Berita Dunia Islam Terdepan

Pengamat politik dan Jihad: Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri (2)

7

(Arrahmah.com) – Dalam artikel pertamanya “Pengamat politik dan Jihad: Revolusi Suriah revolusi Islam (1)“, Asadul Jihad ats-Tsani — salah seorang komandan penting dan analis politik mujahidin Al-Qaeda— menjelaskan bahwa revolusi rakyat muslim ahlus sunnah Suriah melawan rezim Nushairiyah Suriah yang mendapat dukungan negara Syiah Imamiyah Iran dan Lebanon adalah revolusi Islam.

Dalam artikel keduanya ini, Asadul Jihad ats-Tsani menjelaskan siapa saja musuh-musuh ekstern revolusi Suriah, bagaimana planning dan konspirasi mereka untuk mengubur hidup-hidup revolusi Suriah, dan sarana apa saja yang mereka pergunakan. Selamat mengikuti analisa berharga beliau.

***

Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat, dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du…

Pembicaraan tentang musuh-musuh revolusi Suriah erat kaitannya dengan pembicaraan tentang musuh-musuh revolusi di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman. Para musuh bangsa-bangsa muslim adalah mereka, yang memiliki nama-nama, sifat-sifat, dan kekuasaan-kekuasaan yang sama. Maka revolusi Suriah wajib mengambil pelajaran dan manfaat dari revolusi-revolusi pendahulunya, serta memahami musuh umat muslim.

 

Pemerintahan dunia Arab dan Barat ingin menggagalkan revolusi-revolusi rakyat dan tidak menginginkan kemerdekaan mereka

Peristiwa yang terjadi di Tunisia dan Mesir telah membalik perhitungan-perhitungan dan planing-planing para musuh bangsa Arab dan Islam. Hal itu telah membuat mereka bersepakat untuk tidak membiarkan hal yang sama terjadi di negara-negara lain, demi mempertahankan kepentingan-kepentingan, kekuasaan-kekuasaan, dan dominasi-dominasi mereka.

Kemerdekaan manusia muslim dianggap sebagai himpitan terbesar bagi para tahgut Barat maupun taghut Timur. Oleh karena itu seluruh gerakan pemerintah-pemerintah Arab dan Barat setelah revolusi Tunisia dan Mesir dicurahkan untuk ‘mendinginkan’ para revolusioner rakyat agar mereka bisa dipecah-belah.

Para penguasa Arab tidak menghendaki reformasi, kecuali saat mereka sudah sangat terjepit oleh sulitnya keadaan selama terjadinya perubahan-perubahan dalam negeri dan perampasan dari luar. Mereka tidak menghendaki reformasi, karena reformasi memberikan kepada rakyat kebebasan yang lebih luas. Kebebasan inilah yang akan menghalangi para taghut untuk melakukan tindakan represif, perbudakan, dan perampokan terhadap hak rakyat.

Oleh karena itu mereka akan membendung dengan keras para revolusioner rakyat —di negara-negara yang telah mengalami revolusi— untuk membekukan hasil-hasil dan tuntutan revolusi mereka, seperti yang kini terjadi di Tunisia dan Mesir. Di negara-negara lain, mereka membendung dengan keras para revolusioner rakyat agar tidak mampu merealisasikan revolusi, atau setidaknya meminimalkan hasilnya, sebagaimana yang kini terjadi di Libya, Yaman, dan Suriah.

Sudah sama-sama disepakati, bahwa secara alami ‘kekebasan itu menular’. Karena khawatir revolusi akan menjalar ke negara-negara lain Arab Saudi, Yordania, Maroko, Aljazair, dan lain-lain; negara-negara tersebut akan melakukan apapun yang mereka mampu demi menunjukkan kepada rakyatnya bahwa jika mereka melakukan revolusi, niscaya revolusi hanya akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan dan bencana, seperti yang terjadi di Libya dan Suriah. Negara-negara tersebut juga ingin kekuatan Barat melihat revolusi-revolusi tersebut sebagai kekacauan yang justru mengganggu kepentingan-kepentingan dan hegemoni Barat sendiri. Dengan begitu, Barat akan semakin menguatkan hubungannya dengan pemerintahan negara-negara lain dan tetap menjalin hubungan dengan pemerintahan yang negaranya tengah dilanda revolusi. Untuk itulah, negara-negara Arab yang lain bekerja keras untuk memberangus revolusi —seperti yang mereka lakukan di Libya, Yaman, dan Suriah— agar mereka tidak mengalami kejatuhan yang sama.

