Berita Dunia Islam Terdepan

Inggris masih berhasrat besar untuk melakukan transaksi jual beli senjata di Libya

2

LONDON (Arrahmah.com) – Pemerintah Inggris sedang berusaha mendapatkan peran besar dalam transaksi senjata yang menguntungkan di Libya meskipun Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo senjata di negara itu, Independent mengungkapkan pada Sabtu (12/11/2011).

Pemerintah Inggris, yang bertekad keras untuk mengamankan kontrak menguntungkan di Libya pasca-Gaddafi, akan mengirim delegasi perdagangan industri pertahanan ke Tripoli pada Februari mendatang, satu tahun setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi 1970 yang juga memberlakukan embargo senjata pada negara yang dilanda perang itu.

Laporan ini muncul saat sejumlah milisi bersenjata secara efektif memegang kendali atas persenjataan di Libya.

Departemen Perdagangan dan Investasi (UKTI), badan pemerintah Inggris yang mempromosikan kepentingan bisnis Inggris di luar negeri, rencananya akan mengatur pertemuan antara pejabat pemerintah Libya dan produsen militer Inggris awal tahun depan, meskipun Libya masih dalam embargo senjata.

Pada bulan Februari 2011, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 1970 yang menyerukan “semua negara anggota” untuk mencegah pasokan ke Libya, baik senjata maupun material terkait, termasuk senjata dan amunisi, kendaraan dan peralatan militer, peralatan paramiliter, suku cadang, baik berupa bantuan teknis, bantuan keuangan atau lainnya.

Keputusan pemerintah Inggris telah menimbulkan kekhawatiran besar di antara pegiat hak asasi manusia yang marah atas penindasan brutal para despot di Timur Tengah yang dilengkapi dan dipersenjatai oleh Barat.

“Pemerintah Inggris mendukung masa depan yang demokratis dan damai bagi Libya, namun pada saat yang sama masih berhasrat besar untuk menjual beli senjata di negara tersebut,” kata Kaye Stearman, dari organisasi yang menamakan dirinya Kampanye Melawan Perdagangan Senjata.

“Mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa malu atas catatan masa lalu mereka, terutama dalam sektor penjualan senjata yang menjadi salah satu penyebab pertumpahan darah di negara-negara Timur Tengah dan tidak ada kemauan untuk berubah,” tambahnya. (althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...