remaja itu melemparkan batu pada tentara dan mengalihkan mereka dari melakukan pekerjaan, namun Mahmoud menyangkalnya.

Ketika Mahmoud mengatakan bahwa kakinya terluka, ia diberitahu bahwa tentara akan membawanya ke seorang dokter yang akan membungkus kain kasa di sekitar kaki dan kemudian dia akan dibawa ke penjara.

Setelah satu jam, interogasi berakhir dan Mahmoud dipindahkan ke Penjara Militer Ofer di dekat Ramallah.  Di sana, doker menolak untuk menyentuhnya atau memberinya pengobatan sehingga para prajurit membawanya ke Rumah Sakit Hadassa di Yerusalem, setelah mereka menutup matanya dengan kantong plastik sampah yang tak terpakai.

“Ketika saya tiba di Ofer, para tentara menyeret saya ke klinik penjara dan saya menderita rasa sakit, saya meminta mereka untuk berhenti, namun salah seorang tentara berkata dalam bahasa Arab, “Diam atau kami akan menempatkan Anda dengan anjing!”.

Ia mencapai Rumah Sakit Hadassa pagi harinya setelah ditangkap.  Sejak penangkapannya Mahmoud tidak diberi makan atau menggunakan kamar mandi.

Mahmoud mengatakan, “Di rumah sakit, dua tentara dari Penjaga Perbatasan menemani saya, mereka menyeret saya.  Saya diminta untuk melakukan beberapa tes dan kemudian dokter datang untuk memeriksa kaki saya dan hasil sinar-x menunjukkan bahwa saya memiliki dua tulang yang patah di kaki saya dan dokter membungkusnya dengan gips dan menempatkan saya di salah satu tempat tidur rumah sakit.  Setiap kali saya mencoba untuk tidur, seorang tentara memukuli saya, dan yang lain mengatakan bahwa saya akan mati di sini atau saya akan dipenjara, dan kutukan-kutukan lain dari keduanya.

Keesokan harinya di rumah sakit, para dokter menempatkan gips di kaki kirinya, karena mereka menemukan bahwa itu juga mengalami kerusakan.  Pada saat itu Mahmoud menerima makanan untuk pertama kalinya dan menggunakan kamar mandi dengan bantuan perawat.

Sore harinya Mahmoud dipindahkan ke penjara Ofer disertai tiga tentara termasuk seorang tentara wanita yang memukulnya sebelum ia dipanggil untuk administrasi penjara. Mereka juga memaksanya untuk berjalan sepanjang 30 meter meskipun para tentara laknat itu menyadari bahwa dokter tidak bisa berjalan sampai gips nya mengering.

Mahmoud mengatakan salah seorang tentara memukulnya di dada dengan kuat sedangkan seorang tentara wanita menarik rambutnya dan memaksanya berjalan.

Mahmoud tinggal di sektor Ashbal di penjara Ofer selama 16 hari di mana ia disiksa dengan brutal oleh tentara Zionis Israel.  Selama 16 hari ia menghadapi persidangan selama lima kali dengan menggunakan kursi roda.  Pada persidangan kelima, dia dibebaskan.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.