Di sisi lain, negara-negara Barat akan bekerja keras untuk ‘membonsai’ revolusi-revolusi yang terlanjut terjadi, agar tidak melenyapkan kepentingan-kepentingan dan hegemoni Barat. Seandainya sepuluh orang warga Israel, Amerika, atau Inggris terbunuh; niscaya seluruh pemerintahan, organisasi, dan media massa internasional akan bangkit untuk melakukan pembalasan dendam. Adapun jika yang terbantai adalah ribuan umat Islam oleh kebiadaban pemerintahan antek Barat, maka hal itu boleh-boleh saja, terkadang dianjurkan, bahkan dalam kondisi tertentu wajib dilakukan!

 

Revolusi damai Tunisia dan Mesir telah berlalu dan tidak akan terulang

Mayoritas orang berpandangan bahwa demonstrasi-demonstrasi damai di Tunisia dan Mesir yang telah menjatuhkan pemerintahan taghut merupakan jalan pokok yang langkah-langkahnya harus diikuti. Atas dasar itulah mereka lantas membuat pemahaman-pemahaman dan analisa-analisa. Mereka melantur dengan teori-teori yang tidak benar tentang metode yang paling tepat  untuk dilakukan di negara-negara Arab lainnya.

Namun kita melihat realita bertolak belakang dengan teori mereka. Metode demonstrasi damai di Tunisia dan Mesir adalah pengecualian dari sebuah kaedah pokok. Metode tersebut telah meraih angan-angan terjauhnya, dan kini periodenya telah berlalu. Seluruh taghut yang lain di negara-negara Arab dan Barat telah mengambil pelajaran darinya. Sungguh keliru membangun metode di atas sebuah pengecualian dengan meninggalkan kaedah pokok yang dipelihara dengan teguh oleh para taghut negara-negara Arab. Kaedah pokok mereka adalah menindas, memperbudak, dan memperbodoh rakyat, meski untuk itu mereka harus lain melakukan pembantaian sebuah bangsa dan merubah susunan demografi sampai ke akar-akarnya!

Jika saya bersumpah bahwa taghut yang kabur Bin Ali dan taghut yang terlengserkan Husni Laa-Mubarak, seandainya keduanya masih bertahan niscaya keduanya tidak akan pernah mau meninggalkan kursi kekuasaannya, saya percaya sumpah saya tidak keliru. Apa yang dialami oleh dua orang taghut itu adalah pengecualian yang tidak akan terulang lagi. Kaedah pokok para taghut adalah kebiadaban yang mereka tunjukkan di Libya, Yaman, dan Suriah.

 

Kawan-kawan revolusi Suriah di luar negeri

Seluruh bangsa Arab dan muslim mendukung bangsa Suriah. Mujahidin yang sejak lama telah berperang melawan pemerintahan-pemerintahan taghut juga mendukung bangsa Suriah. Amirul mujahidin syaikh Aiman azh-Zhawahiri hafizhahullah telah merilis audio yang indah dan ringkas berisi dukungan kepada bangsa Suriah, dengan judul Izzu asy-Syarqi awwaluhu Dimasyqa’ (Kejayaan Timur berawal dari Damaskus). Para ulama, dai, intelektual, dan pakar indipenden Arab dan Islam juga memberikan dukungan kepada bangsa revolusioner Suriah. Semakin jauh seseorang dari hubungan dengan para pejabat dan penguasa, maka ia semakin tulus dalam mendukung bangsa Suriah. Semakin dekat dan dicintai seseorang oleh penguasa taghut, maka ia semakin merealisasikan tujuan-tujuan pemerintahan taghut.

 

Musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri

Sesungguhnya musuh-musuh utama revolusi Libya dan Yaman di luar negeri merupakan sosok musuh-musuh utama revolusi Suriah di luar negeri. Mereka adalah (pemerintahan) negara-negara Arab, negara-negara Barat, dan Negara-negara non-Barat yang memiliki hegemoni internasional yang ingin menjaga kepentingan-kepentingan dan kebijakan-kebijakan politiknya, apapun bangsanya.

Orang yang mengikuti perkembangan berita hendaknya tidak lupa bahwa musuh-musuh dari luar tersebut memiliki sarana-sara perubahan yang tersembunyi dan besar. Di antaranya sarana diplomasi dan media massa. Juga intervensi secara langsung di bidang logistik dan militer yang sangat mengagumkan, untuk merubah perimbangan kekuatan revolusi dan menyetirnya sesuai kepentingan-kepentingan mereka.

Negara-negara Arab dan Barat bersekutu dalam melawan revolusi, dan dalam prakteknya mereka satu sama lain saling berintervensi. Api peperangan secara tersembunyi tengah membara. Barisan pemerintahan yang sedang mengalami revolusi —seperi Libya, Yaman, dan Suriah—, didukung oleh pemerintahan negara-negara Arab lainnya dan negara-negara Barat. Mereka semua berdiri dalam satu barisan melawan rakyat yang melakukan revolusi di Negara-negara tersebut, dengan cara-cara yang penu tipu daya. Dalam sebagian keadaan, mereka tidak memihak kepada salah satu pihak yang ‘bertikai’, sesuai dengan perintah yang diberikan oleh musuh-musuh umat Islam, demi membuat senang musuh-musuh lslam.

 

Target-target musuh-musuh revolusi Suriah di luar negeri

  1. Pemerintahan negara-negara Arab. Saya bisa menyerupakan bahwa pemerintahan negara-negara Arab melihat revolusi bangsa-bangsa Arab bagaikan permainan kursi roda.
  2. Negara-negara Barat dan negara-negara imperialis modern non-Barat. Mereka memandang revolusi bangsa-bangsa Arab dan kemerdekaan seorang muslim sebagai sebuah ‘perasan’ (penyaringan). Mereka belum mengetahui antek-antek, kepentingan-kepentingan, dan hegemoni-hegemoni mereka manakah yang akan selamat atau binasa? Oleh karena itu mereka berusaha untuk memperlemah semua pihak (pemerintahan rezim Arab maupun revolusioner rakyat) agar mereka bisa melakukan intervensi baru di negara-negara tersebut. Oleh karenanya, mereka tidak akan menunda-nunda dalam memerangi revolusi dan menyelewengkan tujuan-tujuannya.

 

Contoh intervensi musuh dari luar dalam revolusi Yaman

Saya menganggap ‘kabut tersembunyi’ yang diperankan oleh media massa —yang dibelakangnya bercokol lembaga-lembaga riset dan para pakar spesialis di bidang psikologi dan sosiologi— tidak tertandingi oleh pengaruh apapun, tidak juga bombardir dengan bom dan rudal. Para ahli pun jarang mengetahui tujuan-tujuan tersembunyi dan kebusukan-kebusukannya.

Usaha untuk ‘mendinginkan’ revolusi di Yaman dengan tujuan ‘mencerai-beraikan’ revolusi telah berlangsung. Sebagai contoh, di media massa muncul banyak diskusi dan analisa tentang jalan terbaik dalam melakukan revolusi. Juga diskusi-diskusi yang memfokuskan diri pada akibat-akibat buruk dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam revolusi. Kebanyakannya diuraikan dengan cara yang cerdas dan tersembunyi. Juga diskusi-diskusi dan analisa-analisa tentang kesudahan nasib tahut Yaman dan lain-lain. Laporan-laporan dan berita-berita yang diangkat tentang Yaman terkadang memfokuskan dan membesar-besarkan sebagian elemen dan pemikiran, dengan mengecilkan elemen-elemen dan pemikiran-pemikiran yang lain. Jadi pemberitaan media massa tentang revolusi Yaman berjalan di atas rel yang baku dan telah digariskan sebelumnya untuk mengarahkan masyarakat kepada arah sosiologi yang telah dikaji (oleh lembaga-lembaga kajian antek Barat, edt).

Para taghut Arab dan Barat telah sukses mengulur-ulur waktu sehingga Ali Abdullah Saleh tidak meninggalkan kursi kekuasaannya. Revolusi Yaman telah ‘dibekukan’ dengan sukses sehingga menjadi revolusi yang ‘membosankan’. Pertaruhan antara pihak pemerintahan taghut Yaman dengan para revolusioner kini secara garis besar sebatas pihak mana yang lebih dahulu bosan dan capek, disbanding pihak yang lain!

Seandainya jutaan rakyat tersebut bergabung dengan orang-orang merdeka yang berada di bawah organisasi, Anshar asy-Syari’ah, yang melangsungkan revolusi bersenjata niscaya mereka akan mampu membebaskan wilayah yang sangat luas di Yaman dari cengkeraman taghut Yaman. Niscaya hasil-hasil revolusi tidak akan tertunda sampai batas pencapaian saat ini, sebuah pencapaian yang selain terlambat, juga ‘mendinginkan’ revolusi, mencerai-beraikan tujuan-tujuannya, dan melemahkan semangat rakyat.

Dari sisi lain, ‘pendinginan’ rakyat Yaman telah berperan dalam mencerai-beraikan ikatan sosial mereka dalam beberapa bulan ini secara luas. Banyak pandangan, pendapat, prinsip, dan pokok tujuan rakyat Yaman yang berubah karena berbagai persoalan selama beberapa bulan terakhir ini. Banyak orang yang melalaikan aspek yang sangat penting ini. Aspek inilah yang ‘dikerjai’ oleh para taghut internasional melalui ‘kabut tersembunyi’ media massa mereka. Dampak-dampak positif dari perubahan sosial ini akan memberikan banyak keuntungan bagi pemerintahan taghut-taghut internasional, sementara dampak-dampak negatifnya akan dirasakan oleh rakyat Yaman dan kawasan Yaman untuk jangka waktu yang jauh ke depan. Hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.  

Inilah satu contoh, yang tidak akan saya jelaskan secara panjang lebar,  tentang intervensi-intervensi musuh dari luar untuk mempengaruhi jalan dan hasil revolusi. Cara ini pula yang dipraktekkan terhadap revolusi Suriah, dengan cara yang cerdas dan dikaji sebelumnya.

 

Contoh intervensi musuh luar dalam revolusi Libya

Libya…apa yang kalian pahami dari Libya?

Saya akan menyebutkan dua contoh secara ringkas mengenai intervensi-intervensi musuh dari luar dalam upaya untuk membunuh, menggagalkan, dan mengecilkan hasil revolusi Libya.

1. Negara-negara Arab.

Saya akan mengetengahkannya lewat peranan Liga Arab. Tidak ada yang meragukan pengkhianatan para penguasa Arab atau pemerintahan negara-negara Arab dan keberpihakannya kepada musuh-musuh bangsa Arab dan Islam. Hanya orang yang dipertanyakan kewarasan akal dan keluhuran akhlaknya saja yang meragukan pengkhianatan pemerintahan negara-negara Arab. Kita telah hidup dalam banyak dekade yang pahit, dan kita tidak mendapatkan dari para penguasa tersebut selain ketundukan kepada musuh luar, dan perbudakan serta penindasan terhadap bangsanya sendiri.

Selama dekade-dekade yang telah lewat, kita tidak mendapatkan sikap apapun dari Liga Arab, selain sikap yang sejalan dengan keputusan-keputusan musuh-musuh luar (melalui PBB, IMF, dan lainnya, edt) yang memusuhi umat Arab dan umat Islam. Jika orang tidak berpendapat seperti ini, kami menantang dirinya untuk menghadirkan bukti.

Pemerintahan negara-negara Arab melalui Liga Arab telah sangat dalam menunjukkan persekongkolan dan pengkhianatan, demi memerangi revolusi Libya, merubah tujuan-tujuannya, dan menyerahkannya kepada salibis Barat agar mereka ‘kerjai’ sesuka hati mereka.

Bersamaan dengan dimulainya revolusi Libya, Liga Arab bangkit dari kuburnya dan meluapkan kemarahannya untuk ‘menegaskan’ rezim Qaddafi telah kehilangan legitimasinya! Memangnya rezim Qaddafi memiliki legitimasi?!!! Siapa pula sejatinya yang memberikan legitimasi kepada negara-negara Arab lainnya —jika legitimasi itu ada— sehingga mereka bisa merampasnya dari rezim Libya?!! Bagaimana bisa muncul sikap seperti ini dari Liga Arab? Maha Suci Allah Yang menghidupkan kembali hamba-Nya dari tulang belulang yang telah hancur!

Apa sebenarnya tujuan dari keanehan diulang-ulangnya ‘penegasan’ di awal revolusi Libya bahwa rezim Qaddafi? Sebuah kampanye yang mempergunakan media massa dalam skala besar-besaran untuk melariskan makar ini, yang peranan besarnya dijalankan oleh penguasa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar? Ketiga negara tersebut selalu mendesak Liga Arab sehingga Liga Arab mengeluarkan sebuah ‘surat keputusan’ yang aneh. Namun Liga Arab sama sekali tidak mengeluarkan ‘surat keputusan’ aneh seperti itu terhadap penguasa Yaman atau penguasa Suriah. Bahkan sebelumnya Liga Arab juga tidak mengeluarkan ‘surat keputusan’ seperti itu terhadap pemerintahan Shadam Husain!

Apa tujuan semua itu? Sesungguhnya langkah baru dan pengkhianatan baru yang saat ini dilakukan oleh Liga Arab adalah memberi legitimasi kepada NATO untuk berbuat sekehendak hatinya di Libya tanpa ada intervensi siapa pun.

Aliansi setan NATO memerlukan persetujuan Rusia dan China untuk menelurkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengizinkan intervensi militer di Libya. Rusia dan China tentu akan menolak penanda tanganan resolusi tersebut, karena khawatir kelak akan diperlakukan sama dengan Libya. Rusia melakukan pembantaian massal di kawasan Kaukasus (Chechnya, Dagestan, Ingusethia, edt). China melakukan kebiadaban yang sama di Turkistan Timur (propinsi muslim Sinxiang, edt). Rusia dan China menolak penanda tanganan resolusi karena khawatir pemerintahannya akan diperlakukan sama dengan perlakuan terhadap pemerintahan Libya (yang membantai dan menindas rakyatnya sendiri, edt).

Di sinilah Liga Arab melakukan pengkhianatan. Dengan cara yang tersembunyi (tersamar), Liga Arab meyakinkan bahwa ada perbedaan antara Rusia dan China di satu sisi dengan Libya di sisi lain. Libya telah kehilangan legitimasinya dengan adanya penegasan Liga Arab, padahal pernyataan sikap Liga Arab tersebut tidak selaras dengan hukum internasional sekalipun (hukum kafir yang juga ditaati oleh Liga Arab, edt). Adapun kondisi Rusia dan China berbeda (tidak kehilangan legitimasi, edt), sehingga tidak akan terkena resolusi DK PBB seperti yang dialami oleh Libya. Diplomasi (baca: penipuan dan pengkhianatan, edt) Liga Arab inilah yang menyebabkan Rusia dan China menyetujui intervensi militer di Libya.

Selain itu, Liga Arab juga mengeluarkan surat keputusan yang melarang stasiun TV resmi Libya mempergunakan satelit-satelit Arab. Namun Liga Arab memperkenankan pengunaan satelit-satelit Arab oleh stasiun-stasiun TV Yaman dan Suriah! Ini sungguh sebuah keputusan aneh yang keluar dari peraturan usang Liga Arab sendiri.

Setelah memberikan justifikasi kepada NATO, kita tidak mendengar apapun dari Liga Arab terkait permasalahan Libya!

Kesimpulan ringkas masalah ini, tanpa uraian yang terperinci, sesungguhnya negara-negara Arab yang diwakili oleh Liga Arab akan melaksanakan apapun yang diinginkan oleh para taghut Barat. Pernyataan raja Arab Saudi yang diikuti ‘ekor-ekor’nya pemerintahan Kuwait dan Bahrain beberapa hari yang lalu tentang permasalahan Suriah hanyalah pelaksanaan dari keinginan-keinginan dan arahan-arahan negara-negara Barat yang hendak membunuh revolusi Suriah, minimal memperkecil skalanya, menumbuhkan keputus asaan dalam hati para pelaku revolusi Suriah, dan mengulur-ulur pemerintah Suriah agar melemah, lalu melakukan intervensi langsung.

Jadi seluruh negara Arab tidak menginginkan jatuhnya pemerintahan-pemerintahan yang ada dan tegak pemerintahan-pemerintahan baru yang boleh jadi memiliki kebijakan-kebijakan yang ‘panas’ dan tidak mengkhianati rakyatnya sendiri. Akibatnya wabah itu melanda negara-negera Arab lainnya dan membuat marah tuan-tuan Barat.

2. NATO.

Aliansi setan ini tidak sebodoh penampilan luarnya yang melakukan intervensi di Libya kemudian hendak mundur dari permasalahan Libya. Jika NATO ingin menyelesaikan masalah, ia dengan mudah bisa melenyapkan Qaddafi dan keluarganya dengan satu atau dua rudal. Melakukan itu bukanlah hal yang sulit, mengingat banyak utusan selalu menemui Qaddafi dan mereka bukanlah para pemain catur. Pemerintahan Qaddafi juga tidak seperti organisasi-organisasi jihad yang kematian pemimpinnya tidak berpengaruh terhadap jihad organisasi. Pemerintahan Qaddafi hanyalah pemerintahan duniawi yang celaka. Namun dengan mengulur-ulur, NATO hendak melemehkan semua pihak (yang bertikai di Libya) sehingga NATO leluasa memaksakan tentara, syarat-syarat, dan aturan-aturannya pada waktu yang dikehendakinya dan dengan pihak-pihak yang dikehendakinya.

 

Pelajaran dari dua contoh tersebut

Liga Arab yang merepresentasikan pemerintahan negara-negara Arab tidak menginginkan kebaikan bagi Suriah. Liga Arab bukanlah pemegang keputusan. Liga Arab hanyalah pemerintahan-pemerintahan boneka dan pengkhianat. Seandainya Liga Arab mampu menyelamatkan sebuah bangsa, niscaya ia akan mampu menyelamatkan penduduk muslim Gaza saat menghadapi agresi militer zionis Israil yang terakhir (Desember 2009, edt). Pertemuan Liga Arab belumlah berakhir dengan sempurna karena adanya intervensi-intervensi dari luar terhadap keputusan-keputusan negara-negara Arab.

Ketika pertemuan Liga Arab berakhir, tujuannya adalah ‘mendinginkan’ kemarahan bangsa Arab. Adapun penduduk muslim Gaza sampai hari ini tidak mendapat bantuan apapun yang diumumkan (dijanjikan) dalam pertemuan Liga Arab! Ini adalah permasalahan Gaza yang seluruh manusia di muka bumi mengetahui kejahatan zionis Israel kepada penduduk muslim Gaza. Maka bagaimana lagi dengan pemerintahan Bashar Asad, si pelanduk yang licik, yang kejatuhannya akan menyebabkan ‘neraka’ bagi pemerintahan-pemerintahan Arar yang menindas rakyatnya sendiri?

 

Kesimpulannya

1. Penduduk Suriah janganlah menunggu-nunggu kebaikan apapun para ‘mayat-mayat’ pemerintahan Arab yang hendak menggagalkan revolusinya. Kalian sekali-kali tidak akan bisa membuat para mayat dalam kuburan itu mendengar.

2. Penduduk Suriah janganlah bergantung kepada pemerintahan-pemerintahan Barat yang tidak menginginkan kebaikan bagi mereka. Sebab munculnya bencana-bencana yang melanda umat ini adalah para pemerintahan (pribumi) yang berkuasa dengan dukungan pemerintahan-pemerintahan Barat dengan tujuan memerangi umat Islam. Allah SWT menerangkan sifat mereka dengan firman-Nya:

مَا يَوَدُّ الذّينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الكِتابِ وَلا المُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِنْ خَيْرٍ مِنْ رّبِّكُم

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan pun kepada kalian dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah (2): 105)

3. Catatan penting: Ketika kita membicarakan bahwa pemerintahan negara-negara Arab adalah pemerintahan boneka antek Barat, tidak berarti kita menyatakan pemerintah Turki bukan pemerintahan boneka antek Barat. Pemerintahan Turki tidak berbeda sedikit pun dengan pemerintahan negara-negara Arab. Perbedaannya hanyalah keinginan Turki untuk menjadi penguasa atas pemerintahan negara-negara Arab, yaitu pembesar yang mengajarkan kepada pemerintahan negara-negara Arab prinsip-prinsip ajaran sihir (menipu rakyat, edt).

 

Sarana-sarana pemerintahan negara-negara Arab

1. Media massa.

Sekiranya kita mengambil media massa Arab yang paling bagus sebagai sebuah contoh, maka tanpa diragukan lagi kita akan berbicara tentang stasiun TV Al-Jazeera. Pembicaraan tentang stasiun TV Al-Jazeera dan caranya dalam meliput revolusi sangatlah panjang dan memerlukan sebuah kajian yang lengkap. Stasiun TV Al-Jazeera sebelum terjadinya revolusi Tunisia dan Mesir bukanlah stasiun TV Al-Jazeera setelah terjadinya revolusi Tunisia dan Mesir. Antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat mencolok, yang akan diketahui oleh setiap orang yang cermat mengikuti liputannya.

Dalam artikel ini perlu saya ingatkan bahwa ‘teror media massa’ yang dilakukan oleh pemerintahan Suriah terhadap stasiun TV Al-Jazeera telah memberikan dampak negatif sejak awal dimulainya revolusi Suriah! Bahkan dampaknya merambah ke revolusi-revolusi yang lain seperti revolusi Libya dan Yaman, sehingga cara reportase terhadapnya juga ikut berubah.

Adapun seluruh media massa Arab lainnya, pengaruhnya lebih kecil dari pengaruh stasiun TV Al-Jazeera. Seluruh media massa tersebut memerankan pengkhianatan seperti yang dilakukan oleh pemerintahan-pemerintahan Arab, dengan tujuan mengubur hidup-hidup revolusi. Sikap dan kebijakan seluruh media massa tersebut sama persis dengan sikap dan kebijakan pemerintahan mereka. Media massa tersebut bekerja dengan cara yang samar, keji, dan sama sekali tidak menginginkan kebaikan bagi revolusi-revolusi tersebut.

2. Para ulama dan da’i.

Pemerintahan Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar telah memperalat sebagian ulama dan da’i untuk merealisasikan kepentingan mereka dan kepentingan negara-negara Barat demi membunuh jihad Islam di Irak. Kejadian serupa juga berlaku di Suriah dan negara-negara lain. Beberapa negara lain ikut mengambil peran tersebut, seperti pemerintahan Uni Emirat Arab dan Aljazair. Perlu saya ingatkan bahwa sebagian ulama dan da’i tersebut sampai saat ini memang belum begitu nampak bahayanya (terhadap revolusi, edt). Apa yang kami perkirakan tentang Suriah adalah permasalahan yang lain. Jadi, sebagian ulama dan da’i tersebut belum waktunya diperalat (oleh pemerintahan-pemerintahan boneka Arab antek Barat, edt) untuk memusuhi revolusi Suriah.

Secara umum, setiap kali seorang ulama atau da’i semakin dekat dengan penguasa dan pemerintahan Arab dan interaksi mereka dengan para penguasa tersebut baik, maka ulama atau da’i tersebut akan semakin merealisasikan keinginan-keinginan para penguasa boneka lagi pengkhianat tersebut yang bekerja untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan negara Barat. Negara-negara Barat jelas tidak menginginkan jatuhnya pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut. Negara-negara Barat menginginkan pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut tetap eksis dan rakyatnya tidak meraih ‘kemerdekaan’.  

Adapun setiap kali seorang ulama atau da’i semakin jauh dengan para penguasa boneka tersebut, maka ia akan semakin ikhlash dalam mengarahkan dan membela revolusi. Ulama dan da’i yang paling jauh dari (interaksi dan persekongkolan dengan) para penguasa tersebut adalah para ulama dan da’i dari kalangan mujahidin dan oraang-orang yang diburu oleh pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut. Mereka itulah orang yang lebih tulus dan lebih bertakwa dalam mendukung para revolusioner rakyat.

3. Harta

Ketahuilah, sesungguhnya setiap orang yang memberikan syarat sewaktu menunaikan sedekah dan bantuan, sejatinya ia ingin meraih tujuan pribadi atau tujuan pihak yang mengarahkannya. Berbagai jama’ah Jihad di manapun janganlah menerima sedekah atau bantuan apapun jika disertai syarat melakukan ini dan itu. Masalah ini telah mendatangkan banyak musibah bagi jihad pada masa-masa yang telah lalu. Momen artikel ini bukanlah membicarakan masalah ini secara panjang lebar. Barangkali sampai saat ini permasalahan ini juga belum terjadi di Suriah.

 

Israel

Ketika kita tidak membicarakan Israel dan pengaruhnya terhadap revolusi-revolusi ini, bukan berarti kita melalaikannya. Kami telah membicarakannya saat membahas planning-planing pemerintahan negara-negara Arab dan Barat, semuanya bersekongkol atas perintah zionis internasional.

 

Wahai penduduk Suriah…

Ketahuilah bahwa musuh sejati kalian bukan saja taghut Nushairiyah si Bashar Asad saja. Namun juga pemerintahan negara-negara Arab dan Barat, dengan pasukan infantri dan kavalerinya. Sampai saat ini, kalian mengungguli mereka semua, dengan karunia Allah SWT semata. Neraca kekuatan condong memihak kepada kalian. Dan cukuplah bahwa Allah SWT bersama kalian. Allah-lah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.

Dalam artikel selanjutnya, insya Allah, saya akan menuliskan jalan yang paling baik dan tepat untuk menyukseskan revolusi Syam yang penuh berkah ini, yang seluruh bangsa dan umat Muslim melihat kepadanya dan mendoakannya secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan agar Allah SWT memenangkannya, menerima pengorbanan pelaku-pelakunya, dan membalas mereka dengan balasan yang paling baik dan sempurna. Insya Allah, saya akan menulis bagaimana berinteraksi dengan musuh-musuh intern, baik yang berada di dalam negeri Suriah maupun di luar negeri; di antaranya adalah Iran yang terlibat secara langsung di Suriah.

اللهم منزل الكتاب ،ومُجري السّحاب ، هازم الأحزاب ، اهزم بشّار وزمرته وانصرنا عليهم ..

Ya Allah Yang menurunkan kitab suci, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan koalisi…

Kalahkanlah Bashar Asad dan golongannya…menangkanlah kami atas mereka!”

 

Asadul Jihad ats-Tsani

14 Ramadhan 1432 H / 14 Agustus 2011 M

Bersambung insya Allah….

 

(muhib al-majdi/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...